Jalan-Jalan Hijau


Penulis: CS/M-1 - 08 April 2018, 05:00 WIB
img
DOK. MM SUSTAINABILITY

KISAH sukses Wae Rebo, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang sukses memikat 7.000 pelancong pada 2017, tantangan yang dihadapi pebisnis dalam mengelola hotel hijau hingga aneka perilaku turis, dikupas tuntas dalam #Sustainablemeetup yang digelar perdana oleh MM Sustainability Universitas Trisakti, Jakarta, Kamis (22/3) yang diikuti mahasiswa dan pegiat CSR dan pemberdayaan komunitas.

Diskusi bertema Creating sustainable travel and tourism itu menghadirkan Ary Suhandi, Executive Director of the Indonesian Ecotourism Network (Indecon), Ade Afrilian, pendiri Angel Traveler, serta Ade Noerwenda, konsultan perhotelan.

Mbaru niang, bangunan kerucut yang menjadi pemikat utama Wae Rebo, serta pemandangan eksotis nan hijau di sekitarnya, kata Ary, sukses menghadirkan pendapatan bagi warga yang tetap menggeluti pekerjaan awalnya sebagai petani, di samping menyediakan aneka jasa, di antaranya memasak atau menenun.

"Jika tidak dikelola dengan baik, banyak kerugian yang akan ditimbulkan dari pariwisata. Maka, ecotourism jadi solusi, tapi ini butuh investasi dan pemahaman dari aspek masyarakat, secara bertahap dan sistematis."

Kuncinya, kata Ary, masyarakat lokal harus terlibat langsung dan merasakan manfaatnya. "Harus ada managemen dan sistem, ada ibu-ibu yang tugasnya melayani tamu saja, lalu atur juga pedagang kaki lima penjual aksesoris dengan sistem bergilir, penginapan, toilet," kata Ary.

Sementara itu, Ade Noerwenda mengisahkan kiprahnya merintis hotel hijau. Investasi yang digelontorkan terbilang besar, tetapi dengan berbagai penghematan dari berbagai aspek, terutama energi. Kendati begitu, fokus pada industri wisata hijau akan beroleh konsumen yang setia dan berulang.

"Pasarnya mungkin kecil, tapi mereka yang sudah paham atas pilihannya, akan setia. Sebaliknya, bagi yang belum paham, harus diberikan pemahaman, bahkan pada hal-hal yang sederhana, misalnya ketika kami berkebun untuk memasok kebutuhan dapur restoran, potnya dijadikan latar swafoto sembarangan," ujar Ade Noerwenda.

BERITA TERKAIT