Kolaborasi Seni Rupa dan Sastra


Penulis: Abdillah M Marzuqi - 25 February 2018, 12:27 WIB
img
Perupa Dyan Anggraini berdiri di samping patung karyanya berjudul Yang Terbungkam, pada pamerannya yang berkolaborasi dengan penyair Landung Simatupang, bertajuk Perempuan (di) Borobudur, di Galeri Nasional, Jakarta, Rabu (21/2/20)---ANTARA/Dodo Karundeng

PEREMPUAN memang menjadi figur penting dan sentral dalam apapun dan kapanpun. Perannya menjadi daya hidup dari kehidupan manusia. Ia adalah penjamin dari keberlangsungan setiap pewaris peradaban. Namun tak jarang pula, perannya hanya dipandang sebagai penghibur dan pelengkap semata.

Itulah yang menjadikan menarik ketika mengamati karya Dian Anggraini. Kebanyakan karyanya yang dipajang menampilkan figur perempuan dengan latar relief Candi Borobudur.

Uniknya, hampir semua ­figur wanita diposisikan membelakangi dan tidak menampakkan muka. Hanya ­punggung yang bisa ditangkap pandang. Sedangkan wajahnya bersembunyi di balik rambut. Jika mereka menghadap depan, muka pun tertutup topeng. Bisa jadi mereka sengaja memakai topeng atau ditopengkan.

Menopengkan diri atau ditopengkan, dua jalinan makna itulah yang menjadi kunci untuk memahami konsep pameran Dyan Anggraini dan Landung Simatupang yang bertajuk Perempuan (di) Borobudur.

Helatan itu berlangsung di Gedung A Galeri Nasional Indonesia pada 21 Februari sampai 5 Maret 2018. Pameran ini dikuratori oleh Suwarno Wisetrotomo.

Konsep itu tersaji dalam sekitar 40 karya dua dan tiga dimensi yang memadukan seni rupa serta sastra. Itu adalah kolaborasi unik yang menyajikan kesatua antara seorang perupa dan seorang sastrawan dalam satu kesatuan konsep yang utuh.

Dyan Anggraini menggubah karya-karya seni rupa lalu ­direspon oleh penyair ­Landung Simatupang, menjadi karya-karya puisi. Kolaborasi itu tidak sekedar menyamakan yang berbeda ataupun menyatukan perbedaan. Lebih dari itu, kolaborasi menyimpan kesepakatan untuk menyampaikan sebuah pesan ataupun simbol tertentu.

Sarat pesan moral
Karya-karya pada pameran ini menjadi bentuk tanggapan dalam konteks masa kini terhadap relief-relief di candi Borobudur dengan pesan moralnya, dan kehadiran serta peran figur perempuan di dalamnya.

Meskipun pesan-pesan itu merupakan bagian sangat penting dari warisan tak-benda (intangible) Borobudur, namun relatif belum banyak karya seni rupa di Indonesia yang diciptakan terkait dengannya.

“Kolaborasi ini menarik, karena dua orang seniman yang berbeda disiplin kreatif bekerja sama, saling mengisi dan melengkapi. Sebuah topik penting dan sensitif, yakni perkara peran perempuan di tengah industri pariwisata yang berorientasi pada jumlah dan lama kunjungan. Orientasi itu sangat mungkin berpotensi mengabaikan aspek nilai-nilai budaya intangible (tak benda). Kompleksitas persoalan itulah yang menjadi lahan ide kedua seniman ini,” terang Suwarno dalam kuratorial.

Menurut Landung ada banyak relief tentang perempuan di Borobudur yang terbagi dalam panel-panel relief dengan narasi bermacam-macam. Ia mencontohkan figur perempuan pada bagian panel Lalitavistara yang meriwayatkan kelahiran Buddha, dari kelahiran Sidharta Gautama sampai dia berkhotbah yang pertama kalinya.

“Di situ ada peran perempuan macam-macam juga, ada Dewi Maya sebagai ibunya tapi ada juga perempuan perempuan penghibur yang dicoba untuk ditawarkan kepada Sidharta agar dia menghentikan niatnya untuk menjadi seorang biku atau pertapa,” lanjut Landung.

Kemudian ada juga relief tentang Manohara yang bercerita tentang seorang putri dari dunia atas, dunia dewa-dewi. Manohara turun dari dunia atau ke dunia manusia. Di dunia bawah justru ia mendapatkan kesengsaraan perlakuan yang sangat tidak baik di dunia manusia. Manohara lalu terbang kembali ke dunia atas sembari tetap setia menunggu suaminya yang manusia menyusul. Pada akhirnya mereka bisa bertemu lagi lalu kembali ke bumi untuk menyelenggarakan pemerintahan di suatu negeri yakni Pancala.

“Jadi memang ada beberapa jalur tentang perempuan yang tergambar dalam relief-relief itu. Karena ada juga relief-relief yang tidak ada dalam rangkaian cerita yaitu relief Dewi Tara,” sambung lelaki pemilik buku puisi Tonggak 4 kelahiran Yogyakarta itu.

Ternyata Dewi Tara dalam mitologi Budisme adalah anak seorang raja. Putri raja itu tertarik untuk ingin mengikuti sang Budha dengan menjadi petapa, menjadi orang yang ingin melepaskan makhluk-makhluk lain dari samsara atau kesengsaraan.

Dewi Tara lalu disuruh memohon agar dalam kelahiran kembali (reinkarnasi) lahir sebagai laki-laki agar kebudhaan-mu sempurna. Dewi Tara menjawab sampai kapanpun akan tetap minta ­lahir sebagai perempuan. Kalaupun ia bisa ke ­Nirwana juga ­sebagai perempuan. Itu ternyata di afirmasi oleh ­Budha. Justru ia dibimbing oleh Budha.

“Itu yang kami respon, tapi lalu sambil melihat bahwa perempuan dimanapun masih terkendala haknya, suaranya juga kurang didengar,” tegas Landung.

Kerajinan gerabah
Alasan lain yang menjadikan tema itu menarik adalah sebuah dusun bernama Klipoh. Sentra kerajinan gerabah tak jauh dari Candi Borobudur. Dari situs tujuan wisata begitu riuh meriah ternyata dusun itu punya pemandangan sebaliknya, sebuah dusun sepi yang cukup kumuh. Ada cerita di desa itulah dulu para perempuan memasak untuk para pekerja yang membangun Borobudur.

Para perempuan Klipoh menjadi tulang punggung keluarga dengan gerabah yang boleh jadi penghasilan­nya tak seberapa. Klipoh seolah menjadi antitesis dari keberadaan nama Borobudur yang megah dalam dunia pariwisata dan pesan moral yang begitu ­dalam pada setiap bagiannya.

“Padahal kalau orang membaca relief di Borobudur ­banyak sekali pesan moral yang justru bertentangan ­dengan dunia sekitarnya yang sangat materialistik. Itu yang kami respon,” lanjut sastrawan sekaligus aktor yang pernah dinominasikan sebagai Aktor Pendukung Pria Terbaik pada Festival Film ­Indonesia 2011.

“Pesan moral seperti itu, ­kesalehan sosial yang tercermin dalam relief-relief. Sementara Borobudur-nya dijual, ­sementara pesan-pesannya ditinggalkan. Jadi kami ingin pesan relief itu dibaca,” pungkasnya. (M-2)

echo $details;
BERITA TERKAIT