Latar Panggung yang Berpesan Dalam


Penulis: ABDILLAH M MARZUQI - 11 March 2018, 03:01 WIB
MI/ABDILLAH M MARZUQI
MI/ABDILLAH M MARZUQI

CUKUPLAH kain-kain itu menjadi latar. Tidak banyak warna memang, merah dan putih. Cukup dua warna saja untuk mengajak siapa pun untuk menelaah lebih dalam pentas itu. Tiga kain merah berada di kedua sisi, sedangkan satu kain putih berada di tengah. Merah membingkai putih.

Satu putih menjadi terlin­dung dengan tiga merah di kedua sisi. Merah menjadi pengantar yang harus dilalui terlebih dahulu, sedangkan putih menjadi pokok yang harus dijaga dan dilindungi. Secara tangkapan mata, pembagian luas memang hampir seimbang antara kain merah dan putih. Perbedaan jumlah tidak begitu berpengaruh. Satu banding tiga. Lebar putih lebih dari dua kali lipat dari kain merah.

Itulah selintas dari panggung Pagelaran Wayang ­Orang (WO) Sriwedari di Teater Kautaman, Taman Mini Indonesia Indah, 4 Maret 2018. Bertajuk Trisara Tinayuh, WO Sriwedari mengetengahkan kepemimpinan. Trisara Tinayuh menceritakan sosok Arjuna. Ia lelananging jagad yang menyandang tiga pusaka utama yakni pasopati, pulanggeni, dan sarotama. Ketiga pusaka ini menjadi kekuatan jati diri, kebijaksanaan, dan keteguhan bagi Arjuna dalam mengemban amanah untuk ­memayuhayuning bawana atau menjaga nilai luhur kehidupan. Hanya, saat mencapai titik kemuliaannya, Arjuna lupa diri.

“Tetapi pada saat sudah mencapai puncaknya dia lupa diri sehingga membuat kondisi arus bawah Madukara menjadi terabaikan sehingga muncul berbagai macam permasalahan sosial,” terang sutradara Agus Prasetyo seusai pementasan.
Di sisi lain, terdapat raja yang menaruh dendam ­kesumat pada Arjuna, sebab ayahnya gugur di tangan Arjuna. Ia lalu berupaya menghancurkan Arjuna. Ia lalu dibantu kedua adinya, yakni Nawangwulan dan Nawangsih, untuk mencuri pusaka Arjuna.

Sarat kritik
Trisara Tinayuh memang merupakan lakon carangan dari berbagai cerita pakem pewayangan yang sudah dikenal selama ini. Meski demikian lakon itu kontekstual dengan keadaan saat ini ketika banyak pemimpin yang lupa diri ketika sudah menjabat.
“Jadi itu sebenarnya perlambang. Bukan sebagai nyata-nyata pusaka hilang. Tiga pusaka itu kita lambangkan sebagai jati diri, kebijaksanaan, dan keteguhan. Bahwa seorang pemimpin harus memegang sikap itu,” tegas ­produser Eny Sulistyowati yang malam itu berperan sebagai Dewi Sembadra. “Mentang-mentang punya kelebihan, jadi punya sifat sombong. Ketika seorang pemimpin kehilangan tiga sifat ini, dia akan menjadi seperti itu,” tegas Eny.

Trisara Tinayuh juga tidak menggunakan banyak properti panggung layaknya pergelaran wayang orang. Set panggung selama pertunjukan hampir tak ada perubahan berarti, bahkan cenderung tetap. Hanya ada level peninggi yang ditata simetris. Dua sisi dibuat agak rendah, lalu semakin meninggi ke arah tengah.

Itu justru menjadi menarik. Pelepasan atribut properti itu menjadi salah satu yang menarik dari pentas ini. Sebab penonton akan lebih fokus pada garap keaktoran dan tarian. Penonton menjadi lebih leluasa menyimak segala keindahan dalam pentas itu. Mendengarkan suara gamelan yang dipadu dengan dialog antarwayang.

Dalam pergelaran ini, terdapat beberapa adegan yang menarik. Memang hal itu tidak mengubah sikap panggung pakem seperti sikap panggung dan gaya bicara para pandawa ataupun para dewi. Namun ketika dialog yang merupakan pengembangan, yang ada ialah suasana yang hidup dan meriah. Dialog didesain dengan sangat cair dan sangat intim dengan memori penonton.

Sebagai contoh ketika Nawangwulan dan Nawangsih mencuri pusaka Arjuna. Mereka menyamar menjadi Srikandi dan Larasati. Ketika terpergok oleh yang asli. Justru adegan dan dialog itu menjadi hidup. Memori tentang adu mulut ala masyarakat keseharian akan muncul dari dialog mereka berempat. Mereka saling mengejek dan berbalas cerca.

Dialog itu menjadi sangat ringan dan terasa dekat dengan keseharian. Jika sering ke pasar lalu menyaksikan orang sedang berdebat, mirip seperti Srikandi dan Larasati yang tengah beradu cerca dengan Nawangwulan dan Nawangsih. Ungkapan cercaan ala keseharian begitu lancar meluncur dari lidah mereka. Imajinasi penonton akan dibawa masuk adu mulut ala perempuan paruh baya yang saling berkukuh untuk mempertahankan pendiriannya.

Selain itu, tata musik dalam pentas ini layak untuk diberi apresiasi lebih. Dua penata karawitan yakni Pujiono dan Nanang Dwi Purnama, sukses membawa gelaran itu layak dinikmati bahkan jika seandainya harus berpentas dalam ruang gelap. Musik besutan mereka sangat indah. Terkadang melenakan ketika dipadu dengan tembang yang sarat pesan. Terkadang pula mengalun dan membawa penonton lebih masuk ke dialog para pemain.

Namun sesekali langsung mengentak kesadaran. Lalu mengajak dan menyeret penonton untuk masuk ke suasana peperangan yang terjadi di atas panggung. Kembali ke latar panggung Trisara Tinayuh, jika ­merah adalah berani, jika putih adalah suci, berani harus didasari suci. Begitu pula, suci harus didampingi dengan keberanian. Keduanya tidak saling menafikan, justru saling memperteguh. Kesucian tanpa keberanian hanya menjadi angan-angan dan cita-cita. Keberanian tanpa kesucian makin menambah soalan dan punya potensi daya rusak terhadap apa pun. Begitulah usaha tangkap pesan dari pementasan Trisara Tinayuh yang penuh dengan makna dan pesan simbolis. (M-2)

BERITA TERKAIT