Waspadai Glukoma, Si Pencuri Pengelihatan


Penulis: Indriyani Astuti - 24 March 2018, 11:22 WIB
img
ANTARA/Andika Wahyu

Glukoma sering dianggap sebagai pencuri pengelihatan. Sebab glukoma tidak dapat disembuhkan dan mengakibatkan gangguan pengelihatan yang bisa menyebabkan kebutaan.

dr. Syukri Mustafa Sp.M (K) dari Rumah Sakit Mata Aini menjelaskan glukoma merupakan penyakit kerusakan pada saraf mata karena terjadinya peningkatan tekanan pada bola mata. Peningkatan tekanan pada mata terjadi karena cairan yang diproduksi tidak normal.

Syukri mengatakan ada beberapa faktor risiko yang dapat menyebabkan glukoma dan harus diwaspadai yaitu faktor usia lebih dari 41 tahun, adanya riwayat glukoma di keluarga, hypermetropia atau rabun jauh, kornea tipis, menderita diabetes melitus, tekanan darah tinggi (hipertensi), terjadi trauma pada mata, dan pernah mengonsumsi obat steroid dalam waktu jangka panjang.

"Glukoma dibagi menjadi primer, sekunder dan kongenital," ujar Syukri dalam Seminar Kesehatan bertajuk 'Kenali Glukoma Sejak Dini' di Aula Rumah Sakit Mata Aini, Setiabudi, Jakarta, Sabtu (24/3).

Glukoma primer, ujar Syukri, tidak diketahui penyebabnya. Sedangkan glukoma sekunder berhubungan dengan penyakit lain seperti diabetes, hipertensi, atau konsumsi steroid jangka panjang. Sedangkan glukoma kongenital adalah kelainan pada mata sejak lahir.

Terkait gejala glukoma, Syukri mengatakan gejalanya dari akut hingga kronis. Pada glukoma akut umumnya penderita tidak menyadari telah terjadi kerusakan pada matanya karena penambahan tekanan mata tidak mendadak, melainkan secara perlahan-lahan.

Penderita, tutur Syukri, umumnya menggalami penyempitan lapang pandangan secara perifer atau dari pinggir. Tetapi tajam pengelihatan umumnya masih 100%, berbeda dengan gangguan pengelihatan karena katarak.

"Hilangnya lapang pandangan berpola. Hilangnya pinggir sebelah hidung hingga ke luar. Sampai akhirnya lapang pandangan menjadi sangat sempit atau tunnel vision. Antara kiri dan kanan tidak sama stadiumnya," terang dia.

Untuk gejala glukoma yang kronis, sambung Syukri, penderita dapat mengalami  nyeri, mata merah, pandangan buram, sakit kepala, sakit pada bola mata, mual, dan muntah.

Untuk mencegah kebutaan akibat glukoma, Syukri menyarankan agar orang yang masuk dalam kelompok faktor risiko rutin memeriksakan mata ke dokter sebagai deteksi dini setiap satu tahun sekali. Semakin awal glukoma terdeteksi, risiko kebutaan dapat dihindari.

Pemeriksaan atau skrining, tutur Syukri, meliputi pemeriksaan fisik dan mata yaitu pemeriksaan tekanan darah, tajam pengelihatan, tekanan bola mata, dan pemeriksaan saraf mata. 

Pemeriksaan penunjang juga dapat dilakukan, umumnya di fasilitas kesehatan yang lebih lengkap seperti rumah sakit. Pemeriksaan tersebut diantaranya ganioskopi (pemeriksaan sudut bilik mata depan), pemeriksaan lapang pandang atau perimetri dan pemeriksaan labolatorium. (OL-3)

BERITA TERKAIT