Aplikasi Juara Indonesia


Penulis: Suryani Wandari - 01 April 2018, 04:30 WIB
img
MI/WANDARI

BERBEKAL kamera gawai untuk memotret daun tanamannya yang tengah sakit dan dikirim pada fitur chat di aplikasi Dr Tania, petani bisa mendapatkan diagnosis.

“Layaknya berbincang dengan dokter, para petani akan mendapat penjelasan mengenai gejala penyakit tanaman serta cara penanganannya, lengkap dengan obat yang direkomendasikan,” ucap Naufalino Fadel Hutomo, mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) Naufalino dari tim Taleus, dalam presentasinya di hadapan para juri, Kamis (15/3).

Inovasi keren itu mengemuka pada kompetisi Imagine Cup yang digelar Microsoft yang tahuh ini mengusung tema Code with purpose. Diselenggarakan sejak 2003, lomba ini mengadu gagasan teknologi yang sederhana tetapi bermanfaat besar bagi orang banyak.

5 proyek menarik
Pada Imagine Cup 2018, terdapat 47 tim dari seluruh Indonesia yang mendaftarkan diri di babak pertama via online. Mereka lalu mengadu solusinya hingga ke babak final yang menyisakan lima peserta, di @amerika, Kamis (15/3).

Mereka melakukan presentasi di hadapan lima juri, yaitu technical evangelist, perwakilan Microsoft Indonesia, Fenox Venture Capital, Bukalapak.com, Telkomtelstra, serta Badan Ekonomi Kreatif.

Aneka solusi buat pertanian
Naufalino mengungkapkan alasan mereka membuat Dr Tania. “Karena belum ada yang memanfaatkan teknologi untuk membantu para petani mendiagnosis penyakit tanaman secara efektif,” ujar Naufalina.

Ada pula inovasi dari mahasiswa Indonesia yang menempuh pendidikan di University of Manchester, Inggris, Beehive Drones Agriculture. Proyek sistem drone ini juga berupa aplikasi mobile, lagi-lagi menawarkan solusi di sektor pertanian.

Hilton Tnunay, Chief Technology Officer (CEO) Beehive Drones memaparkan, drone ini mampu melakukan pemantauan lahan pertanian skala besar, seperti kebun sawit, kopi, dan lainnya. Alat ini bisa terbang otomatis ke lokasi. Lahan dipantau 2-3 minggu, dan kondisi tanaman akan dikirimkan melalui e-mail pada pengguna atau via aplikasi. Masalah seperti kekurangan pupuk, indikasi serangan hama, dan sebagai­nya akan bisa dideteksi melalui sensor yang mendiagnosis dari spektrum warna dan temperatur tanah.

Selain buat pertanian, ada pula karya buat para peternak ikan. Ada Fish Gator karya mahasiswa Universitas AMIKOM Yogyakarta yang merupakan platform inkubator ikan kerapu dan udang.

Prinsip kerjanya, memantau kualitas air dan pengelolaan pakan pada kolam inkubasi. Tersedia sensor untuk mengukur tingkat keasaman, kadar garam, kekeruhan, dan suhu. Alat ini pun dilengkapi dengan sistem pengenalan gambar berbasis sensor nafsu makan ikan yang terintegrasi dengan pemberi makan dan perawatan otomatis menggunakan ponsel.

Deteksi teks dan polusi
Tak kalah seru, Viachat dari tim Ratatouille, mahasiswa ITB yang fokus pada pendampingan belajar. “Inovasi ini mampu menganalisis catatan dan menghasilkan pertanyaan untuk mengevaluasi dan membantu menghapal materi pelajaran,” kata Azka dari tim Ratatouille.

Cara kerja Ratatouille, orang yang tengah mempelajari materi tertentu, memotret teks, dan sistem pun akan mengirimkan beberapa pertanyaan. Setiap jawaban benar akan diberikan skor untuk memacu semangat untuk meraih poin.

Ada pula teknologi pemantauan terpadu, proyek Carepol dari Universitas Komputer Indonesia (UNIKOM) Bandung. Inovasi ini memantau tingkat pencemaran udara di wilayah kota dan memetakannya dalam aneka zona sesuai tingkat polutan.

“Alat ini bisa ditempelkan pada kendaraan yang bergerak dari satu tempat ke tempat lain, mendeteksi polusi udara hingga 15 meter. Hasilnya, dapat dilihat melalui maps pada smartphone sehingga menjadi peringatan dini sekaligus rujukan untuk pembuat kebijakan,” kata Ilham, anggota Carepol.

Asia pasifik ke dunia
Seusai presentasi, sang juara pun diumumankan! Kelima juri sepakat Beehive Drones, yang terbaik.

Tim ini sukses mendapatkan Rp10 juta dan mewakili Indonesia pada Imagine Cup 2018 Asia Pacific Finals, di Kuala Lumpur, Malaysia, dan berkompetisi dengan 15 tim lainnya dari Malaysia, Singapura, Thailand, Filipina, Vietnam, Korea, Nepal, dan Sri Lanka. Pemenang tingkat Asia Fasifik akan meraih tiket ke Imagine Cup World Finals 2018 di kantor pusat Microsoft di Seattle, Amerika Serikat, pada Juli mendatang. (M-1)

muda@mediaindonesia.com  

BERITA TERKAIT