Pelan-Pelan saja di Jeonju


Penulis: Zico Rizki - 11 February 2018, 13:30 WIB
DOK. ZICO RIZKI
DOK. ZICO RIZKI

SEKITAR 4 jam kami menikmati perjalanan panjang dari Busan menggunakan bus eksekutif, sampailah kami ke sebuah terminal.

Sebuah papan dengan tulisan hangeul dengan arti terminal Jeonju terpampang kusam, persis dengan keadaan terminal tempat berhentinya bus kami. Terlihat beberapa vending machine minuman dan rokok yang tidak beroperasi sejak berjalan menelusuri lorong terminal setelah turun dari bus.

Dengan melihat kondisi terminal yang tidak terlalu apik pengelolaannya tersebut, kami berpikir apa yang akan kami dapatkan di Kota Jeonju.

Seorang wanita muda berpakaian kasual menghampiri dan menyapa dengan bahasa Indonesia kepada kami. Ia Amel, 23, mahasiswi Indonesia yang mengambil program Pascasarjana dari Kyunghee University, Seoul. Ia akan memandu kami dalam perjalanan wisata ala backpacker di kota itu.

Sekeluarnya dari terminal, suasana sejuk diiringi dengan tiupan angin sepoi-sepoi berbanding terbalik dengan sinar matahari cerah di siang itu. Udara Kota Jeonju cenderung sejuk dalam semua musim kecuali musim dingin. Pada musim dingin, suhu akan ekstrem dingin. Hal itu disebabkan letak kota itu yang berada di lereng beberapa gunung dan bukit.

Perjalanan kali ini ialah menuju pusat wisata di Jeonju, yakni Desa Hanok Jeonju (Jeonju Hanok Village). Wilayah itu merupakan kompleks perkampungan rumah tradisional Korea, Hanok, yang dijaga kelestariannya hingga saat ini.

Kekhasan Hanok terlihat dari bentuk atap yang melengkung yang syarat dengan sentuhan desain Korea. Kompleks perkampungan dengan lebih dari 900 bangunan itu diketahui dibangun pada masa Dinasti Joseon.

Untuk mencapainya, kami melanjutkan perjalanan dengan bus nomor 61 selama 30 menit. Amel mengatakan kawasan perkampungan Hanok termasuk kategori destinasi pariwisata slow City, yakni merupakan kota yang tenang dan santai yang terangkul dengan aspek kebudayaan tradisional serta menyatu dengan alam.

Istana peninggalan Dinasti Joseon
Rasa penasaran dan keingintahuan kami tentang apa yang tersimpan di balik tembok berusia ratusan tahun itu mengantarkan untuk melihat lebih jelas di dalamnya.

Apa yang ada di dalam tembok berusia ratusan tahun itu Gyeonggijeon, sebuah kompleks kerajaan yang terdiri atas istana, kuil, monumen, dan museum yang dibangun pada 1410 dan sempat direstorasi pada 1614. Untuk memasuki kompleks itu, wisatawan harus membeli tiket masuk seharga 3.000 won.

Hamparan pepohonan yang didominasi pinus tersusun rapi di samping pelataran besar yang beralas tanah dan pasir. Terlihat beberapa bangunan tembok batu serupa berada di luar beberapa bangunan rumah yang tersembunyi di dalamnya. Beberapa gerbang, tiang, pintu kuno berwarna merah juga banyak ditempatkan di sekitaran pelataran itu.

Beberapa pintu kayu berwarna cokelat tua kemerahan dengan ornamen ukiran simbol yang menempel pada tembok batu itu ada yang terbuka, ada pula yang tersegel dengan rantai dan gembok kuno.

Jika memasuki pintu berornamen itu, wisatawan akan diantarkan ke kediaman para bangsawan. Bangunan rumah-rumah tradisional yang sudah berwarna kusam masih terlihat mempesona. Lengkap, mulai rumah utama, ruangan pertemuan, lumbung beras, sumur air, hingga arena bermain anak-anak yang tidak terlalu besar. Beberapa bangunan itu berkaitan dengan keluarga Yi Seong-gye, pendiri Dinasti Joseon yang berasal dari Jeonju.

Di sisi lain yang berbeda, tepatnya di pusat kompleks tersebut, terdapat bangunan utama, yaitu Kuil Gyeonggijeon.

Harum dupa dan suara mantra berbahasa Korea yang terdengar dari dalam kuil yang tertutup seakan memunculkan simfoni ketenangan di jiwa. Beberapa orang terlihat berdiri tegak dan menghening sambil mengikuti mantra yang terucap. Kuil Gyeonggijeon dikenal sebagai salah satu peninggalan Dinasti Joseon yang populer.

Tidak jauh dari lokasi kuil, sebuah kolam teratai beralaskan tembaga berdiri di jalan setapak yang dikitari pepohonan pinus dan bambu serta bunga ume yang berwarna merah muda. Komposisi yang indah di tempat itu menjadi salah satu spot berfoto terbaik para wisatawan yang singgah. Meskipun banyak pelancong berbusana hanbok yang berlalu lalang di kawasan tersebut, itu sama sekali tidak mengurangi suasana nyaman untuk berfoto.

Masuk museum
Untuk mengetahui lebih dalam aktivitas para penghuni istana dan mengenal sekelumit sejarah aktivitas di Desa Hanok, wisatawan dapat mengunjungi museum yang terletak dekat dengan gerbang tiket. Wisatawan tidak perlu mengeluarkan biaya untuk memasuki museum itu.

Dari pelataran, bangunan museum berarsitektur Hanok itu terlihat hanya merupakan bangunan satu lantai. Namun, jika Anda memasukinya, bangunan ini terdiri atas dua lantai, lantai dasar dan lantai bawah tanah.

Lantai bawah tanah dikhususkan untuk memuaskan rasa keingintahuan wisatawan tentang segala aktivitas Dinasti Joseon dan masyarakat Jeonju di masa lampau. Wisatawan dapat menemukan artefak prasasti, karya seni, barang-barang kerajaan, dan arsip-arsip karya sastra dengan tulisan hangeul kuno di lantai itu. Beberapa potret resmi raja-raja pada Dinasti Joseon serta tokoh penting yang berjasa dalam perkembangan kehidupan di Jeonju terpampang di sepanjang lorong-lorong yang menghubungkan ruangan di lantai tersebut. Pengaruh Dinasti Joseon diketahui memiliki andil yang besar terhadap budaya Korea yang ada saat ini. (M-1)

miweekend@mediaindonesia.com

BERITA TERKAIT