Belajar dari Putri Mandalika


Penulis:  (Zuq/M-4) - 25 March 2018, 02:30 WIB
img
MI/ABDILLAH M MARZUQI

PEREMPUAN itu galau. Ia menyisir hampir setiap jengkal panggung. Langkah yang anggun darinya tetap terlihat meski ia dalam kondisi tertekan. Paras cantiknya tak mampu menyembunyikan kegundahan dalam hati. Dalam kegundahan itulah ia menemukan suara hati dan nuraninya. Suara hati memerintahkan dia untuk tidak lagi berpikir tentang dirinya sendiri. Ia lebih memilih untuk mengorbankan dirinya untuk kepentingan orang banyak, termasuk nyawa.

Gulungan deburan ombak datang membimbingnya untuk menyatu bersama alam dan laut. Perempuan itu pada akhirnya memilih menjadi makanan bagi cacing-cacing di laut. Demikianlah adegan pamungkas Drama Kolosal Legenda Putri Mandalika di Anjungan Nusa Tenggara Barat (NTB) Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Sabtu (17/3) lalu.

Drama kolosal itu membawakan cerita tentang Putri Mandalika, putri pasangan Raja Tonjang Beru dan Dewi Seranting di Lombok, NTB. Raja Tonjang Beru terkenal karena kebijaksanaan dan kepiawaiannya dalam memimpin. Di bawah kepemimpinannya, semua berjalan dengan baik. Kehidupan rakyat yang makmur menjadi bukti. Ia dan keluarganya pun dicintai rakyat. Begitu pun Putri Mandalika. Meski tumbuh dan berkembang dalam suasana kerajaan, Putri Mandalika tak sekalipun bersikap semena-mena.

Putri Mandalika yang beranjak dewasa tumbuh dewasa, semakin cantik paras dan budi pekertinya. Kecantikannya tersebar hingga ke seluruh Lombok dan mencuri perhatian pangeran-pangeran dari berbagai kerajaan di Johor, Lipur, Pane, Kuripan, Daha, dan Beru. Mereka berniat mempersuntingnya. Bukannya senang, Putri Mandalika malah gusar. Sebab jika dia memilih satu di antara mereka akan terjadi perpecahan dan pertempuran. “Dia tidak mau terjadi perselisihan atau perkelahian. Bahkan, ­peperangan antara kerajaan. Jadi, Putri Mandalika tidak memilih satu di antara putra mahkota, tetapi ia lebih memilih untuk semua,” terang Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Pemkab Lombok Tengah, HL Moh Putria ditemui saat ­acara.

Mandalika pun mengundang seluruh pangeran beserta rakyat untuk bertemu di Pantai Seger pada 20 bulan ke-10 menurut perhitungan Kalender Sasak, tepatnya sebelum Subuh. Pada waktu yang ditentukan, Putri Mandalika muncul. Ia lalu berdiri di sebuah batu di pinggir pantai dan menyampaikan bahwa ia menerima seluruh pangeran dan sejurus Sang Putri terjun ke laut.  Seluruh rakyat yang mencarinya tidak menemukannya. Setelah beberapa saat akhirnya datanglah sekumpulan cacing berwarna-warni yang dipercaya sebagai jelmaan Putri Mandalika.  

Di dunia nyata, rakyat yang selalu mendambanya datang untuk mengenang Putri Mandalika lewat tradisi Bau Nyale atau menangkap nyale (cacing laut) yang diselenggarakan setiap tahun.  Bukan hanya datang untuk Bau Nyale, mereka datang untuk menyambut Putri Mandalika sebagai figur sentral masyarakat Bumi Sasak yang memiliki paras cantik dan berbudi luhur.

Sesuai dengan tajuknya, kata legenda memang berarti cerita rakyat pada zaman dahulu yang ada hubungannya dengan peristiwa. Meski demikian, cerita rakyat sebagai sebuah kisah masa lalu memang harus terus dihidupkan. “Legenda itu adalah mitos, tapi masyarakat sudah terlalu fanatik dengan adanya nyale. Hampir-hampir mau menganggap itu ada. Tapi tetap kita tekankan ini legenda,” kata sutradara sekaligus penulis naskah Lalu Sakirman.

 “Mandalika ternyata memberikan contoh kepada kita semua. Terutama pada politisi untuk tidak saling sikut kiri sikut kanan, rela berkorban untuk kepentingan orang banyak. Inilah yang kemudian ditinggalkan dan dicontohkan Putri Mandalika,” tambah Putria.
Selama 2 jam pertunjukan, panggung itu pun ramai riuh karena banyaknya aktor yang terlibat, mencapai 70 orang. Lebih dari separuh pemeran didatangkan dari Lombok Tengah. (Zuq/M-4)

 

echo $details;
BERITA TERKAIT