Penanganan Luka Diabetes Harus Multidisiplin


Penulis: Pro/H-3 - 26 March 2018, 04:30 WIB
MI/Pius Erlangga
MI/Pius Erlangga

PENANGANAN luka pada penderita diabetes tidak dapat dilakukan dengan hanya melibatlan satu dokter spesialis. Perawatan luka, khususnya yang sudah membusuk dan mengakibatkan jaringan mati, harus dilakukan secara menyeluruh dengan melihat berbagai aspek kemungkinan penyembuhan hingga potensi komplikasi.

"Bila jaringan sudah ada yang mati, tidak bisa hanya ke satu dokter, misalnya ke dokter ahli diabetes saja. Harus ke spesialis lain, mulai spesialis luka hingga vaskular," ujar dokter spesialis luka, Adisaputra Ramadhinara, dalam seminar bertajuk Kenali Gejala Luka dan Solusinya, di Rumah Sakit Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara, Jumat (23/3).

Dokter Adi mengatakan, selama ini luka diabetes kerap terlambat ditangani dengan benar hingga terpaksa pasien harus menjalani amputasi. Padahal, bila ditangani dengan benar, kemungkinan untuk sembuh tanpa amputasi tetap besar. "Jadi, jangan satu-satu mengobatinya, misal luka dulu baru diabetes, tetapi harus bersamaan, kadar gula dikontrol, luka dirawat. Itu harus benar-benar dilakukan," paparnya.

Amputasi, lanjutnya, kadang tidak menyelesaikan masalah secara keseluruhan. Bila kondisi tubuh pasien sudah tidak prima, potensi kesembuhan atau kembalinya kesegaran kondisi tubuh akan minim. Bahkan pasien yang menjalani amputasi berpotensi tinggi untuk mengalami luka serupa untuk kemudian harus kembali menjalani amputasi di bagian lain dari anggota tubuh, khususnya kaki.

"Bahkan persentase pasien amputasi meninggal setelah 5 tahun diamputasi itu mencapai 40%, jadi sangat besar. Itu mengapa penanganan luka sejak dini sangat penting untuk menghindari amputasi."

Pada kesempatan itu dokter Adi mengingatkan bahwa kaki menjadi salah satu area tubuh paling rawan mengalami luka pada pasien diabetes. Tingginya gula darah dapat menyebabkan kaki terasa kebas karena aliran darah yang tidak lancar. Akibatnya, sering kali kaki mengalami luka tanpa disadari.

"Banyak yang belum menerapkan untuk memeriksa detail kaki setiap kali mandi. Padahal, luka sedikit saja pada pasien diabetes bisa jadi bahaya," ujarnya.

Dokter Adi mengatakan, luka umumnya berpotensi besar terjadi pada pasien diabetes karena ketika tertusuk atau terbentur sesuatu. Pasien diabetes yang kakinya cenderung mati rasa dan kebas tidak menyadarinya. Luka tidak akan terasa sakit hingga kerap terabaikan tanpa pengobatan.

"Padahal, luka memerlukan perawatan yang tepat sejak awal. Apalagi pada pasien diabetes. Jangan malas untuk mengecek sebagai langkah pencegahan. Kalau sudah luka, segera tangani dengan tepat," pesanya.

BERITA TERKAIT