Harumnya Aroma Kopi di Hamparan Kebun Teh


Penulis: Ferdian Ananda Majni - 25 February 2018, 14:00 WIB
MI/FERDIAN ANANDA M
MI/FERDIAN ANANDA M

TIDAK sulit menemukan pabrik Kopi Malabar. Berjarak sekitar 2 kilometer dari jalan raya Pengalengan dengan menyusuri jalanan sedkit menanjak ke perkampungan.

Sepanjang mata memandang hamparan kebun teh membentang luas. Menariknya, aroma kopi menyeruak ke udara. Sore itu, rinai hujan mulai turun.

Pasalnya, saya tidak bisa menyusuri kebun kopi yang berada di ketinggian 1.400 mdpl hingga 2.000 mdpl karena kondisi cuaca yang tidak mendukung. Akhirnya, saya menikmati secangkir kopi malabar sembari menunggu pemiliknya.

Kelompok Tani Rahayu bergerak di bidang budi daya hortikultura diresmikan 24 September 1992. Berdasarkan hasil rapat anggota, 17 Mei 2001, mereka sepakat hanya menanam satu komoditas, yaitu kopi.

Kepada Media Indonesia, sang pemilik usaha kopi malabar, Supriatna Danuri, kemudian mengatakan perkebunan kopi malabar berada lahan perhutani. Ia mulai bergiat menanam kopi sejak 1999 dan mengalami kegagalan selama 3 tahun. Pada 2003, biji kopi sigarautang dari Tapanuli Utara dapat tumbuh dengan baik.

"Sampai sekarang benih sigarautang itu tumbuh baik dan bagus di dataran tinggi Gunung Malabar. Sejak 2003 hingga 2014, masih menjadi kebun produksi. Selanjutnya menjadi kebun sumber benih sampai saat ini dengan SK kementan," katanya.

Kini, penggila kopi pun pelancong yang ingin menjajal pengalaman seru di kebun hingga pabrik pengolahnya bisa mengikuti paket wisata, cari saja informasinya harga dan jadwlanya di https://www.camponfarm.com. Situs yang berfokus pada wisata di aneka kebun dan kandang itu memasukkan kopi malabar sebagai salah stau destinasinya.

Petani dan Perhutani
Supriatna menjelaskan, untuk pemekaran lahan pihaknya bermitra dengan perhutani sebanyak 650 hektare. Meski demikian, hanya 350 hektare yang baru ditanami biji kopi dibantu kelompok tani 300 orang.

Danuri mengaku, sebelumnya Pegunungan Malabar terkenal dengan kebun teh. Namun, seiring waktu ia melihat peluang penanaman kopi juga terbuka lebar di kawasan tersebut. Apalagi dengan ketinggian 1.400 mdpl.

"Kami awalnya menanam sumber benih di ketinggian 1.515 mdpl. Sedangkan kebun terakhir berada di ketinggian 2.050 mdpl," terangnya.

Ia menyebutkan, kopi malabar sebagai perusahaan untuk pemasaran. Sedangkan pengerak utama ialah kelompok tani.

"Jumlah anggota kelompok tani semakin bertambah. Pada 2009, LMDH Rahayu Tani mendapatkan Hak Kelola Hutan Pangkuan Desa dari Perhutani KPH Bandung Selatan, BKPH Banjaran RPH Logawa seluas 60 ha dengan Pola PHBM. LMDH Rahayu, di bawahnya juga ada 4 kelompok tani," jelasnya.

Ia menjelaskan, awalnya hutan lindung itu akan dijadikan lahan kredit usaha tani (KUT). Karena keterbatasan lahan, mereka membukan lahan baru tersebut. Dalam perjalannya ada program Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat (PHBM) yang digagas perum tani.

"Program PHBM itu yang ikut cuma saya saja. Karena ada mandat bisa tetap di atas gunung asal tidak komuniti. Setelah beralih ke tanaman kopi, kelompok ini menyusut anggotanya menjadi 7 orang, sebagian petani tidak mau bergabung sebelum melihat manfaat yang diperoleh dari hasil tanaman kopi," katanya.

Ia menambahkan, sejalannya waktu hanya menyisakan dia sendiri. Oleh karena itu, dia terus menekuni dunia kopi hingga belajar ke Bali dan Sumatra Utara.

"Awalnya memang mengalami kegagalan, karena mengunakan benih abal-abal tidak besertifikat. Jadi saya belajar selama 2 minggu di Tapanuli Utara, lalu saya membawa pulang benih sigarautang," sebutnya.

Danuri mengatakan, proses penanaman kopi dilakukan mulai 2003 hingga 2014. Saat ini, pihaknya telah menjual benih polibet untuk perluasan lahan-lahan yang ada di Jawa Barat.

"Alhamdulillah, sekarang permintaan benihnya juga sudah nasional. Ada varietas arabika sigarautang, ordernya mulai Sulawesi, Kalimantan, hingga Papua," lanjutnya.

Ia menambahkan, pihaknya juga memiliki pengelolahan hulu dan hilir. Mulai dari persemaian benih, budi daya kopi, pengelolahan hulu, dan hilirnya hingga ada kedai kopi.

"Kami juga sudah melakukan ekspor kopi ke Taiwan dan Sanghai. Untuk kopi arabika kami punya sigarautang di hampir 80% kebun, 10% yellow katura dan 10% preager," lanjutnya.

Berlibur dan belajar
Salah seorang penanggu jawab kopi malabar, Agung Budiyono menyebutkan, pihaknya memiliki 5 proses olahan untuk kopi malabar, yaitu natural, wet, honey, dry, dan luwak.

"Alhamdulillah, kualitas kopi malabar bagus dan diterima di pasaran, sedangkan kopi luwak kami ada yang liar dan yang tangkar," jelasnya.

Ia menyebutkan untuk memenuhi kebutuhan pasaran, pihaknya sangat bergantungan pada cuaca. Pasalnya, pada 2017 mengalami penurunan produksi hingga 80%-90%.

"Pada tahun 2017 kuantitasnya sedikit, tetapi kualitasnya bagus. Akibat cuaca hujan di Pengalengan pada 2016 maka proses pembungaannya terganggu," sebutnya.

Selain itu, pihak kopi melabar juga memanfaatkan lokasi perkebunan malabar untuk lokasi wisata, yaitu malabar agrotourism, terdapat 11 unit pondok untuk rekreasi, kedai kopi di kebun kopi, kolam ikan untuk kuliner, flying fox, paint ball, dan 4 trek jalur pendakian sepeda.

Pihaknya juga, memiliki lembaga pendidikan di bidang pertanian dan pedesaan, yaitu Pusat Pelatihan Pertanian dan Pedesaan Swadaya (P4S) Rahayu Tani Malabar, juga tempat uji kompetisi mandiri (TUK).

"Kami juga ada program-program pelatihan bagi para petani di bidang perkebunan dan perindustrian di bidang perkopian secara teratur dan berkesinambungan diaplikasikan dalam GAP (Good Agricultural Proces) dan GMP (Good Manufacturing Process)," jelasnya.

P4S Rahayu Tani Malabar memiliki fasilitas lahan dan objek usaha tani yang dapat dipakai untuk praktek usaha tani kopi. Selain itu, P4S Rahayu Tani Malabar memiliki fasilitas gedung pelatihan untuk berkumpul dan belajar tentang agrobisnis kopi dari hulu sampai hilir.

Pada 2010, prestasi yang diraih Kopi Malabar Indonesia meningkatkan citra sehingga Perhutani memberi tambahan lahan garapan PHBM dari Perhutani 100 ha sehingga total lahan garapan menjadi 238,50 ha. Selanjutnya, lahan Garapan PHBM diperluas 257,50 ha sehingga total lahan garapan menjadi 596,00 ha sampai akhir 2012

Pada 2017, program pemerintah Kabupaten Bandung, akan mencetuskan desa-desa unggulan, yakni kampung Pasir Mulya, Desa Marga Mulya, Kecamatan Pengalengan, Kabupaten Bandung akan ditetapkan menjadi kampung kopi. Mari ngopi di Malabar! (M-1)

ferdian@mediaindonesia.com

BERITA TERKAIT