Terminal Baru untuk Aa Ruddy


Penulis: (­Ire/M-4) - 18 March 2018, 00:01 WIB
img
MI/SETYO WARDOYO

TEPAT pada Rabu (14/3) lalu, ­Ruddy Pata Areadi genap berusia 55 tahun. Angka 55 sama seperti jumlah ilustrasi cerpen miliknya yang terpajang berhadap-hadapan di sebuah lorong karpet hijau Media Indonesia, tempatnya bekerja sejak 2 September 1993.
Hari ulang tahun Aa ­Ruddy, panggilan akrab bapak satu anak itu, bertepatan pula dengan hari terakhirnya ­bekerja sebagai koordinator artistik, ilustrator andalan Harian Umum Nasional Media ­Indonesia.

Raut wajah Sarjana Seni Rupa IKIP Bandung itu memang terlihat seperti biasa­nya, garang. Namun, aura sedih dan haru akan perpisahan tidak mampu ditutupi laki-laki kelahiran Garut, 15 Maret 1963. Ruddy memaknai masa pensiunnya sebagai pencapaian tertinggi bagi seorang karya­wan karena bisa bekerja dalam waktu yang lama. “Media Indonesia rumah kedua bagi aku,” ungkapnya. Saat acara perpisahan digelar, para rekan kerja dan sahabat bergantian memberikan salam, mengucapkan selamat atas masa baktinya.
Bahagia bercampur sedih diungkapkan para rekan kerjanya. Sungguh berarti kehadiran Ruddy sebagai seorang kakak, mentor, dan sahabat.

“Silakan menikmati!” ungkap Ruddy sebelum menyantap beragam sajian di meja. Perpisahan Ruddy hari itu dihadiri pendahulunya, ­Tatang Ramadhan Bouqie. “Ruddy ini adik saya,” ucap Tatang sambil merangkul Ruddy. Tatang mengatakan, pensiun hanya satu terminal saja dari profesionalitas. Hidup masih panjang, masih banyak terminal-terminal lain. “Kita hanya pindah jalur saja,” ucap perupa dan pelukis kelahiran 1953 itu. Menurut Tatang, masa pensiun ini harus diartikan sebagai sebuah kesempatan baru untuk merambah dunia yang lain.

“Waktu kamu juga sudah kembali 100%. Anugerah, bakat kamu dari Tuhan bisa bebas dieksplorasi. Jadi, pensiun harus tetap dilihat sebagai sesuatu yang menggembirakan,” sahutnya. Sebagai kenang-kenangan, Tatang pun memberi hadiah sebuah lukisan tiga badut yang sedang tersenyum sambil menyantap semangka. “Itu gambar Ruddy, Lintang (istri), dan Kinara (anak) sedang makan semangka,” kata Tatang kepada Ruddy. Diungkapkan Ruddy, satu hal yang berkesan di mata­nya selama bekerja sebagai ilustrator di Media ­Indonesia ialah hubung­an pertemanan yang harmonis, antara senior dan junior.

“Kalau di kantor lain, itu politik kantornya sangat tinggi, saling sikut itu biasa. Tapi di Media Indonesia, beda. Misalnya, teman-teman lain yang sudah tidak bekerja lagi di sana, tetap datang dan menjaga tali silaturahim,” bebernya. Selama tiga tahun terakhir, Ruddy mampu menghidupkan halaman cerpen dengan guratan sketsanya. Ditanya soal kesibukannya setelah pensiun nanti, ­Ruddy mengaku masih konsentrasi pada pameran Sharing Goodness & Happiness yang di­ikutinya di Magelang, Jawa ­Tengah. Dalam pameran itu, Ruddy bersama belasan perupa lain dari tujuh negara menampilkan karya mereka di ­Padepokan Apel Watoe. (­Ire/M-4)

BERITA TERKAIT