Berbagi Kebaikan dan Kebahagiaan dalam Seni


Penulis: Ardi Teristi Hardi - 04 March 2018, 13:30 WIB
DEDDY PAW
DEDDY PAW

ENAM lukisan Buddha yang masing-masing berkuran 30 sentimeter x 30 sentimeter tersaji secara apik dalam kanvas berukuran 90 sentimeter x 60 sentimeter. Keenam lukisan Buddha tengah berada dalam sikap Mudra Dharmachakra.

Dari enam panel lukisan Buddha, ada tiga bagian lukisan yang latarnya memiliki warna-warna yang berbeda, yaitu hijau, merah, dan kuning. Ketiga warna tersebut merepresentasikan Islam, Kristen, dan Buddha. Sementara itu, kupu-kupu yang berada di sekitar Buddha menunjukkan sesuatu yang baik akan datang.

Lukisan enam panel Buddha yang ditampilkan ini merupakan karya perupa asal Borobudur Deddy PAW yang diberi judul Life, Love, Peace #2. Menurut Anton Larenz selaku kurator pameran ini, karya Deddy yang seorang muslim, terinspirasi dari candi Buddha yang ada di sekitar tempatnya, yaitu menjaga kedamaian pikiran, berbuat baik kepada orang lain, dan berbagi pengetahuan. "Jika kita berbuat baik, sesuatu yang baik akan kembali kepada kita," kata dia.

Karya Deddy PAW tersebut salah satu yang dipamerkan dalam pameran seni rupa bertajuk Small Thing, Great Meaning #3, Sharing Goodness & Happiness di Padepokan Apel Watoe, Borobudur, Magelang. Pameran tersebut berlangsung dari 24 Februari-24 Maret 2018.

Sebanyak 23 perupa dari 7 negara menampilkan karya mereka dalam pameran seni rupa tersebut. Selain dari Indonesia, ada enam negara yang berpartisipasi dalam pameran ini, yaitu Abu Jalal Sarimon dari Singapura, Abu Zaki Hadri dari Malaysia, Bounpaul Phothyzan dan Marisa Darasavath dari Laos, Kexin Zhang dari Tiongkok, Samy R R Veremeulen dari Jerman, dan Nahla Ali dari Mesir.

Seniman asal Singapura, Abu Jalal Sarimon menampilkan lukisan yang berjudul Resurrect, Revive Rebirth in Blue. Dalam lukisan tersebut, Abu Jalal menggambarkan tubuh petinju yang kuat agar dapat berhasil dan bertahan. Di sekitarnya terdapat sketsa-sketsa petinju yang dalam posisi siap memukul. Pesan untuk selalu siap bertanding dan pantang menyerah terlihat kuat dalam lukisan tersebut.

Menurut Anton, seniman yang meraih Gold Award Winner for UOB Painting of the Year 2017 ini menemukan kebahagiaan personalnya dalam warna. Walau demikan, Abu Jalal tetap tertantang dan berjuang untuk menyuarakan yang ada di sekitarnya, tentang masyarakat dan lingkungan ke dalam seni.

Abu Zaki Hadri memamerkan lukisan dengan judul Pudu Station in The Future, yang memperlihatkan sisi positif dan negatif dari urbanisasi. Samy RR Vermaulen dengan karya instalasi berjudul Greed memperlihatkan ulah manusia yang mengakibatkan kerusakan lingkungan.

Dari Indonesia, selain Deddy PAW, ada beberapa seniman Indonesia yang memamerkan karya-karyanya dalam pameran ini, seperti Antonius Kho, Choirudin, Cipto Purnomo, Damtoz Andreas, Erica Hestu Wahyuni, Gusmen Heriadi, Hatmojo, Lhaksmi Shitaresmi, Nurfu AD, Imam Yunni, Putut Wahyu Widodo, Ruddy Pata Areadi, Susthanto, Yani Mariani Sastranegara, dan Yogi Setyawan.

Perupa Antonius Kho yang menampilkan lukisan di atas kanvas dengan judul Daydreaming #2. Dalam lukisannya ia menampilkan simbol-simbol dari keberuntungan dan kebahagiaan. Daydreaming merupakan cara melarikan diri dari realitas, mencari kebahagiaan dalam realitas yang lain.

Cipto Utomo dalam karyanta, The Eagle Family terlihat menampilkan visi ke depan, tentang kegelisahan pengaruh pembangunan bagi masyarakat di Indonesia. Pria yang memiliki studio di dekat Candi Pawon ini mengimajinasikan, tentang sesuatu yang akan tetap bertahan dan kebaikan apa yang didapat dari percepatan modernisasi.

Kebaikan dan Kebahagiaan
Deddy PAW menyebut pameran ini bagian dari agenda tahunan dengan nama Small Thing, Great Meaning dan sudah memasuki tahun ketiga. Judul yang dipilih ingin mengingatkan, kebaikan dan kebahagiaan itu penting, bermakna dalam, dan bisa memunculkan ide-ide yang besar dan kuat.

"Ini menjadi bagian dari pertemuan para perupa Indonesia dengan perupa luar negeri," kata dia.

Pameran tersebut memperkaya pengalaman para seniman Indonesia, khususnya Borobudur, dalam berkarya dan menyampaikan kepada publik. Pameran ini pun diharapkan semakin memperkuat posisi Magelang dengan Candi Borobudurnya dalam peta seni rupa dunia. Deddy mengatakan, seniman dari Magelang, Borobudur, dengan karya-karyanya yang berkualitas, patut diperhitungkan.

Anton Larens selaku kurator pameran menilai, tema membagi kebaikan dan kebahagiaan merupakan dua kata yang sangat besar maknanya bagi setiap orang. Pemaknaan terhadap kebaikan dan kebahagiaan tergantung pada budaya, sosial, psikologi, dan agama yang dipercayai.

Ada orang yang memaknai kebaikan dan kebahagiaan dalam bentuk materi, seperti uang, rumah, dan mobil, tetapi ada pula yang memaknai kebaikan dan kebahagiaan ialah perasaan emosi yang bertingkat-tingkat.

"Dalam pameran ini, seniman-seniman menampilkan banyak jalan menuju kebahagiaan, lewat kebaikan," kata dia. Mereka membagi ide tentang kebaikan dan kebahagiaan lewat berbagai sudut pandang.

Pada perupa menampilkan kebahagiaan dan kebaikan dalam karya mereka lewat keahlian teknik seni dan pengetahuan yang dimiliki tiap-tiap seniman. Para perupa memiliki latar belakang yang berbeda-beda, ada yang belajar seni rupa secara mandiri, ada yang lewat perguruan tinggi, tetapi ada pula yang dari pekerjaan yang pernah digeluti, misalnya ilustrator, disainer, guru, dan lain-lain.

Kurator asal Jerman yang pernah menempuh pendidikan Antropologi di University of Goettingen ini menyebut, spirit lokal bisa dilihat dan dirasakan dalam karya-karya yang dipamerkan.

Direktur Art Xchange Gallery Singapura, Benny Oentoro, mengapresiasi pameran yang sudah memasuki tahun ketiga. Di tengah pasar seni rupa yang lesu, para seniman tetap semangat berkarya dan menggelar pameran.

Ia menyebut, pameran seni yang digelar di Asia maupun Eropa minatnya menurun, baik dilihat dari peserta pameran maupun pembelian karya seni.

Walau demikian, ia berharap, para seniman diminta tetap semangat berkarya. "Walau pasar tidak kondusif karya bagus tetap dininati. Saya minta sniman harus tetap berkarya dan kolektor bisa terus mendukung," kata dia sebelum membuka pameran tersebut.

Kolektor lukisan dan sekaligus pemilik OHD Museum Kota Magelang, Oei Hong Djien dalam kesempatan tersebut mengajak seluruh yang hadir untuk tertawa, bentuk kebahagiaan, sesuai dengan judul pameran. "Marilah kita sambut pameran ini dengan tetawa bersama hahaha," kata dia.

Oei menyebut, walau pameran lesu, tetapi gairah tetap ada. Hal tersebut dilihat dari penjualan lukisan yang fantastis, yaitu hingga Rp450 miliar. Untuk pelukis dalam negeri, lukisan Raden Saleh menyentuh nilai fantastis, yaitu Rp 146 miliar.

Dengan fenomena tersebut, lukisan-lukisan bagus hanya bisa dikoleksi orang superkaya. Hal tersebut meresahkan museum-museum seni yang ada.

"Musem-museum di luar negeri menghadapi problem sama. Museum publik yang dibiayai negara, pembiayaan negara makin hari makin kurang," kata dia. Mau tidak mau museum-museum yang ada sekarang harus saling kerja sama agar bisa menampilkan karya-karya terbaik.

"Museum tidak usah membelu, tetapi cukup saling meminjamkan karya," kata dia. Cara ini dinilai juga menguntungkan karena museum di Indonesia bisa pameran dan bekerja sama dengan museum terkenal di luar negeri diajak.

"Kita bisa mempromosikan karya-karya seniman Indonesia ke luar dengan biaya tidak terlalu besar," kata dia. Cara ini bisa mengangkat seniman Indonesia di luar negeri dan menjadi kesempatan seniman Indonesia go international. (M-2)

ardi@mediaindonesia.com

BERITA TERKAIT