Membingkai NKRI, Menuai Adinegoro Award


Penulis: Yose Hendra - 10 February 2018, 23:00 WIB
Budi Setyo Widodo, kartunis yang bekerja di Media Indonesia, menerima Anugerah Piala Adinegoro 2018 pada puncak peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2018 di kawasan Danau Cimpago, Kota Padang, Sumatra Barat---LASSAK IMAJI/TAGOR SIAGIAN
Budi Setyo Widodo, kartunis yang bekerja di Media Indonesia, menerima Anugerah Piala Adinegoro 2018 pada puncak peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2018 di kawasan Danau Cimpago, Kota Padang, Sumatra Barat---LASSAK IMAJI/TAGOR SIAGIAN

BUDI Setyo Widodo, 47, punya cara tersendiri mem­bingkai NKRI; satire, melalui karikatur yang menjadi kecakapannya. Toh, itu pula yang kemudian membawanya sepanggung dengan idolanya Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Hari ini, Jumat (9/2), kartunis yang bekerja di Media Indonesia ini menerima Anugerah Piala Adinegoro 2018 pada puncak peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2018 di kawasan Danau Cimpago, Kota Padang, Sumatra Barat.

“Tentu bahagia, dalam artian ini kan salah satu ajang yang bergengsi. Semua jurnalis pasti ingin mendapatkan Adinegoro ini,” tukasnya.

Karya Tiyok, begitu dia disapa, berjudul Anti-Pancasila, terbitan 19 Juli 2017, dinilai para juri sangat layak menerima Piala Adinegoro 2018 untuk kategori karikatur karena temanya begitu kuat, menjaga NKRI dengan bahasa sindiran yang lugas dan simpel.

Tiyok menyisihkan sekitar 70 karya yang masuk, termasuk karya jawara sebelumnya. “Menurut juri, ada 70-an karya dari berbagai media cetak di Indonesia yang masuk. Menang? Karena karikatur saya dianggap lugas, simpel. Temanya pas sesuai NKRI, cara penyampaian pesan simple. Secara visual cukup menarik. Ada tingkat kelucuan,” tandas Tiyok.

Karikatur yang menang tersebut, dikatakan Tiyok, bermula dari konstalasi politik saat itu. Musim pilkada DKI Jakarta yang sarat dengan isu sara, dan mengerucut pada hal yang bersifat mengumbar kebencian. Bahkan, terang-terangan anti-Pancasila.

“Ide kreatifnya bercerita adanya pilkada DKI Jakarta, banyak ormas mengumbar kebencian, berbau SARA. Ada juga fenomena, HTI mengubah ideologi bangsa atau anti-Pancasila. Inti karya ini, sebuah satire kalau dibiarkan akan menghancurkan NKRI. Karena dasar NKRI Pancasila, sementara muncul asas bertentang dengan Pancasila secara langsung,” beber Tiyok.

Kemenangan yang dituai Tiyok, buah kesabaran partisipasi tiga tahun terakhir. Untuk Piala Adinegoro 2018, Tiyok mengaku mengirim sembilan karya, empat di antaranya bertemakan NKRI.

Tema NKRI menjadi objek yang selalu diangkat Tiyok dalam suasana Pilkada DKI 2017 sebab ada nada khawatir mengenai keretakkan bangsa, hanya ulah segelintir kelompok tertentu.

Karikatur ialah rubrik yang mengisi perwajahan Media Indonesia tiap Rabu. Cerita ruang khusus untuk karikatur ini juga menarik.

Tiyok mengisahkan, sejak 2004-2013 halaman Media Indonesia agak kering karena tanpa karikatur sehingga dia yang telah bekerja sejak 1999 dengan sepesifikasi kartunis pun tidak bisa menyalurkan kepandaian alias karyawan biasa.

Lalu, dia melihat, karikatur di media massa mulai diapresiasi se­iring adanya kategori penghargaan dalam Piala Adinegoro atau award lainnya.

Maka itu, dia memberanikan diri mengusulkan kepada Direktur Pemberitaan (Pemred) Media Indonesia Usman Kansong agar menyediakan rubrik Kartun Editorial.

Gayung bersambut, usulan Tiyok diterima, dengan dibukanya ruang (kapsul) Kartun Editorial pada rubrik Opini. Satu halaman dengan Opini, tapi bukan di dalam Opini, melainkan kolom tersendiri.

Tiyok pun mendapat tantangan, bagaimana melahirkan visual satire yang berbobot dan menohok.

Ide dan konsep ialah kuncinya. Tiyok mengaku untuk mendatangkan ide dan melahirkan konsep, saban hari melahap tiga hingga empat koran, menonton televisi, memelototi media online.

Muara semuanya, bagaimana informasi terbaru dan isu yang lagi naik daun, diketahui. Kendati sudah mendapatkan ide dan mematangkan konsep, dia tidak bisa langsung mengeksekusi, mesti melewati dulu dialektika dialektika dengan atasannya atau Askadiv (Asisten Kepala Devisi Pemberitaan). “Setelah mendapat ide, bikin konsep. Kemudian, saya tawarkan ke Askadiv, kemudian terjadi diskusi. Dalam konsep kadang sudah dirancang tiga, tapi yang pasti hanya satu terpakai,” ungkap Tiyok.

Pada akhirnya, rengkuh Adinegoro 2018, kata Tiyok, yang menang ialah ide dan konsep yang bagus.

Autodidak
Kepandaian Tiyok mengukir kari­katur tidak lahir dari pabrikasi bernama sekolah. Dia dituntun sang kakak, dan mengasah di komunitas bernama Kokkang: Kelompok Kartunis Kali Ungu di Kendal.

Pria berkampung di Kendal ini, adalah bagian dari delapan saudara dan saudari empat laki-laki dan empat perempuan. Dikatakan Tiyok, empat laki-laki, termasuk dia, semuanya kartunis.

Baginya, sang kakak, Itos Budi Santoso, ialah guru yang mengajarinya membuat kartun sejak kecil.

Komunitas Kokkang didirikan Itos. Di sana Tiyok tumbuh besar sebelum merantau ke Jakarta.

Saat aktif di Kokkang pada dekade 1990-an, Tiyok sudah mulai menyalurkan karikatur ke media massa. Paling diingatnya ialah 1996, mengirimkan untuk media sohor Jepang, Yoshimuri Shimbun.

“Pertama kali juara tahun 2002, yakni Juara III Kartun Kelautan Nasional yang diadakan oleh Undip. Saya kira ada 16-17 penghargaan yang pernah saya raih,” katanya.

Pertengahan 1990-an, dia merantau ke Jakarta. Sempat bekerja pada agensi karya seni menggambar, yakni Anugerah Animasi Indonesia (PT) Kebon Jeruk. Sebelum bergabung dengan Media Indonesia pada 1999.

Sebelum menjadi bagian Media Indonesia, Tiyok telah menapaki jalan berupa mengirim karya-karyanya kepada Media Indonesia.

Kemudian, kerja kerasnya berbuah manis, dipercaya mengelola karikatur untuk Media Indonesia.

Ijazah SMA-nya pun ditingkatkan Media Indonesia, dengan menyekolahkan pada D-3 Komunikasi Visual Interstudi Jakarta, 2001. “Dikuliahin MI saya. Sebelum kerja di MI, sering ngirim gambar di MI, kebetulan tahun 1999 membutuhkan seorang kartunis, maka saya melamar,” ceritanya.

Di MI Tiyok yang berbekal manual dalam menggambar, mengenal teknologi digital olah gambar seperti photoshop. Kini, dia tetap menggambar secara tulis tangan, tapi pewarnaan dibumbui di photoshop.

Tiyok yang kesehariannya kartunis, sangat bahagia mendapat tempat menerbitkan karya di MI. Meski demikian, dia berharap kehadiran kartunis di media cetak dianggap penting, disejajarkan dengan jurnalis.

Sebab, katanya, kartun tidak terlalu berbeda dengan berita. Sama-sama memberikan laporan. Bedanya, satu naskah, satu gambar seperti halnya foto.

“Kalau MI jelas membuka lebar-lebar untuk rubrik kartun. Tapi sebenarnya di Indonesia, banyak kartunis punya prestasi di luar negeri, tapi seiring waktu, karena semenjak reformasi banyak media menutup kaveling kartun, jadi karya mereka tidak nampak,” bebernya.

Dia berharap, supaya media cetak, online, majalah, supaya membuka kaveling karikatur. Menurutnya, kecerdasan media bukan hanya tulisan, foto, melainkan juga karikatur sehingga apa yang diraih hari ini, akan lebih sempurna jika karikatur dipandang penting dalam ranah jurnalistik. (M-2)

BERITA TERKAIT