Tiga Pulau Perawan di Kei


Penulis: Ferdian Ananda Majni - 25 March 2018, 15:00 WIB
img
DOK. FERDIAN ANANDA M

MATA saya tak lepas memandang ombak bergulung-gulung penuh irama dari tengah laut lepas menuju pantai. Gemuruh gelombang dan deburan ombaknya pecah di pantai berbuih. Siang itu, Jumat (16/3) matahari tepat di ubun-ubun, panas menyengat.

Mengunjungi Kepulauan Kei di Maluku rasanya kurang lengkap jika tidak mengeksplorasi satu demi satu dari 118 pulau yang ada, tentu membutuhkan waktu lama. Namun, persinggahan saya dan tim Kementerian Pariwisata, di tiga pulau dalam satu hari, cukup buat menuntaskan penasaran.

Siang itu, kami memulai perjalanan dari pelabuhan Dullah. Sebenarnya, ada satu lagi pelabuhan Watdek yang bisa digunakan untuk menikmati keindahan Kepulauan Kei. Namun, wisatawan lebih sering memilih Pelabuhan Dullah di Kota Tual.

Maluku memang memiliki sejumlah pulau dan pantai eksotis yang masih tersembunyi, bahkan tak berpenghuni, sehingga wilayah kepulauan ini menjadi destinasi favorit untuk para pencinta wisata bahari.
Pulau Bair, mini-Raja Ampat  

Perjalanan pertama, kami menuju Pulau Bair yang pesonanya begitu indah. Bahkan, disebut-sebut sebagai versi mini-Raja Ampat.

Pulau Bair alias Baer masuk ke bagian Kota Tual, Kabupaten Maluku Tenggara, Provinsi Maluku. Pesona Pulau Bair dikenal luas sekitar 2015, setelah komunitas snorkeling dan diving, Kei Dive Club, mengunggah keindahannya, hingga viral.

Dari Dermaga Dullah kami menggunakan perahu cepat. Selama 1 jam perjalanan laut, kami dimanjakan pemandangan perairan hijau toska dan jernih. Bahkan, menoleh ke bawah, jelas terlihat terumbu karang di dasar laut.

Tiba di sana, kami bersandar di dermaga kayu. Di pulau itu, kami menemukan danau air asin dan tanaman anggrek berwarna putih dan ungu yang tumbuh liar, mempercantik arsitektur alami tebing itu.

Dari atas dermaga panjang itu, kami turun di antara pohon-pohon bakau yang mengelilingi pulau. Di sisi kiri dan kanan terdapat tebing karang menjulang.

Saat air surut, pantai dengan pasir putih terlihat jelas, sedangkan saat pasang, hanya terlihat perairan dan hutan bakau dikelilingi tebing.

Beruntung, kami bisa melihat pasir putih sebelum air pasang tinggi. Kami memutuskan berenang dan snorkeling. Beberapa di antara kawan, treking ke puncak tebing, lalu terjun bebas ke laut.

Ada pula beberapa titik menyelam. Namun tak semua spot memiliki keindahan alam paripurna, sebagian rusak akibat pengeboman beberapa tahun lalu.

Kami juga menyusuri labirin mati, sebuah lorong perairan yang sempit berbetuk huruf u, diapit dua bukit karang menjulang.

Karena terlalu sempitnya, kapal yang kami tumpangi sempat dua kali membentur tebing. Ombak yang tinggi membuat kapal hilang kendali, kami sempat histeris tatkala beberapa orang di geladak atas berhamburan turun akibat tersangkut akar pohon yang menjalar sepanjang tebing.

Adranan nan instagramable

Puas mengeksplorasi Pulau Bair, kami melanjutkan perjalanan ke Pulau Adranan. Tidak seperti Pulau Bair, pulau ini memiliki bentangan pantai yang panjang meski tidak ada dermaga untuk bersandar kapal. Jangkar kapal dilempar dan di tanam dalam pasir.

Di sana, wisatawan juga bisa menikmati makan siang atau pesta makanan yang dipanggang ditemani deburan ombak dan semilir angin pantai. Kami juga memutuskan bersantap di sana. Hidangan yang tersedia, terasa makin sedap ketika dinikmati lesehan di atas pasir dengan atap awan cerah.

Kegiatan yang tidak boleh terlewatkan di sini, berenang dan snorkeling. Untuk yang ingin melihat pemandangan alam bawah laut, bisa memilih bagian yang ombaknya lumayan kencang. Namun bagi yang hanya ingin sekadar berenang, nyebur saja di perairan dengan ombak tenang.

Adranan atau Pulau Burung ini juga masuk dalam wilayah Kota Tual, Kepulauan Kei. Selain cantik karena pasir putihnya, air pantainya juga sangat jernih. Dari kejauhan, pantai ini terlihat punya nuansa warna berlapis. Dari bibir pantai terlihat putih karena pasirnya, lapisan lainnya memancarkan warna hijau toska dan semakin dalam, biru.

Pulau ini juga tidak berpenghuni, wisatawan bisa merasa ketenangan dan hembusan angin sepoi-sepoi. Seperti pulau-pulau di Kepulauan Kei lainnya. Laskap di sana juga memiliki spot foto instagramable. Aktivitas berenang, menyelam dan snorkeling bisa dijepret dan dibagikan ke kawan-kawan.

Jika beruntung, wisatawan pun bisa melihat kawanan burung pombo berkumpul. Biasanya mereka mudah dijumpai pada pertengahan Juli, September, Oktober, hingga November.

Mari berkemah di Ohoimas

Untuk melengkapi paket islands hopping kami, perahu singgah di Pulau Ohoimas. Seperti kedua pulau sebelumnya, pulau ini juga masih perawan meski di perairannya terdapat budidaya rumput laut dan perusahaan penghasil mutiara.

Tentunya, ini juga menjadi spot snorkeling yang indah. Pulau Ohoimas termasuk pulau unggulan yang berdampingan dengan Pulau Bair. Di pulau Ohoimas tengah dikembangkan wisata berkemah.

Tidak jauh dari sana, terlihat Pulau Ut dengan jarak tempuh sekitar 45 menit dari Pulau Ohoimas dan Pulau Bair. Pulau Ut juga dikelilingi pasir putih dan jadi favorit para peselancar.

Pasir sehalus tepung

Selain tiga pulau tanpa penghuni, Bair, Adranan dan Ohoimas, Kepaulauan Kei punya Pantai Ngurbloat alias Pantai Pasir Panjang.

Garis pantainya 3 kilometer, dengan pasir sangat halus, air lautnya biru, pohon kelapa tak beraturan dan pondok-pondok kayu yang teduh.

Lembutnya pasir terasa seperti tepung. Bahkan melukis di atas pasir sulit dilakukan, karena pasir cepat menyatu.

Kepala Bidang Pemasaran Pariwisata Dinas Pariwisata Maluku Utara, Budhi Toffi, mengatakan, kombinasi pasir nan halus serta titik penyelaman menjadi komoditas utama destinasi ini. Sekitar 400 meter saja dari bibir pantai, karang-karang di sini masih terjaga baik.

Ada pulau-pulau kecil yang terhampar di depannya sehingga pantai ini disebut pulau 10, yang sebenarnya merupakan bagian dari pantai ini. Di antaranya Nai, Ohoiew, Naik, Witir, Lik, Nuhuyan, dan Nuhuten. (M-1)

ferdian@mediaindonesia.com

BERITA TERKAIT