Basah dan Menantang di Wonosobo


Penulis: TOSIANI - 04 March 2018, 07:03 WIB
img
Dok MI

Wonosobo, Jawa Tengah, bukan cuma dataran tinggi Dieng. Masih tersimpan tiga destinasi yang bersumber pada berkah air, mulai Curug Kedungpane, Curug Sikarim, hingga Sen­dang Air Biru Kalicecep. Pun, penyuka tantangan, bisa menjelajah medan offroad di Puncak Siloreng serta keunikan lembah Sigelap. Aneka destinasi itu memang belum serapi Dieng, tapi pesona alamnya tak boleh dilewatkan.

Curug Kedungpane
Lokasinya di Desa Erorejo, Kecamatan Wadaslintang. Lokasinya 40 kilometer dari pusat Kota Wonosobo. Objek wisata ini baru resmi dibuka pada Mei 2017. Di Curug Kedungpane, pengunjung akan mendapati panorama khas perdesaan nan alami. Gemericik air nan jernih dan hamparan persawahan di sekelilingnya menebarkan tenteram dan nyaman. Curug cukup aman untuk mandi buat memaksimalkan ke­sejukan serta kesegaran.

Tak jauh dari sana terdapat puncak Bukit Windusari. Hamparan hijau perbukitan menambah asri suasana perdesaan di sekitarnya. Bukit Windusari ini kerap dijuluki The Highest Point in Erorejo. Di kawasan ini wisatawan bakal dibuat terpukau dengan bentang alam nan elok.
Di pagi dan sore hari, akan terlihat pesona matahari terbit. Begitupun jika sore hari, akan bertemu nuansa elok saat matahari tenggelam dari puncak Windusari. Agar dapat meng­akses objek-objek wisata tersebut, pihak desa tak mematok tarif mahal. Tiap pengunjung hanya dikenai ongkos parkir kendaraan sebesar Rp2.000.

Tak jauh dari lokasi wisata ini juga terdapat potensi wisata lain yang tak kalah bagus, yakni Lubang Sewu. Bahkan, menurut Ketua Karang Taruna Desa Erorejo, Anas Fauzi, Lubang Sewu sudah lebih ramai dikunjungi orang. Setiap minggunya ada sekitar 2.000 orang yang mengunjungi. Kebanyakan mereka ialah wisatawan lokal.

“Yang penting ekonomi masyarakat desa dapat bergerak dengan dibukanya objek wisata ini sehingga kami tidak menarik tarif yang mahal. Juga harapan kami akan muncul peluang usaha bagi warga desa,” ujar Kepala Desa Erorejo, Ambar Riyanto.

Pesona Curug Sikarim
Kontur geografis sebagai kawasan gunung dan pegunungan, serta melimpahnya sumber mata air, memunculkan puluhan air terjun dengan pesona luar biasa di berbagai wilayah Kabupaten Wonosobo. Salah satu yang memiliki panorama paling memukau ialah Curug Sikarim. Terletak masih di pegunung­an Dieng, tepatnya di Desa Sembungan, Kecamatan Kejajar, sekitar 20 kilometer dari pusat kota. Curug ini sejalur dengan arah ke Telaga Menjer dan Bukit Seroja yang lebih banyak dikenal orang.

Air yang berasal dari limpahan Telaga Cebong tersebut mengalir menuruni tebing perbukitan setinggi hampir 90 meter lalu jatuh ke Sungai Mlandi. Pada saat debit air cukup besar, curug tersebut tak hanya menampakkan satu air terjun. Bisa lebih dari tiga atau empat jatuhan air yang terlihat sangat indah dari jalan Garung-Sembungan.

Jika cuaca cerah, sekitar tengah hari, pengunjung yang beruntung juga akan bisa menikmati Curug Sikarim menyajikan pelangi yang sangat indah. Namun, karena Desa Sembungan memang merupakan desa tertinggi, cuaca cerah tanpa kabut memang tak bisa ditemui setiap hari. Sayangnya, Curug Sikarim ini belum bisa dikelola secara maksimal. Penyebab utamanya lantaran akses jalan yang masih belum memadai. Jalan dari Sembungan rusak parah dan sulit untuk bisa dilalui kendaraan, begitu pula akses dari Garung via Mlandi dan Sirangkel juga masih ada sekitar 7 kilometer jalannya rusak. Padahal mestinya Curug Sikarim bisa dijangkau dalam waktu tak lebih dari 20 menit dari pasar Garung jika kondisi jalan lebih bagus.

Saat ini jalur ke arah objek wisata Curug Sikarim ini lebih mudah ditempuh dengan menggunakan mobil offroad atau sepeda motor trail. Hal itu dengan mempertimbangkan kondisi jalan yang masih sukar dijangkau dengan kendaraan biasa. Pihak pemerintah kabupaten, menurut Kepala Kantor Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Agus Purnomo, telah memasukkan program perbaikan jalan alternatif Garung-Sembungan, dan sudah dimulai pada 2017. “Saya berharap kelompok sadar wisata Desa Sembungan maupun Mlandi bisa lebih kreatif untuk menarik wisatawan agar berkunjung ke Sikarim,” kata Agus.

Sendang Air Biru Kalicecep
Sebuah sendang yang letaknya tersembunyi di Dusun Kalicecep, Desa Bajiarum, Kertek, kini populer di kalangan penggemar swafoto (selfie). Setiap harinya, tak kurang dari 20 orang berkunjung ke sendang yang berada di aliran Sungai Kawung tersebut. Jumlah itu menjadi berlipat hingga mencapai ratusan pada akhir pekan. Daya tarik sendang yang kini menjadi objek wisata baru itu terletak pada airnya yang jernih dan memancarkan warna kebiruan.

Sendang Kalicecep ini berada di bawah curug, yang meski tidak terlalu tinggi, airnya cukup deras. Pendar biru sudah terlihat dari kejauh­an, sekitar 20 meter di bawahnya. Mengenai warna biru yang terlihat, konon berasal dari batuan di dasar sungai. Kilau kebiruan air di permukaan sendang dengan kedalaman sekitar 3 meter tersebut memang terlihat sangat menarik, terlebih ketika cuaca cerah dan sinar matahari menyinari kawasan itu.

Pendar warna biru yang memancar dari sendang memunculkan mitos di masyarakat, bahwa jika sampai mandi dan berendam di dalam sendang itu, akan membuat kulit lebih bagus dan terlihat awet muda. Cerita ini membuat pengunjung makin yakin untuk berwisata ke sendang biru di Kalicecep.

Erwin,30, wisatawan asal Se­lomerto, mengaku datang bersama teman-temannya untuk merasakan kesegaran air Sendang Kalicecep. Diakui Erwin, sendang ini merupakan objek foto yang sangat tepat dan bagus. “Sendang berair biru ini jelas menjadi objek foto yang sangat layak karena areanya memang sangat eksotis,” ujar Erwin.

Medan Offroad menantang di puncak Siloreng
Puncak bukit Si Loreng di Desa Somogede, Kecamatan Wadaslintang, belum lama ini dibuka sebagai area wisata alam baru oleh pemerintah desa setempat. Tak dinyana, begitu dibolehkan untuk dikunjungi, minat warga sekitar begitu tinggi.
Tak sekadar berkunjung dan menikmati keindahan panorama bentang alam nan memukau, sebagian pengunjung yang datang juga mengaku tertantang untuk menjelajah area Si Loreng dengan menggunakan motor trail. Belum lama ini, rombongan crosser lintas negara bahkan telah mencoba terabas di puncak Si Loreng.

Ketertarikan para pecinta terabas lantaran medan menuju puncak Si Loreng memang konturnya cocok untuk dijelajahi dengan motor trail. Banyak warga sekitar memodifikasi sepeda motor mereka agar bisa digunakan untuk mendaki Si Loreng.
Berada di puncak Si Loreng memang memberi kesan berbeda. Pemandangannya luar biasa karena dari sini terlihat gugusan pegunungan dan lembah dengan hamparan hijau yang membuat mata terasa lebih sejuk. Medan dengan kemiringan hampir 90 derajat menuju puncak Si Loreng memberi sensasi yang memicu adrenalin.

Sesampainya di puncak dengan ketinggian sekitar 800 meter wisatawan bakal disuguhi pemandangan menakjukan. Dari puncak ini terlihat Kabupaten Banjarnegara, Kebumen, Temanggung, dan Kabupaten Magelang. Pengunjung yang tentu kelelahan setelah mendaki puncak Si Loreng akan bisa diarahkan untuk berendam di Kalianget dan merasakan sensasi air panas nan jernih tanpa bau belerang.

Lembah Sigelap
Objek wisata dengan panorama menawan bertebaran di seantero Wonosobo. Salah satu yang kini banyak didatangi pengunjung ialah Lembah Sigelap di Desa Kreo, Kecamatan Kejajar. Di lembah tersebut dibangun sebuah bendungan kecil/dam di aliran Sungai Serayu sebagai sumber air untuk Telaga Menjer. Keberadaan dam yang dibangun sejak era kolonial Belanda itulah yang kemudian membuat jurang sedalam sekitar 150 meter itu akhirnya menampakkan panorama indah, termasuk membentuk batuan bertekstur unik. Dukungan pepohonan hijau di sekitarnya membuat lembah ini terkesan lebih gelap.

Jalan turun dari pos pemantauan ke Lembah Sigelap yang terdiri dari ratusan anak tangga juga bagus sebagai lokasi untuk berfoto. Hingga saat ini, pemda dan pemdes setempat belum memungut retribusi untuk kunjungan wisata ke Lembah Sigelap. Area milik PLTA Garung. Di sepanjang jalan menuju Lembah Sigelap, pengunjung memang disuguhi dengan keindahan bentang perkebunan teh milik PT Tambi. Meski demikian, pengunjung ke lokasi wisata ini harus tetap berhati-hati. Lokasi dam yang berada di aliran Sungai Serayu membuat air kerap meluap, terutama jika musim penghujan. (M-1)

BERITA TERKAIT