Enam Bulan Menuju Pentas Sarat Kritik


Penulis: Fathurrozak Jek - 08 April 2018, 04:00 WIB
img
DOK TEATER SANGGUL

Lima anak muda membawa papan-papan bertuliskan protes, pun bersuara lantang. Tidak lama, beberapa orang berseragam hitam menggeruduk. Satu orang tertangkap, aksi mereka pun terancam gagal.

Perempuan bertopi cokelat, yang tertangkap dua orang berseragam hitam tadi bernama Jingga Senja. Ia pemimpin kelompok pergerakan anak muda yang memprotes buruknya kinerja penguasa. Bersama kawan-kawannya ia memprotes Razani, penguasa yang memegang kendali atas segala peraturan.

Adegan-adegan itu ditampilkan dalam produksi ke-12 Teater Sanggul. Organisasi yang berbasis di Universitas Esa Unggul itu menampilkan kisah perjuangan menuntut perubahan, Jingga, awal April.

Ini adalah karya trilogi naskah Penjara, yang dua kali pentas sebelumnya, juga membahas isu perjuangan atas perubahan.

Namun, jika dibandingkan dengan dua versi sebelumnya, Penjara dan Adigang, Adigung, Adiguna, pentas Jingga digarap dengan pendekatan romantik melankoli sehingga unsur olahrasa lebih ditekankan oleh sang sutradara kepada para aktornya. Adapun dua versi pendahulu Jingga memainkan unsur olah tubuh dengan porsi cukup tinggi, termasuk sajian 'akrobatik'.

Patricia Manasye, salah satu aktris, mengungkapkan perbedaan metode. "Kontras yang saya rasakan selama melakonkan dua pementasan Teater Sanggul adalah metode yang diberikan sutradara kepada para aktor. Semisal, pada pentas Adigang, Adigung, Adiguna, sutradara menitikberatkan pada olah tubuh, sedangkan Jingga menelusuri psikis dan rasa yang dimiliki setiap aktor."

Kolaborasi senior dan pemain baru

Pada pementasan kali ini, sebagai bentuk regenerasi, para pemain yang tampil bukan hanya para senior Teater Sanggul. Total, ada 11 pemain yang terdiri atas kombinasi enam pemain baru dan lima yang pernah mentas. Mereka menjalani proses latihan selama enam bulan.

"Perasaan saya sendiri untuk pementasan pertama ini sungguh menyenangkan. Tampil dilihat banyak orang itu penuh tanggung jawab. Bagaimanapun juga, saya harus bermain semaksimal mungkin agar penonton tidak kecewa dan proses ini tidak sia-sia," ungkap Syafrudin Irawan Wicaksono, pemeran penguasa yang menjadi musuh utama tim Jingga.

Syafrudin tak luput melakukan observasi, salah satunya untuk menemukan karakternya.

Selami ketidakadilan

Delezadi, sang sutradara, meminta para aktor untuk melakukan pencarian terhadap ketimpangan-ketimpangan yang terjadi. "Bagaimana kekuasaan dibuat sebagai alat untuk menindas dan bertindak sewenang-wenang. Apa yang disorot, bukan hanya pada isu ketimpangan, melainkan juga mempersempit ruang gagasan pada dunia pendidikan. Maka dari itu, rasa atau kepekaan aktor dan juga pemikiran lebih diutamakan untuk dipertebal, sehingga para aktor dapat lebih sensitif," ujar Delezadi.

Proses panjang sepadan dengan hasil

Terkait dengan waktu penggarapan yang lama, sutradara yang tergabung dalam Federasi Teater Indonesia (FTI) bentukan budayawan Radhar Panca Dahana ini menyebutkan, dibutuhkan proses yang panjang untuk mengubah kebiasaan para aktor menjadi perilaku para tokoh.

Laras Purwi, pemeran Jingga, sang tokoh utama, mengaku kesulitan mendalami karakter sutradara yang juga sekaligus penulis naskah.

"Kendalanya mempertahankan emosi agar tetap kontinu dari awal sampai akhir, harus membawa kepribadian si tokoh di kehidupan sehari-hari yang menurut saya bertolak belakang dengan kepribadian saya sendiri."

Kendati begitu, Laras mengakui proses pengenalan karakter itu menjadi salah satu penentu kesuksesan aktingnya.

"Mengenal karakter tiap-tiap orang pada saat proses, belajar tanggung jawab untuk memerankan tokoh, ikhlas dalam bermain, ikhlas dalam olah tubuh, belajar berkomitmen dalam menjalankan proses," tutur Wahid Nursaputra, pemeran Jangkrik, yang mencuri perhatian penonton lewat aksi kocaknya.

Bukan hanya berbicara pemahaman atas diri, sekaligus tokoh yang mereka mainkan, teater juga menjadi bahan cerminan penontonnya. "Saat aktor memainkan sebuah naskah, aktor dapat lebih peka dan peduli terhadap sekitarnya. Selain itu, aktor dapat lebih cerdas, kritis, juga lebih disiplin. Itu juga menjadi tujuan saya sebagai penggarap. Selain itu, yang menjadi tujuan utamanya ialah kesewenangan kekuasan khususnya dalam lingkaran kami dapat hilang dan menjadi cermin bagi kami dan penonton," tutup Delezadi. (M-1)

Opini Muda

Laras Purwi, Pemeran Jingga

Mahasiswi Hubungan Masyarakat 2016

Universitas Esa Unggul

Setelah pementasan pertama, rasa ketidakpuasan selalu muncul. Namun, berteater sangat berguna dalam kehidupan sehari-hari, sedikit banyaknya mengubah hal-hal yang negatif dan menambah wawasan. Pola berpikir, bertindak, ataupun menetukan sikap dan mengambil keputusan kami pun makin baik.

Patricia Manasye, Pemeran Radea

Mahasiswi Ekonomi 2016

Kendala terbesar yang saya rasakan ialah bagaimana meniru, menyerupai, dan menjadi sosok lakon yang dipercayakan pada saya.

Bukan sekadar karakter, melainkan juga rasa, emosi, kebiasaan, dan latar belakang dari tokoh tersebut.

Setiap proses akan selalu menyumbang sesuatu yang berguna dalam keseharian. Kami menjadi lebih kritis terhadap isu di sekitar dan menjadi positif untuk orang lain.

Syafrudin Irawan Wicaksono, Pemeran Razani

Mahasiswa Ilmu Komunikasi 2017

Pada akhirnya dari perjuangan proses sampai pementasan, saya mendapatkan suatu kebersamaan, kepedulian, dan rasa kekeluargaan yang kuat. Teater telah mengubah saya menjadi lebih baik dari yang kemarin.

Nurwahid Saputra, Pemeran Jangkrik

Untuk memerankan tokoh pasti perlu observasi. Observasi tokoh yang saya lakukan dengan cara mengimajinasikan tokoh tersebut dengan apa yang saya mau, digabungkan dengan karakter diri sendiri karena tokoh yang saya bawakan sama dengan karakter diri saya, juga menambah gerakan untuk menambah ciri khas tokoh.

BERITA TERKAIT