Berhentilah Memaklumi Tindakan Berbahaya di Jalan Raya


Penulis: Sri Utami - 04 March 2018, 21:15 WIB
img
MI/MOHAMAD IRFAN

SEPEDA motor yang dikendarai Thedorus Marlon, 28, oleng dan nyaris menyenggol kendaraan lain yang ada di sisi kirinya. Konsentrasinya hilang saat bara api rokok dari pengendara sepeda motor di depannya terbang dan melukai jari manisnya.

Dengan sigap Theo langsung menepikan sepeda motornya sambil mengibaskan jari tangan kanannya. Bara api itu meninggalkan luka bakar tepat di tengah jari manisnya. Theo sempat kesal dengan kejadian itu, namun dia lebih memilih memakluminya dengan alasan hak asasi manusia.

"Kalau dikatakan saya rugi, iya benar. Tapi itu hak setiap orang jadi saya maklum. Saya juga perokok jadi bisa maklumi saja," ucapnya di Jakarta, Minggu (4/3).

Theo mengatakan lebih memilih memaklumi kejadian yang hampir membuatnya mengalami kecelakaan lalu lintas itu. Tapi dengan kejadian tersebut, pria yang berprofesi sebagai pelatih taekwondo ini menyadari konsentrasi saat berkendara harus diutamakan.

"Dulu saya cuek saja. Saya pikir tidak akan jadi masalah. Karena hanya abu kecil. Tapi setelah merasakan langsung, saya baru merasakan pentingnya keselamatan berkendara tidak bisa diabaikan. Jadi harus ada aturan tegas yang diterapkan," tegasnya

Perihal kapok dan pentingnya konsentrasi saat berkendara juga diungkapkan Rudy, 35. Ia pernah merasakan kerasnya aspal ibu kota akibat berkendara sambil merokok.

Sepeda motor matiknya oleng dan langsung menghempaskan Rudy bersama rokok yang masih terselip di jari kanannya. Menurutnya, merokok sambil berkendara membuat pengemudi kehilangan konsentrasi. Selain itu teknik berkendara pun cenderung tidak aman karena fungsi tangan tidak mengenggam maksimal.

"Orang yang merokok sambil nyetir motor otomatis fungsi tangan kiri tidak maksimal. Genggaman jadi tidak maksimal apalagi melewati polisi tidur, pasti tidak akan seimbang," ungkapnya.

Kejadian di sekitar kawasan Kampung Melayu sekitar empat tahun lalu itu, menyisakan luka serius di bagian kepalanya. Akibatnya ia harus setop beraktivitas dalam waktu yang cukup lama.

Dia pun meminta pengendara kendaraan untuk lebih mengutamakan keselamatan dengan berkonsentrasi penuh saat berkendara.

"Saya mau jadi perokok yang waras dan beretika. Jadi tidak ada alasan untuk mengabaikan keselamatan demi merokok atau hal lain yang bisa membuyarkan konsentrasi," tuturnya.

Rudy menambahkan pemerintah bisa menerapkan aturan tegas terkait pelarangan tindakan pengendara yang tidak mengindahkan keselamatan.

"Saya mendukung ada aturan tegas agar santun berkendara dan menjadi pengendara yang berorientasi keselamatan," imbuhnya.

Kepala Korps Lalu Lintas Polri Irjen Royke Lumowa menuturkan, peradaban disiplin lalu lintas harus berangkat dari kesadaran mengutamakan keselamatan, bukan ketakutan.

Para penegak hukum sering kali mengutamakan pada ancaman hukuman. Kontroversial penjabaran pasal 106 UU Lalu Lintas menjadi informasi yang meresahkan.

"Hukum adalah ikon peradaban yang merupakan kesepakatan mengatur tatanan kehidupan sosial, yang memberikan perlindungan pengayoman pelayan dan pencerdasan kehidupan bangsa. Penegakkan hukum di bidang lalu lintas tidak hanya sebatas menyalahkan atau mencari kesalahan, melainkan untuk mencegah kecelakaan lalu lintas yang bermakna meningkatkan kualitas keselamatan dan menurunkan tingkat fatalitas korban kecelakaan," tandasnya. (OL-4)

BERITA TERKAIT