Kentut yang Keluar dari Mulut


Penulis: ZUBAEDAH HANUM - 25 March 2018, 02:10 WIB
img
MI/Faturrozak

“SAYANG sekali, negara yang kaya raya ini ­tidak maju karena rakyatnya tidur. Bangsa pemalas… Setelah ada rongrongan, baru mereka bergerak dan terlambat. Mental budak ini yang membuktikan bahwa bangsa kita belum siap merdeka!” Pada suatu hari, di rumah yang tenang. Ramai adu ­argumen antara Pak Amat dan istrinya. Mereka sedang meributkan isi terjemahan tulisan Profesor Co asal ­Amerika, yang kurang lebih isinya dianggap ‘menghina’ bangsa Pak Amat.

Tulisan yang diterjemahkan oleh anak Pak Amat, Ami, membuat gumun suami istri itu. Apa benar, tulisan yang baru dibacakan Pak Amat dan didengarkan oleh Bu Amat ini, adalah benar benar tulisan Profesor Co, atau sudah ditambah dan dikurangi Ami, anaknya? Untuk mencari kebenaran ini, Pak Amat ­memutuskan untuk menemui anaknya. Sementara itu, Profesor Co minta pamit untuk segera pergi ke Jogja, setelah selesai meneliti Gunung Agung Bali, yang mempertemukannya dengan keluarga Pak Amat.

Begitu digegerkan opini dari Profesor Amerika ini, sampai akhirnya terdengar juga ke telinga calon bupati dadakan, Agung Prameswari. Ia bertemu dengan Pak Amat di salah satu mal karena ingin meminta foto kopi kartu tanda penduduk (KTP) Pak Amat.
Dari situlah, Pak Amat menuturkan opini Profesor Co, yang kemudian dikutip calon bupati dadakan yang punya nama asli Ni Luh Ketek itu. Begitu populer opini yang dikutipnya dari Pak Amat ini. Agung Prameswari pun hingga hampir menang dalam panggung politiknya di daerah. Yang mungkin boleh saja, selama ini apa yang dikampanyekannya ini adalah bak bunyi kentut yang keluar dari mulut: Jprutt!

Bagaimana pula rakyat bisa percaya pada wakil dan calon wakilnya? Bila yang dikatakan adalah pepesan kosong, dan apa yang dilakukan selama ini, bukanlah untuk rakyat, melainkan untuk diri mereka sendiri. Padahal, apa yang dikutip, diucapkan, dan direproduksi menjadi gagasan andalan sebagai jualan politik oleh calon wakil rakyat itu, bukanlah tulisan Profesor Co. Opini itu tidak lain pendapat anak Pak Amat, yang hendak dikirimkan sebagai tulisan opini ke surat kabar lokal Bali. Pak Amat salah ambil, sementara isi tulisan Profesor Co justru memuji keajaiban yang terjadi pada bangsa Pak Amat, yang begitu beragam namun dapat disatukan dengan Bhinneka Tunggal Ika.

Autokritik Jprutt
Pentas sepanjang durasi 90 menit di Bentara Budaya Jakarta, Kamis (15/3), itu menyajikan humor segar nan khas ala Teater Mandiri. Tanpa perlu set panggung yang wah, lewat ‘teror mental’ Putu Wijaya pada aktornya yang kemudian menular pada penontonnya. Jprutt berhasil memperlihatkan kekuatan aktor dalam menyampaikan dan mengartikulasikan pesan kepada penonton.

Kombinasi aktor kawakan seperti Jose Rizal Manua, Ninik L Karim, Bambang Ismantoro, dan beberapa aktor muda, menjadi komposisi yang pas dan saling mengisi, tidak ada ketimpangan. Sepanjang 90 menit itu pula, debur tawa tak pernah putus, meski apa yang disampaikan ialah pesan yang bersifat protes dan kritik pada tatanan sosial masyarakat. Putu tak perlu menggurui para ­penontonnya.

Betapa opini yang disampaikan bangsa sendiri, kadang tak dihiraukan, dianggap angin lalu. Sementara bila keluar dari mulut asing, barulah opini itu menjadi gagasan yang diagungkan dan dianut. Mental inlander yang masih menyu­supi bangsa ini yang sudah merdeka 73 tahun.

Karena tingginya antu­siasme penonton, pentas yang ­dipadati penonton ini rencananya kembali dihelat pada 28-29 April 2018. Momennya bertepatan dengan peluncuran buku kumpulan 100 naskah drama pendek oleh Putu Wijaya, yang di dalamnya tercatut juga naskah Jprutt.

Jprutt mungkin bukanlah pelajaran moral, hadir sebagai pentas yang menjadi autokritik bagi kita yang menyaksikan. Bukan hidung siapa yang harus ditunjuk, pada keadaan di mana kita membebek pada asing dan goyah akan pendapat bangsa sendiri. Namun, cobalah bengkokkan sedikit ­telunjuk ke arah hidung ­sendiri. (*/M-4)

BERITA TERKAIT