Mendengarkan Indonesia dengan Cara Berbeda


Penulis: Zuq/M-4 - 01 April 2018, 10:45 WIB
MI/ABDILLAH M MARZUKI
MI/ABDILLAH M MARZUKI

TIGA gamelan berbeda ukuran dijejerkan di atas panggung. Di sampingnya, terlihat beberapa alat musik eletronik yang ditempatkan di atas meja bertutupkan sehelai kain batik.

Terdengar langkah-langkah kaki memasuki panggung. Tiga orang laki-laki berbaju hitam muncul dan memegang alat musik yang berbeda.

Latar multimedia menjadi pengantar untuk masuk dalam pertunjukan musik mereka. Ketika latar panggung mulai menampilkan gambar, musik pun menguar memenuhi ruangan GoetheHaus Jakarta pada 28 Maret 2018.

Mereka mengawali penampilannya dengan berinteraksi dengan alat musik eletronik yang mereka siapkan sebelumnya. Beberapa saat mereka sibuk dengan berbagai panel-panel alat musik berbentuk kotak dengan banyak uliran dan tombol.

Tidak terpaku pada alat musik elektronik di depannya, mereka lalu berpindah posisi. Giliran kendang yang dimainkan langsung. Beberapa kendang memang berbunyi layaknya gamelan, namun satu kendang di belakang punya bunyi yang lain seperti logam yang didentingkan. Begitulah alat musik elektronik dan software berpadu dengan bunyian tradisional.

Ketiga pemuda itu berasal dari kelompok musik Uwalmassa. Mereka terdiri dari Harsya Wahono, Randy M Pradipta, dan Pujangga Rahseta.

Selain itu, masih ada sosok yang membuat pertunjukan malam itu menjadi lebih hidup, yakni Danang Prananda. Ia adalah sosok di balik visual latar yang mengiring musik Uwalmassa.

Malam itu, Uwalmassa tampil di Goethe Institut, Jakarta. Aksi mereka itu termasuk rangkaian program Alur Bunyi Goethe Institut. Di bawah kurator Gerald Situmorang, program itu mempresentasikan komposisi musik eksperimental dari Indonesia dan Jerman.

Uwalmassa dikenal sebagai kelompok musik yang menggabungkan rekaman luar ruangan dan alat musik hidup dalam setiap penampilan mereka. Melalui komposisi nonkonvensional, para pemusik menempatkan tradisi musik tradisional Indonesia ke dalam konteks global untuk diinterpretasi ulang.

Dengan mengaitkan berbagai genre musik dan melalui komposisi yang luar biasa, mereka pun menjelajahi dinamika identitas Indonesia lewat beragam musik tradisional dengan memanfaatkan teknologi informasi dan digital. Sebab menurut mereka teknologi bukan lagi menjadi pilihan.

"Itu bukan pilihan, tetapi keharusan," terang Harsya Wahono, salah satu anggota kelompok Uwalmassa, saat ditemui Media Indonesia, Rabu (28/3) lalu.

Musisi muda kelahiran Jakarta yang membetot perhatian industri musik di Amerika Serikat itu mengatakan, Uwalmassa selalu menampilkan pertunjukan yang berbeda dalam setiap penampilannya. Pasalnya, mereka mendasarkan pertunjukan musik pada improvisasi.

Mereka merespons ruang dan pengunjung lalu menerjemahkannya dalam bentuk musik. Meski demikian, mereka juga memagari pertunjukan mereka dengan pakem musik baku yang dijadikan pegangan setiap penampilan.

"Sebelumnya kita sudah punya fondasi yang kukuh. Jadi ketika tampil hanya tinggal menyesuaikan," tambah Harsya.

Uwalmassa lahir dari DIVISI62, sebuah label musik dan seni elektronis yang mengangkat isu identitas Indonesia dalam konteks global dalam semua produksinya. Uwalmassa pertama kali muncul di kancah publik pada September 2016 dengan dirilisnya Bumi Uthiti, sebuah album mini berisi dua track yang bereksperimen dengan gamelan Jawa dan direkam dalam waktu satu hari.

Pada Maret 2018, DIVISI62 merilis album mini Animisme berisi 4 track, antara lain oleh Uwalmassa. Album itu menjelajahi berbagai kunci nada dan struktur ritmis musik Indonesia yang dipengaruhi dangdut, pencak silat, dan gamelan Sunda.

Selain wara-wiri di Jakarta, Uwalmassa sempat tampil secara live dalam rangka Festival Europalia di Eropa, antara lain di klub malam Berghain di Berlin. Musik mereka biasa disajikan dalam remix dan podcast oleh NTS Radio (London) dan Red Light Radio (Amsterdam).

BERITA TERKAIT