Siap-Siap Menyambut Tahun Baru


Penulis: Aries Munandar - 15 February 2018, 09:56 WIB
img
Warga Tionghoa membersihkan dan mendekorasi Wihara Bodhisatva Karaniya Metta, Pontianak, Sabtu (10/2)---MI/Aries Munandar

JARI Mariana menunjuk dekorasi yang menjuntai di dinding wihara. Dia meminta dekorator menata ulang letak serenteng hiasan beragam warna tersebut. Pemasangannya terlihat janggal sehingga kurang serasi dengan hiasan serupa lain. Dekorator pun termangut-mangut mendengar arahan Mariana.

“Tali pengikat seharusnya dipasang seperti ini,” katanya sembari memperlihatkan dekorasi di sisi lain. Perempuan berusia 75 tahun itu sedari tadi sibuk mondar-mandir di ruang utama wihara. Selain memantau pemasangan dekorasi, Mariana ikut menyapu lantai rumah ibadah yang berada di Jalan Sultan Muhammad, Pontianak, Kalimantan Barat, tersebut. Wihara Bodhisatva Karaniya Metta siang itu, Sabtu (10/2), tengah berkemas. Beberapa pekerja berbagi tugas membersihkan dan menghiasi ruangan. Tidak sekadar menyapu dan mengepel lantai, mereka juga mengikis sela-sela ubin untuk menyingkirkan debu yang berkerak. “Setahun sekali. Mau Sin Cia. Jadi, kelenteng harus bersih,” ujar Mariana.

Aksi bersih-bersih untuk menyambut perayaan Imlek itu sudah berlangsung sejak beberapa hari lalu. Hampir tidak ada bagian dari bangunan wihara yang luput dibersihkan. Begitu pula perangkat persembahyangan. Altar, rupang, dan bejana pun terlihat kinclong.

Bukan cuma di Pontianak, warga keturunan Tiongkok yang tinggal di Tangerang atau yang disebut dengan julukan Cina Benteng juga sibuk menghias wihara. Salah satunya Wihara Nimmala atau Boen San Bio di Jalan KS Tubun, Pasar Baru, Kota Tangerang, Banten.

Sebanyak 700 lampion sudah terpasang rapi di wihara tersebut, mulai bagian atap pintu gerbang hingga area peribadatan. “Lampion merupakan simbol dari penerangan. Kami berharap ke depan lebih baik lagi, baik dari sisi rezeki maupun lainnya,” ujar Yans Suharlim, pembina Wihara Boen San Bio.

Menurut Suharlim, tradisi saat Imlek bukan untuk melakukan ritual, melainkan berkumpul dengan keluarga dalam bentuk makan bersama. “Biasanya semua keluarga, termasuk yang di luar kota, datang untuk kumpul dan makan bersama,” kata dia. Setelah itu, mereka datang ke wihara untuk mendoakan para leluhur.

Meja panjang
Berbagai kegiatan menyambut Imlek juga mulai muncul di Pasar Imlek Semawis (Semarang untuk Pariwisata), Kota Semarang. Pasar yang diadakan mulai 12-14 Februari 2018 di sepanjang Jalan Pecinan Semarang tersebut memenuhi kebutuhan warga untuk merayakan Imlek.

Selain berbagai pernak-pernik, berbagai makanan khas Semarang disajikan. Selain berbagai menu makanan tradisional warga Semarang yang disajikan, di pasar itu ditampilkan produk-produk warga pecinan yang belum banyak dikenal orang luar, seperti kecap mirama, pia, kuaci gajah, lumpia, perajin kertas, dan perajin batu. “Kami tetap akan menjaga kearifan lokal sebagai akar budaya,” ujar Ketua Komunitas Kopi Semawis Harjanto Halim.

Sebelum pelaksanaan Pasar Imlek Semawis berlangsung, panitia terlebih dahulu melakukan ritual doa bersama di Kelenteng Tay Kak Sie, yakni permohonan kepada para dewa agar acara pasar Imlek berjalan lancar. “Kami berdoa dan bersyukur agar para dewa memberkati, lalu dilanjutkan ritual ketuk pintu,” kata Harjanto.

Kegiatan paling menarik ialah makan bersama di meja panjang yang disiapkan di tengah areal pasar. “Tradisi ini biasanya kami lakukan ketika seluruh keluarga berkumpul dan makan bersama. Tradisi ini akan kami tunjukkan di Pasar Imlek Semawis nanti,” pungkasnya. (AS/SM/DD/S-4)

BERITA TERKAIT