Dilema Ruang Kreatif dan Ruang Produksi


Penulis: Abdillah M Marzuqi - 18 February 2018, 08:00 WIB
img
Butet Kartaredjasa dan Jeannie Park berbagi ilmu pada kreator muda dalam program Ruang Kreatif: Workshop Manajemen Produksi Seni Pertunjukan di GEOKS Art Space, Sukawati, Gianyar, Bali, (11/2/2018)---MI/Abdillah M Marzuqi

BERBINCANG tentang kreativitas, tentu tidak ada batasnya. Semua bisa dalam ruang kreatif. Ide atau gagasan apa pun tidak menjadi soal dalam ruang kreatif. Betapa pun liarnya, ide ialah sebuah ide. Ia akan kekal. Betapa pun bagusnya, uniknya, bahkan nakalnya sebuah ide. Itu ialah sah. Tidak ada yang boleh membatasi ide dari seniman sebab di situlah letak dapur penciptaan seni.

Akan lain cerita ketika berbincang tentang industri kreatif. Di situ akan banyak yang bersinggungan sebab industri berkenaan dengan produk. Industri kreatif berarti berlekatan dengan produk seni yang bersifat industri. Dalam ruang produksi itulah semua unsur bertemu untuk mewujud menjadi sebuah karya yang nantinya disajikan untuk para penonton. Ide diwujudkan menjadi sebuah karya yang bisa dikomunikasikan dengan khalayak.

Proses perwujudan itu membutuhkan kemampuan manajemen, material produksi, pengetahuan tentang penonton, dan dana produksi. Semua saling terkait erat. Bagaimanapun yang lebih penting ialah proses kelanjutan dari sebuah seni pertunjukan sebab tidak lucu jika sekali tampil bagus, tetapi berikutnya tidak lagi mampu berproduksi sebab terkendala dana atau ketika mampu berproduksi terus tetapi tidak mendapat sambutan dari para penonton.

Ruang kreatif, begitu banyak seniman meletakkan perhatian utama pada ruang tersebut. Itulah sebabnya tidak diragukan lagi Indonesia punya segudang seniman muda yang berpotensi. Namun, jika tidak dibarengi kemampuan manajemen, bakat seni tidak cukup sebab karya tersebut tidak akan bisa terwujud secara baik dan konsisten.

Hal ini disadari Bakti Budaya Djarum Foundation (BBDF) dalam upaya mereka meregenerasi pelaku seni pertunjukan. BBDF melalui program Ruang Kreatif mengundang para kreator kelas satu, seperti Butet Kartaredjasa, Garin Nugroho, dan Jeannie Park untuk membagi ilmu pada para kreator muda dalam program Ruang Kreatif: Workshop Manajemen Produksi Seni Pertunjukan.

“Target besarnya kami ingin mengkloning Mas Butet, Mas Garin, dan Bu Jeannie,” ujar Adi Pardianto, perwakilan dari BBDF saat konferensi pers Workshop Manajemen Produksi Seni Pertunjukan yang digelar di GEOKS Art Space, Sukawati, Gianyar, Bali, (11/2/2018).

Berbagai pengalaman
Butet sudah berpengalaman puluhan tahun dalam bidang seni pertunjukan teater, baik sebagai aktor maupun penggagas pertunjukan. Garin merupakan sutradara ternama yang akhir-akhir ini sering memutar film-pertunjukan Setan Jawa di luar negeri. Sementara itu, Jeannie ialah perempuan berdarah Korea yang menjadi penari Jawa klasik, kini menjadi direktur eksekutif di Yayasan Bagong Kussudiardja.

Mereka masing-masing memberikan pengalaman segudang yang diharapkan bisa membuat para kreator muda makin memahami dunia pertunjukan di Indonesia, yang jauh berbeda jika dibandingkan dengan kondisi di negara lain. Butet Kartaredjasa dan Jeannie Park berbagi pengalaman kepada para peserta Ruang Kreatif: Workshop Manajemen Produksi Seni Pertunjukan.

“Kalau saya baca buku manajemen seni pertunjukan dari luar, itu berhenti jadi teori yang tak mungkin diaplikasikan di Indonesia,” ujar Butet.

Infrastruktur seni di Indonesia yang unik itu justru melahirkan para seniman yang serbabisa dalam dunia pertunjukan. Mereka harus bisa menjadi aktor andal sekaligus mampu menjadi pencari dana yang mumpuni. Mereka dipaksa untuk menanggung beban kreatif ditambah beban produksi. Itulah sebabnya manajemen seni pertunjukan menjadi hal niscaya jika ingin terus hidup. Di sisi lain belum banyak sumber daya manusia orang yang berminat dengan dunia manajemen seni pertunjukan.

Butet menyampaikan dua hal utama, yakni manajemen untuk menghargai

“Oleh sebabnya kami sudah cukup tabah, cukup imun, sudah cukup terlatih untuk menghadapi situasi-situasi darurat. Maka kami mengejek diri kami sebagai superman, apa-apa bisa. Tapi itu sebenarnya sangat ironi. Tapi kami mensyukuri, ada berkah terselubung,” ujar Butet.

Bisa dibayangkan ketika para orang kreatif harus merangkap sebagai orang produksi. Mereka tidak hanya berfikir bagaimana tata cahaya yang baik, tetapi mereka juga harus berfikir bagaimana memperoleh lampu yang cukup untuk sebuah pertunjukan. Tentu itu bukan hal yang mudah.

“Ilmu pengetahuan manajerial khas Indonesia ini justru bukan saya dapatkan dari teori-teori, tapi saya dapatkan justru karena berkah sandungan-sandungan di dalam kehidupan saya,” lanjutnya.

Butet juga berbagi pengalaman ketika keinginannya ialah menjadi aktor, tetapi di sisi lain ia juga harus bisa, seperti mengatur pertunjukan, memasarkan pertunjukan, dan mengatur pemain. Berdasarkan hal itu, ia belajar bagaimana bersikap memanusiakan manusia dalam seni pertunjukan. Siapa pun itu harus dihargai, baik itu sutradara, pemain, kru, maupun penonton. Mereka harus diperlakukan sebagai manusia.

“Kami begitu menghargai penonton dengan makna hanya orang istimewa yang mau nonton pertunjukan kita. Kami menghargai perjuangan dan kegigihan para penonton,” jelas Butet.

Kedekatan-kedekatan seperti layaknya manusia dengan manusia itulah yang akan membuat seni pertunjukan tetap berlangsung. Selain itu, kreator juga dituntut harus mengerti tiga hal, yaitu heritage (warisan budaya), kepopuleran, dan inovasi. Dengan tahu soal manajemen, seniman mampu mempresentasikan pertunjukannya dengan baik dan tepat sasaran.

“Kita banyak panggung, tapi manajemen panggung sangat miskin. Industri kreatif tanpa keterampilan manajemen itu jadi cita-cita aja,” tegas Garin Nugroho. (M-2)

BERITA TERKAIT