Kecanduan Media Sosial, Bukti Keinginan Interaksi Sosial yang Tinggi


Penulis: Sri Yanti Nainggolan - 17 March 2018, 05:01 WIB
thinkstock
thinkstock

BANYAK orang berpikir mereka yang kecanduan sosial adalah tipikal anti-sosial. Padahal, sebuah penelitian justru menunjukkan hal yang sebaliknya: mereka kecanduan interaksi sosial.

Dengan kata lain, manusia mendambakan sosial dan memiliki dorongan kuat untuk mengawasi dan memantau orang lain, serta diperhatikan oleh orang lain.

Studi baru yang mengulas literatur tentang disfungsi penggunaan teknologi canggih menemukan bahwa tak ada kecanduan teknologi ponsel yang inheren, melainkan harapan dan penghargaan sosial untuk berhubungan dengan orang lain dan berusaha untuk belajar dari orang lain serta mendorong dan mempertahankan hubungan adiktif dengan gawai.

Penelitian tersebut menyoroti bahwa semua fungsi kecanduan gawai memiliki motif yang sama, yaitu memanfaatkan keinginan manusia untuk terhubung dengan orang lain.

"Kami mencoba memberikan kabar baik dan menunjukan adanya keinginan untuk interaksi yang adiktif dan ada solusi sederhana untuk mendapatkannya," tukas peneliti Samuel Veissière dari Departemen Psikiatri di McGill University.

Studi tersebut menyarankan untuk mematikan notifikasi. Tempat kerja juga didorong untuk menerapkan kebijakan yang melarang penggunaan email di malam hari dan akhir pekan.

Dengan meninjau literatur melalui lensa evolusioner, para peneliti dapat menyoroti bahwa keingintahuan untuk kehidupan orang lain dan kebutuhan akan persetujuan selalu ada, kecuali bahwa sekarang menggunakan media digital.

Para peneliti menyatakan bahwa hal tersebut tidak abnormal, seperti mencari harga diri melalui sudut pandang orang lain.

"Oleh karena itu, kami mengusulkan untuk menganggapnya sebagai sesuatu yang normal, dan merupakan mekanisme inti kognisi sosial yang nyata bagi spesies kita,"

Menurut studi tersebut, membandingkan dan belajar dari orang lain perlu dilakukan karena hal tersebut memberikan makna, motivasi, tujuan, dan rasa pada identitas.

Studi tersebut juga melihat bagaimana kritik terhadap media sosial terhadap efek psikologis, dimana pengguna sosial sering kali memamerkan aspek yang bagus dalam hidup mereka, bahkan melebih-lebihkan atau memalsukannya.

"Teknologi ponsel dan gawai bukanlah akar penyebab distress modern," kata studi tersebut.

Namun demikian, Veissière setuju bahwa sistem penghargaan otak dapat keterusan karena kecepatan dan skala hiper-konektivitas saat ini.

Penggunaan gawai yang berlebihan dapat merugikan kesehatan mental, yang menyebabkan kecanduan dan perbandingan yang tidak sehat yang merugikan citra diri dan bukannya memperbaikinya.

"Daripada mulai mengatur perusahaan teknologi atau penggunaan perangkat ini, kita perlu mulai berdiskusi tentang bagaimana cara yang tepat untuk menggunakan gawai," katanya. "Orang tua dan guru perlu diberi tahu betapa pentingnya hal ini." (medcom/OL-8)

BERITA TERKAIT