Karya di Tengah Ladang Makna


Penulis: micom - 04 March 2018, 13:45 WIB
img
MI/ABDILLAH M MARZUQI

IA menyebut karyanya sebagai found object. Ia memang tidak membuat karyanya dari bahan mentah. Meski berbentuk tiga dimensi, ternyata karya tersebut dibuat dari bahan bekas. Bahan apa pun bisa dijadikan karya menarik, unik, dan bercita rasa seni. Uniknya lagi, karya seni dengan tingkat kerumitan tinggi itu dibuat dengan tanpa melalui proses sketsa dan perencanaan.

Itulah karya Hendra Blankon Priyadhani yang bertajuk Walk in The Line. Karya itu menjadi salah satu yang dipamerkan dalam tajuk Semesta Kecil di Tengah-tengah Ladang Makna. Pameran seni kontemporer itu merupakan wujud dukungan Martell untuk seni tanah air. Pameran itu dihelat di Edwin's Gallery, Jakarta pada 1-11 Maret 2018. Pameran itu dikuratori Danuh Tyas.

Pameran ini menampilkan karya dari 14 seniman Indonesia, di antaranya Abenk Alter, Anton Subiyanto, Emte (Muhammad Taufiq), Hendra 'Blankon' Priyadhani, I Putu Adi Suanjaya 'Kencut,' Michael Binuko, Ngakan Putu Agus Arta Wijaya, Nurrachmat Widyasena, Radhinal Indra, Rocka Radipa, Rudy Atjeh, Sekarputri Sidhiawati, Walid Syarthowi, dan Yosefa Aulia.

Istilah found object digunakan Hendra untuk menyebut semua benda yang dikumpulkannya. Ia mengumpulkan benda-benda itu dalam setiap aktivitas kesehariannya. "Ini found object, ya. Saya ketemu di mana saya collect. Saya kolektor apa pun yang di jalan saya temukan," terang Hendra.

Pada proses pengumpulan bahan bakal karya, Hendra mengaku hanya mengandalkan intuisinya. Ia bahkan belum punya bayangan tentang karya yang dibuat dari benda temuan itu. Ia tidak tahu objek hasil kumpulannya bakal dibuat menjadi bentuk dan karya seperti apa.

"Saya enggak tahu ini bakalan dimana. Dia punya daya tarik tersendiri bagi saya," ujarnya saat menjelaskan karyanya. "Karya saya tidak melalui proses sketsa maupun rencana. Total intuisi," Hendra menampilkan dua karya dengan bentuk tiga dimensi, yakni Walk in The Line (2018) dan Iron Elegance (2017).

Dalam kuratorial oleh Danuh Tyas, disebutkan bahwa karya seni adalah perwujudan ide cara pandang dan tanggapan seniman terhadap lingkungan di sekelilingnya. Tiap seniman hidup di lingkungan yang berbeda, dengan begitu tiap karya memberikan pengalaman yang berbeda pula.

Dalam seni rupa kontemporer, gagasan tentang 'seniotonom' tidak lagi menjadi utama. Karya-karya seni rupa hari ini, justru menunjukkan kaitan yang erat dengan berbagai persoalan yang melingkupi seniman pembuatnya. Maka, karya-karya yang membicarakan persoalan lingkungan, sosial, politik bukan hal yang langka. Namun, meski banyak membicarakan persoalan yang berada di sekitarnya, karya seni tetaplah bersifat subjektif karena ia lahir dari tanggapan dan pemaknaan si seniman.

Meski berkaitan dengan persoalan sosial, politik, lingkungan dan sebagainya, karya tetaplah memiliki muatan subjektif (tanggapan personal) seniman tentang berbagai persoalan tersebut.

Dengan kenyataan macam itu, seniman bergantung pada dunia sekitarnya. Pada dunia sekitarnyalah seniman mendapat sesuatu yang menarik baginya, untuk dia tanggapi dan maknai, dan diwujudkan dalam karya. "Dunia sekitar adalah sebuah ladang makna yang justru memungkinkan gagasan berkarya seorang seniman hidup subur," terang Danuh Tyas dalam kuratorial. (Abdilla M Marzuqi/M-2)

echo $details;
BERITA TERKAIT