Pesan Mendalam di Balik Guyonan


Penulis: Abdillah M Marzuqi - 25 February 2018, 12:40 WIB
Soelasno Lasmono sebagai Pangeran Dipati Mandurareja tengah berakting dalam pagelaran ketoprak guyonan bertajuk Geger Batavia di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki Jakarta pada 23 Februari 2018---MI/Abdillah M Marzuqi
Soelasno Lasmono sebagai Pangeran Dipati Mandurareja tengah berakting dalam pagelaran ketoprak guyonan bertajuk Geger Batavia di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki Jakarta pada 23 Februari 2018---MI/Abdillah M Marzuqi

PENTAS ini bukan sekadar wadah untuk mengadu seni peran. Bukan pula sekadar ajang nampang dan pamer. Sebaliknya ada pesan kuat yang hendak disampaikan. Kali ini panggung adalah penyeru. Panggung sebagai medium untuk kembali bersuara dan berpesan untuk para anak bangsa. Panggung dipakai untuk mengingatkan tentang semangat dan perjuangan para leluhur untuk mandiri berdaulat dalam segala bidang.

Itulah semangat yang diusung dalam pagelaran ketoprak guyonan bertajuk Geger Batavia yang dihelat Perhimpunan Organisasi Alumni PTN Indonesia (Himpuni). Helatan ini diadakan di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki Jakarta pada 23 Februari 2018.

Memang selama pergelaran berlangsung, guyonan tidak pernah sepi dari panggung. Guyonan itu ternyata disambut hangat oleh para penonton. Meski pentas guyonan, pesan pada pentas ini sama sekali bukan guyonan. Pesan tentang pelestarian budaya sangat kental dalam pentas ini.

“Ini bukti nyata dari Himpuni dalam melestarikan budaya Indonesia,” terang Ketua Panitia Soelasno Lasmono yang juga berperan sebagai Pangeran Dipati Mandurareja.

Pentas itu diawali dengan adegan pasowanan atau pertemuan Sultan Agung untuk membicirakan keadaan Mataram dan membahas penutupan semua pelabuhan Mataram di pesisir utara Jawa untuk membatasi ruang gerak VOC.

Raja Mataram Sultan Agung Hanyakra Kusuma berhasil memperluas wilayahnya dari Blambangan sampai Parahyangan. Hanya Banten dan Batavia yang tidak dikuasai. Ia melihat sepak terjang bangsa asing yang berke­lompok dengan sebutan VOC dirasa sangat merugikan dan membahayakan Mataram. VOC mempunyai prajurit di Batavia agar bisa monopoli perdagangan dan menguras hasil bumi.

Untuk mencegah meluasnya pengaruh VOC di tanah Jawa, Raja Mataram menutup pelabuhan dan hendak mengusir VOC. Sultan Agung memanggil kedua Dipati Parahyangan untuk diperintahkan membantu pasukan Mataram menyerang VOC.

Saat penyerangan, Pasukan Ukur di Marunda tidak bertemu dengan Pasukan Mataram. Mereka mengira Pasukan Mataram telah menuju Batavia, maka Dipati Ukur dan pasukannya berangkat menyerang Batavia. Namun ternyata Pasukan Mataram belum ada sehingga Pasukan Ukur mengalami kekalahan.

Sebaliknya, Pasukan Mata­ram yang tidak menemukan Pasukan Ukur di Marunda mengira Ukur dan Sumedang berkhianat. Mataram menyerang Batavia hingga banyak korban. Mataram pun mundur.

Inilah inti pesan yang ingin disampaikan. Meskipun kalah, nyatanya mereka telah berjuang dan berusaha untuk kemandirian dan kedaulatan. “Walau kalah, kita tetap berjuang. Itulah pesan yang ingin kami sampaikan kepada masyarakat bahwa jangan pernah berhenti untuk berjuang mandiri,” tegas Soelasno.

Semangat itulah yang ingin disampaikan melalui pentas itu. Kalah ataupun persoalan menjadi sebuah persoalan lain. Namun, yang hendak di­garisbawahi bahwa perjuangan bersifat wajib. Usaha untuk mencapai kemandirian dan kedaulatan ialah keniscayaan bagi setiap jiwa yang mendambakan martabat. (M-2)

BERITA TERKAIT