Eksplorasi Medium yang Lekat dengan Kejiwaan


Penulis: Abdillah M Marzuqi - 18 February 2018, 08:15 WIB
Pelukis Joko Kisworo memakai medium benang dalam pameran tunggal bertajuk Retrospective Painting Exhibition; Spiritual Vibrations di Duta Fine Art Foundation, Jakarta. Pameran ini bakal berlangsung sampai 9 Maret 2017---MI/Abdillah M Marzuqi
Pelukis Joko Kisworo memakai medium benang dalam pameran tunggal bertajuk Retrospective Painting Exhibition; Spiritual Vibrations di Duta Fine Art Foundation, Jakarta. Pameran ini bakal berlangsung sampai 9 Maret 2017---MI/Abdillah M Marzuqi

BENANG-BENANG itu saling bertautan, saling bersinggungan, dan saling silang. Benang itu menjalar ke seluruh lembaran kanvas. Jadilah selembar kanvas berukuran 1 meter seolah menjadi medan yang harus diarungi benang.

Seperti jejak sebuah pencarian yang harus berulang dan bisa jadi bersinggungan dengan tempat pertama. Jalinan-jalinan itu tidak membentuk sebuah pola. Hanya terus mengalir dan mengalir menjelajahi lebar kanvas. Jalinan benang itu pula mampu bersenyawa dengan latar warna yang berani.

Itulah salah satu karya Joko Kisworo yang berjudul Cerita Adat dan Adab (2016). Bukan hanya karya itu yang memakai medium benang. Masih ada beberapa karya yang memakai medium benang seperti Thread-Black White (2016). Karya itu dipamerkan dalam pameran tunggal Joko Kisworo bertajuk Retrospective Painting Exhibition; Spiritual Vibrations di Duta Fine Art Foundation Jakarta. Pameran ini bakal berlangsung sampai 9 Maret 2017.

Karya Joko Kisworo yang dipamerkan dalam pameran itu terlekat kuat dengan konsep kejiwaan. Karya Joko Kisworo sangat lekat dengan nuansa abstrak dan sangat ekspresif. Cipratan warna berbadu indah dengan selingan warna lain. Dalam seri karya yang memakai medium benang, Joko mengakui bahwa hal itu ialah sebuah proses penemuan dalam ruang kejiwaan. Ia tidak hendak menggambarkan sesuatu di luar dirinya. Justru sebaliknya, ia berfokus dengan dirinya.

“Ketika melukis dengan benang aku mengalami kegembiraan yang sangat hebat waktu itu,” ujarnya.

Dalam proses eksplorasi medium karya, Joko menghabiskan banyak energi untuk menemukan medium ataupun bentuk yang bisa mewakili jiwanya. Ia pernah mencoba membuat garis dengan medium injeksi akrilik. Namun, ia tak puas. Justru kepuasan datang setelah ia mencoba medium benang.

“Akhirnya aku tidak puas dengan cat. Aku harus bisa membuat garis-garis yang mewakili keinginanku,” tambahnya.

Kelinci percobaan
Joko Kisworo begitu tertarik dengan kejiwaan. Bahkan, dari 2007 sampai 2017, karyanya ialah eksplorasi tentang kejiwaan. Ia membuat dirinya sebagai kelinci percobaan untuk menghasilkan karya.

Sementara itu, tajuk restropeksi bukan dimaksudkan sebagai jenjang karya. Restropeksi banyak dipahami sebagai pembagian jenjang secara periodik. Namun, ternyata tajuk restropeksi dalam pameran itu ialah bersifat kejiwaan sang pelukis.

“Restropeksi ini sebenarnya bukan restropeksi secara kekaryaan, tapi lebih ke kejiwaan,” terang Joko.

Kejiwaan menurut Joko tidak mempunyai tahapan yang bersifat berjenjang. Boleh jadi terjadi pengulangan atau persinggungan dengan kondisi kejiwaan yang sama. Namun yang pasti perubahan kejiwaan bersifat niscaya. Tidak bisa disangkal.

“Yang jelas secara periode pasti menggalami perubahan secara natural, secara alamiah, secara kejiwaan. Kan gak bisa dibohongi itu,” tegasnya.

Uniknya pameran itu juga menghadirkan 46 karya. Jumlah itu sengaja disesuaikan dengan usia Joko Kisworo yang saat pameran berlangsung juga sedang merayakan ulang tahun ke-46 tahun. (M-2)

BERITA TERKAIT