Memaknai Simbol Dua Seniman AS dan Indonesia


Penulis: Abdillah M Marzuqi - 11 February 2018, 08:15 WIB
img
Seniman Adam de Boer dan Jumaldi Alfi memamerkan karyanya dalam pameran bertajuk Real and Imagined di lobi gedung World Trade Center (WTC) 2 Jakarta pada 6 Februari 2018 hingga 9 Maret 2018---MI/Abdillah M Marzuqi

KALI ini pameran seni tidak berada di dalam galeri. Karya seni yang biasa anteng berada dalam galeri justru dipaksa untuk bertemu kerumunan dan lalu lalang orang. Seni hadir di dalam tempat roda ekonomi digerakkan. Seni dan ekonomi, dua hal yang boleh jadi saling melirik.

Ruang lobi gedung pencakar langit pun disuap menjadi galeri pamer. Panel-panel besar dipasang berdiri untuk menempatkan karya seni. Jadilah lobi gedung itu tidak hanya diisi manusia yang hilir mudik dengan segala urusan, tetapi juga karya seni. Itu malah menjadi pemandangan yang unik. Ketika para mereka yang berlalu lalang tergoda untuk sekadar melirik panel-panel berukuran besar yang berisi lukisan.

Pameran itu diberi tajuk Real and Imagined. PT Jakarta Land menggandeng ISA Art Advisory menghelatnya di lobi gedung World Trade Center (WTC) 2 Jakarta pada 6 Februari 2018 hingga 9 Maret 2018.

Pameran tersebut menghadirkan karya-karya dari dua perupa asal Indonesia dan Amerika Serikat, yakni Jumaldi Alfi dan Adam de Boer. Keduanya masing-masing menyumbangkan tujuh dan delapan buah karya seni lukis.

Adam de Boer dan Jumaldi Alfi dilahirkan dalam kondisi geografis terpisah lautan. Pengalaman mereka berbeda tetapi sangat mirip. Lahir dan dibesarkan di California Selatan, Adam de Boer mengidentifikasi dirinya sebagai orang Belanda-Indonesia-Amerika, sedangkan Alfi lahir di Sumatra Barat. Meskipun demikian, Alfi berbicara tentang waktu yang dihabiskannya di Jawa dan hubungannya yang spesial dengan rumah angkatnya, Yogyakarta.

Pada akhirnya, lukisan mereka mengungkapkan sifat identitas yang berlapis-lapis, juga mengangkat pertanyaan tentang bagaimana seseorang menjadi atau dijadikan bagian dari komunitas kontemporer atau tradisi historis.

Keduanya punya langgam karya berbeda. Adam mempunyai kekhasan dengan menghadirkan karya dalam balutan warna pastel yang kalem. Ia menggambarkan langit yang punya warna lebih lembut. Sementara itu, Alfi punya karya yang penuh komposisi warna yang berani. Merah dan hitam berpadu dalam abstraksi. Ia menggambarkan keindonesiaan yang tropis dan punya warna-warna kuat nan mencolok.

Adam de Adam de Boer melukiskan harimau yang terkurung dalam ruang kaca. Dalam karya Room Screen for Margio bin Syueb (2017), ia menggambarkan figur harimau jawa yang terperangkap lemari kaca. Figur tersebut dikemas dalam bingkai kayu yang diukir dengan simbol-simbol kebudayaan Jawa yang biasa ditemui pada motif batik.

Lukisan karya Jumaldi Alfi berjudul No Sir..! (2007/2008) menceritakan bagaimana kenyataan perilaku terhadap seni rupa pada 2007-an. Alfi mengatakan sengaja bermain-main dengan perspektif dan pikiran mengenai seni rupa.

Pemaknaan atas simbol
Menurutnya, orang terlalu sibuk mencari pemaknaan atas simbol dalam lukisan. Dia ingin seolah mengembalikan lagi perspektif menikmati lukisan yang sebenarnya dinilai sebagai lukisan.

“Itu semacam sentilanku. Saat itu dunia seni rupa tahun 2007-2008 itu banyak lukisan orang lebih sibuk menceritakan lukisannya. Jadi, kadang-kadang orang lupa melihat visual tapi bercerita tentang lukisannya,” terang Alfi.

Dalam karya itu, Alfi tidak lantas mengabaikan sentuhan visual justru ia menguatkan konsep visual dengan menghadirkan saturasi warna pada bagian bawah karya. Cara itu mirip yang dilakukan perusahaan penerbitan dan percetakan dalam menjamin warna yang dihasilkan sesuai dengan yang diinginkan.

Ketika sebuah lukisan hadir dalam ruang pamer, sebenarnya kisah lukisan itu bermula. Menurut Alfi, lukisan mempunyai cerita tersendiri ketika sudah hadir dalam pameran. Lukisan itu mempunyai narasinya sendiri.

“Sementara lukisan itu sendirinya ketika sudah dipamerkan, dia punya kisah sendiri. Jadi kalau kita menonton lukisan sebenarnya tidak perlu lagi pertanyaan kepada senimannya kecuali hal-hal teknis,” pungkasnya.

Pelukis telah selesai tugasnya ketika ia sudah menguras tenaga untuk mencari dan menghubungkan simbol yang ada dalam lukisan. Selanjutnya adalah giliran para penikmat seni untuk memaknai simbol yang telah dibeberkan dalam lukisan.

“Akhirnya kan tugas para apresiator untuk merangkai simbol-simbol itu,” tegasnya. (M-2)

echo $details;
BERITA TERKAIT