Memuliakan Dewa dengan Berbagi


Penulis: Usman Iskandar - 18 February 2018, 09:45 WIB
Membakar kertas bertuliskan pujian untuk leluhur selesai berdoa---Foto-foto: MI/Usman Iskandar
Membakar kertas bertuliskan pujian untuk leluhur selesai berdoa---Foto-foto: MI/Usman Iskandar

WIHARA Dharma Bhakti atau Kelenteng Cin Tek Yen sejak subuh, Jumat (16/2), mulai padat. Asap hio dengan aroma khasnya menyeruak, pun lilin-lilin merah berbagai ukuran menyala me­nerangi tempat pemujaan.

Petugas wihara sigap menyediakan berbagai keperluan dan materi sesaji bagi pengunjung yang ingin sembahyang dan berdoa. Rekaman doa-doa pemujaan meng­alun pelan dari tape recorder, sengaja dibunyikan untuk mengiringi.

Semakin siang, hilir mudik pengunjung kian ramai, memenuhi altar di sudut-sudut tempat para dewa bersemayam. Meskipun sesak, mereka tertib antre untuk bersembahyang. Kekhusyukan jemaat tidak terganggu keriuhan pengunjung dan para juru foto.

Petugas membersihkan patung dewa

Mengipaskan dompet di atas tungku persembahan

Pengamanan oleh Tim Gegana Polda Metro Jaya.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, pe­rayaan Imlek di kawasan Petak Sembilan ini dipadati warga yang ingin sembahyang di wihara tertua dan terbesar di Jakarta itu. Di wihara ini pula, kegiatan ritual Imlek dipusatkan, sehingga menjadikannya salah satu pusat perhatian.

Ritual memuja dewa di Hari Raya ­Imlek disertai harapan agar para dewa ­memberikan kesejahteraan dan rezeki berlimpah untuk perjalanan hidup setahun ke depan.

Petugas terlelap kelelahan di sudut wihara.

Menerima angpau yang dibagikan petugas

Di luar tempat suci bagi warga Tionghoa tersebut, para pengemis berjajar memenuhi halaman, menunggu angpau atau uang sedekah pengunjung. Keberadaan mereka menjadi bagian dari perayaan, karena Imlek juga berarti tradisi berbagi pemberian sedekah pada kaum papa. Gong Xi Fa Cai..... (M-1)

BERITA TERKAIT