Puncak yang Kesepian Meniti Hari


Penulis: Dede Susianti - 10 February 2018, 22:25 WIB
img
MI/Bary Fathahilah

WAJAH Cecep tak lagi ceria sepekan terakhir ini. Ia lebih banyak duduk termenung menunggu dagangan ubi cilembu, pisang dan buah-buahan di sepanjang jalan menuju Taman Safari Indonesia (TSI).

Hanya tinggal Cecep yang membuka lapak. Banyak rekan-rekannya memilih menutup lapak karena tak ada lagi yang bisa diharapkan. Ia cuma berharap masih ada pembeli yang datang agar dapulnya tetap ngebul. Namun, harapan tinggal harapan karena sudah dua hari terakhir ini, sejak longsor dan pemberlakukan penutupan menuju kawasan Puncak, Cisarua, tidak satu pun ubinya laku.

"Biasanya paling kecil Rp200 ribu mah bisa dapat. Tapi ini Rp20 ribu atau satu kilo (ubi cilembu) saja enggak ada," tuturnya lirih, Sabtu (10/2)..

Setali tiga uang dengan Deden. Pemilik warung Ciburial di dekat pintu masuk kawasan wisata Gunung Mas ini mendapatkan penghasilan rata-rata Rp500 ribu-Rp800 ribu per hari.

Saat ini untuk mendapatkan Rp50 ribu saja sulit. "Ini sepanjang hari ini, baru mbak yang datang ke sini," ungkapnya.

Tempat makan lain terpaksa memilih menutup, seperti rumah makan Asa Di Imah Mitoha yang memiliki andalan pare anyar Cianjur (padi atau beras baru Cianjur). Posisinya padahal ada di sekitar Cipayung. Paling bawah dan jauh dari lokasi longsor.

"Iya kami pilih tutup. Ini tutup dari kemarin, karena adanya kejadian longsor. Dari pada kami harus mengeluarkan biaya operasional, lebih baik tutup sementara. Meminimalkan kerugian," kata Roeslan, pengelola rumah makan tersebut.

Bahkan pihaknya menempelkan pemberitahuan penutupan di beberapa titik. Di pemberitahuan itu dituliskan ditutup dari 9 Februari dan buka kembali 15 Februari.

Mereka hanyalah segelintir pelaku usaha yang mengandalkan nafkah di jalur wisata Puncak. Namun kehidupan benar-benar terpuruk pascakejadian longsor maut pada Senin (5/2).

Selama ini kawasan Puncak tidak pernah mati. Bahkan saking hidupnya, perputaran uang di kawasan wisata alam kebun teh itu per harinya diklaim mencapai miliaran rupiah.

Menurut pihak desa setempat dalam sepekan perputaran uang bisa mencapai Rp 5 miliar.

Hal itu dibenarkan Ketua Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kabupaten Bogor Budi Sulistyo, saat dihubungi Media Indonesia, Sabtu (10/2) petang.

"Perputaran uang di sini, di Puncak, memang sangat besar. Betul bisa mencapai miliaran rupiah. Kalau yang di Warung Kaleng, mungkin dikarenakan banyak tamu atau pengunjung dari Arab," ungkapnya.

Namun kini, kawasan Puncak sepi. Jalanan di jalur sepanjang 14 kilo meter itu lengang. Padahal di hari biasa saja (bukan akhir pekan), kondisi arus lalu lintas di jalur tersebut selalu padat, macet.

Ribuan kendaraan melintasi jalur itu. Bahkan kemacetan nyaris terjadi sepanjang hari. Pantauan Media Indonesia selama dua hari berturut-turut atau sejak Jumat (9/2) dan Sabtu (10/2), termasuk di malam hari, kawasan tersebut sepi. Bahkan sejumlah titik seolah sebuah kota mati.

Beberapa titik peristirahatan (rest area), pusat belanja, tempat makan, penginapan baik vila maupun hotel sepi. Mereka kehilangan pengunjung. Pun demikian dengan tempat-tempat wisata atau rekreasi, area parkir tampak kosong.

Sejumlah titik kumpul orang, seperti Paralayang/gantole, At'ta Awun, Gunung Mas, Rindu Alam atau sekitar Puncak Pass, nyaris tidak ada geliat. At'ta Awun bahkan terlihat seperti kota mati. Hampir semua warung tutup dan nyaris tidak ada pengunjung. (OL-4)

BERITA TERKAIT