Geliat Ekonomi di Gili Trawangan


Penulis: Tosiani - 07 March 2018, 12:21 WIB
img
ejumlah wisatawan berjemur dipinggiran pantai Gili Trawangan, Desa Gili Indah, Kecamatan Pemenang, Tanjung, Kabupaten Lombok Utara, NTB---ANTARA/ AHMAD SUBAIDI

BUTUH waktu sekitar 20 menit menyeberang ke Kawasan Wisata Gili Trawangan dengan menggunakan speed boat. Satu speed boat berisi sekitar 10 orang.

Setelah mendarat, wisatawan harus beberapa kali terhuyung lantaran kondisi dermaga yang masih ala kadarnya. Berjalan di dermaga ini untuk sampai ke pinggir memerlukan waktu sekitar 5-10 menit. Hamparan pasir putih terdapat di sepanjang pantai Gili Trawangan.

Perahu-perahu kecil masih menyandar di dermaga. Sejumlah wisatawan ada yang duduk-duduk berjemur di tepian. Ada pula yang mengendarai sepeda atau hanya sekedar berjalan-jalan di jalanan dekat pantai. Musik-musik berbagai aliran mengalun dari kafe-kafe dan restoran yang terdapat di sepanjang jalan.

Suasana di Gili Trawangan amat ramai saat itu. Pedagang yang menjual makanan, pakaian hingga asesoris, menawarkan pembuatan tato, hotel-hotel dan homestay, semuanya ramai dikunjungi wisatawan. Kebanyakan memang wisatawan manca negara yang mendominasi angka kunjungan wisata di daerah itu.

Gili Trawangan merupakan salah satu dusun yang masuk wilayah Desa Gili Indah. Selain Gili Trawangan, ada pula Dusun Gili Air dan Gili Meno. Ketiga dusun di wilayah Gili Indah ini merupakan kawasan pantai. Semuanya ramai dikunjungi wisatawan setiap hari lantaran kondisi alamnya yang eksotis.

Wisatawan bisa menikmati keindahan alam bawah laut menggunakan perahu kaca dan bisa melakukan snorkling di Gili Meno. Kondisi pantai di tiga lokasi ini sangat jernih airnya dan bersih dengan hamparan pasir putih.

Kepala Desa Gili Indah, H M Taufik, mengatakan, kunjungan wisatawan ke daerahnya memang selalu ramai. Setiap harinya rata-rata ada kunjungan sekitar 1.500 orang wisatawan pada saat low season. Pada high season kunjungan wisatawan bisa mencapai angka 3.000 orang. Mereka datang dari India, Korea, Singapura, juga yang masuk melalui Bali.

''Kalau hari Sabtu dan Minggu banyak sekali pengunjung dari Malaysia yang masuk ke sini, jumlahnya bisa mencapai 5.000 orang. Jadi semua hotel, homestay juga penuh,'' ujar Taufik kepada wartawan dari Temanggung, Jawa Tengah saat melakukan kunjungan kerja bersama Humas Pemkab Temanggung ke daerah itu pekan lalu.

Kendati angka kunjungan wisata ke daerah itu selalu ramai, menurut Taufik, pihak desa sama sekali tidak memungut retribusi apapun dari pengusaha.

Penghasilan desanya hanya didapat dari bagi hasil pajak daerah sebesar 10 persen atau angka yang didapatnya mencapai Rp3,9 miliar per tahun.

Ditambah dana desa dari pemerintah pusat sebesar Rp879 juta. Jumlah dana desa yang diterima Desa Gili Indah ini merupakan yang terkecil dibanding desa-desa lainnya di wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB).

''Namun demikian, geliat ekonomi di desa kami amat bagus karena sektor wisata. Perputaran uang di Gili Indah rata-rata bisa mencapai lebih dari Rp10 miliar per hari,'' ujar Taufik.

Desa Gili Indah, sebut Taufik, memiliki jumlah penduduk sebanyak 5.100 jiwa dalam 1113 kepala keluarga (kk). Perkembangan ekonomi di daerahnya membuat daerah ini menjadi daerah yang kaya. Lebih dari 90 persen warga desa itu tidak ada yang menganggur. Semuanya bekerja di sektor wisata.

''Bahkan tidak ada warga daerah kami yang merantau untuk bekerja di daerah lain. Kalau yang akhirnya hidup di luar negeri karena menikah dengan wisatawan asing yang berkunjung kesini memang banyak,'' ujar Taufik.

Guna mempertahankan kepemilikan warganya pada aset-aset tanah di daerah wisata ini, menurut Taufik, pihak desa mengeluarkan kebijakan terkait kepemilikan tanah. Yakni orang dari luar daerah hanya boleh memiliki aset tanah di daerahnya dengan Hak Guna Bangunan (HGB).

''Untuk warga saya sendiri, kalau mau jual tanah, saya tanyakan betul untuk apa dijual. Kalau tidak betul-betul kepepet, saya melarangnya menjual tanah. Kalau disewakan boleh saja. Ini berbeda dengan tahun 1980 an banyak yang akhirnya jual tanah karena diintimidasi. Sekarang tidak bisa,'' katanya.

Namun demikian, lanjut Taufik, ada dampak negatif dari pesatnya ekonomi wisata di daerahnya. Yakni kehidupan malam dan volume sampah yang tinggi.

Untuk dampak kehidupan malam tersebut ia antisipasi dengan melibatkan pihak keamanan ikut membanju menjaga keamanan. Sedangkan untuk pengolahan sampah, telah disiapkan lahan sekitar 60 are untuk mengolah sampah dari tiga dusun; Gili Trawangan, Gili Meno, dan Gili Air.

Sigit Purwanto, Asisten 2 Sekretaris Daerah (Sekda) Temanggung yang ikut serta dalam kunjungan kerja tersebut, mengaku, bisa belajar banyak dari Desa Gili Indah untuk mengembangkan pariwisata pegunungan di Temanggung.

''Di Gili Indah ini pariwisatanya sudah terbentuk, sementara di Temanggung masih mencari bentuknya. Nanti akan kita upayakan untuk mencontong model pengembangan wisata disini untuk mengembangkan wisata alam pegunungan di Temanggung,'' kata Sigit.(X-10)

BERITA TERKAIT