Edukasi Kognitif demi Masa Depan Digital


Penulis: Rizky Noor Alam - 24 March 2018, 04:50 WIB
img
thinkstock

PERTUMBUHAN digital, inovasi, dan disrupsi di setiap aspek kehidupan manusia belakangan ini tidak bisa dihindari. Ada pihak yang melihatnya sebagai ancaman, tapi juga ada yang menganggapnya sebuah peluang. Semua bergantung pada kesiapan setiap individu dalam menghadapi pesatnya kemajuan dunia digital.

Ada berbagai cara menjaring peluang di era digital tersebut. Salah satunya mempersiapkan diri melalui pendidikan dengan mempelajari pelajaran yang memiliki korelasi, seperti big data dan Komputasi Kognitif.

Temuan IBM yang bertajuk Cognitive Advantage Global Market Report mengungkapkan komputasi kognitif terbukti menjadi salah satu kunci pembeda bagi organisasi. Apakah organisasi itu telah memanfaatkan kemampuan komputasi kognitif untuk mengakselerasi hasil bisnis mereka, mulai peningkatan interaksi pelanggan, peningkatan produktivitas, dan efisiensi, sampai pertumbuhan bisnis yang lebih cepat. Dalam laporan itu juga diungkapkan pemanfaatan komputasi kognitif membuat pertumbuhan pasar akan meningkat dari US$2,5 miliar pada 2014 akan menjadi US$12,5 miliar pada 2019. Selain itu dua tahun ke depan diprediksi setengah dari seluruh konsumen (dunia) akan berinteraksi dengan teknologi komputasi kognitif.

"Sistem komputasi kognitif merupakan era baru komputasi dan kita telah melihat meningkatnya tuntutan akan teknologi komputasi kognitif di berbagai industri. Setiap profesi yang tengah disiapkan para pelajar akan ditransformasi big data dan sistem-sistem kognitif," ungkap Country Manager Global Business Partner, IBM Indonesia Novan Adian, dalam acara press briefing di Universitas Indonesia (UI), Depok, awal bulan ini.

IBM Indonesia bekerja sama selama lima tahun dengan UI menjawab tantangan dunia digital itu, dengan cara membentuk mata kuliah big data dan komputer kognitif di bawah naungan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB UI).

Kuliah
Hasil survei yang dilakukan Cognitive Advantage Global Market yang melibatkan 600 pengambil kebijakan di seluruh dunia membagi pengguna teknologi kognitif menjadi tiga kategori. Yakni advanced user (22%), beginners (54%), dan planners (24%). Yang dimaksud advanced user ialah mereka yang sudah menggunakan setidaknya 2 atau lebih teknologi kognitif selama 1 tahun lebih. Beginners adalah para pengguna yang menggunakan 1 teknologi kognitif kurang dari setahun, sedangkan planners ialah mereka yang berencana mengadopsi teknologi kognitif dalam 2 tahun ke depan.

Di Indonesia masih memiliki tantangan penyiapan talenta-talenta berkualifikasi dan memanfaatkan teknologi komputasi kognitif. Tidak hanya di area teknologi, tetapi juga di berbagai area dan industri lainnya, seperti ekonomi. "Mata kuliah ini berawal dari keinginan Departemen Akuntansi FEB UI dalam meningkatkan kompetensi lulusan untuk beradaptasi dan berperan dalam dunia ekonomi digital yang telah banyak mengubah proses bisnis.

Dari kelas itu, diharapkan mahasiswa yang mengikutinya memiliki kemampuan menjelaskan pentingnya dan bagaimana analitik mentransformasi dunia saat ini. Mereka juga mampu menerapkan konsep tersebut di berbagai industri menggunakan studi-studi kasus nyata. "Kami mengharapkan mata kuliah ini dapat memberikan pengenalan kepada mahasiswa tentang tools dari big data dan cognitive computing yang dioptimalisasi berbagai industri di masa depan sehingga para lulusan FEB UI terinspirasi untuk memiliki hybrid skills sehingga meningkatkan kreativitas mereka di berbagai profesi di bidang ekonomi dan bisnis," ungkap Ketua Departemen Akuntansi FEB UI, Ancella Hermawan, dalam kesempatan yang sama.

Saat kelas pertama berlangsung pada 14 Februari lalu, antusiasme peserta tinggi. Lebih dari 100 mahasiswa mendaftar kelas itu. Pengajarnya merupakan para ahli teknologi dan industri dari IBM Indonesia dan para partnernya juga akan berpartisipasi sebagai pengajar tamu. Kelas-kelas dalam mata kuliah ini akan dihadirkan dalam bentuk grup diskusi yang berbasis studi kasus agar para mahasiswa dapat mengidentifikasi permasalahan nyata yang mungkin akan mereka temui di masa depan.

Sylvia yang mengikuti kelas itu mengaku komputasi kognitif dan big data ialah sebuah masa depan. "Komputasi kognitif dan big data itu masa depan setiap transaksi yang ada di dunia. Yang diajarkan sendiri terutama yang berkaitan dengan data scientist," ungkap mahasiswa jurusan manajemen angkatan 2014 tersebut.

Senada dengan Sylvia, Warran, 21, mahasiswa jurusan ilmu ekonomi angkatan 2014 memandang pentingnya kelas itu. Baginya saat ini semua industri trennya ialah data driven sehingga mengikuti kelas tersebut ialah upayanya untuk mengikuti kebutuhan pasar. (M-3)

 

 

 

 

BERITA TERKAIT