Setengah Abad Bergelut dengan Thenggul


Penulis: M Ahmad Yakub - 04 February 2018, 11:10 WIB
img
MI/Ebet

DERASNYA arus modernisasi sejak puluhan tahun lalu di Tanah Air tak urung membuat kesenian wayang thenggul dan krucil terdorong ke pinggir. Seniman wayang di Bojonegoro juga terancam punah.

Itulah dedikasi Santoso, 73, warga Dusun Kalangan, Desa/Kecamatan Padangan, Bojonegoro, Jatim. Umurnya yang lebih dari setengah abad dihabiskan untuk melestarikan wayang, budaya adiluhung itu.

Wayang buatannya tak hanya dikenal di seantero Jatim, tapi juga diminati berbagai kalangan di Tanah Air. Bahkan, pesona wayang krucil dan thenggul buatannya membuat mantan Presiden Soeharto tergerak memesan sekotak wayang thenggul dan satu boks krucil.

Setiap waktu luangnya tetap dipergunakan untuk melestarikan kesenian wayang yang saat ini kurang diminati generasi muda, yakni dengan merajin wayang. Pria yang tidak lulus sekolah teknik (ST) ini tidak menyangka pada kemudian hari dari kesenian wayanglah hidupnya bergantung.

“Tapi, akhir–akhir ini sepi pesanan Mas,” tutur Aris Sudarsono, 34, putra keempat Santoso yang turut menjadi perajin wayang kepada Media Indonesia, Jumat (26/1) pagi.

Dalam dua tahun terakhir, pesanan wayang sangat sepi. Kalaupun ada, dari perorangan dengan jumlah pesanan 2-5 wayang. Biasanya, pesanan dengan jumlah itu diperlukan untuk dekorasi ruangan atau untuk aksesori saja. Meski dengan penghasilan tidak menentu tetapi, Santoso bersama keluarganya berkukuh melestarikan wayang. “Ini sudah jalan hidup kami sekeluarga,” jelas Aris.

Pada saat umur 12 tahun dan saat koleksi wayangnya sudah cukup, ada tetangganya yang menawarinya mendalang. Tawaran itu tak disia-siakannya. Meski ia belum mampu mendalang hingga semalam, tak urung pementasan wayang yang dilakukannya membuat warga sekitar kagum.

Terlebih, masyarakat tahu Santoso kecil tak memiliki keturunan darah seniman dari orangtuanya. Bakat Santoso mendapat dukungan salah satu pamannya yang membelikannya seperangkat gamelan. Dari situlah, tawaran mendalang mengalir deras padanya.

Sejak sekitar lima tahun belakangan, Mbah San lebih fokus membuat wayang. Baik itu wayang thenggul maupun krucil. Sesekali, ia mengajar mendalang sejumlah kader. Saat ini, jasa merajin sekotak wayang dibanderol Rp15 juta. Hal ini disesuaikan dengan harga kebutuhan bahan dan biaya lainnya. Jumlah itu belum termasuk bahan kayu kualitas super. Sebab, kayu mentaos dan waru sebagai bahan baku utama wayang dibeli dari Kabupaten Kediri.

Cerita wayang
Cerita wayang thenggul dan krucil secara garis besar lakon (cerita) yang dimainkan seputar cerita tutur yang hidup ditengah masyarakat. Santoso juga sudah hafal di luar kepala ratusan cerita yang melegenda di masyarakat.

Untuk wayang krucil, misalnya, lakon yang dimainkan seputar jagat pewayangan. Misalnya, cerita Parikesit (kisah perjalanan Pandawa dan Kurawa), Raja Kahuripan Jaya Bhaya, kisah Pendiri Kerajaan Singgasari Ken Arok, cerita Minak Jingga, serta cerita rakyat Damarwulan pada masa Kerajaan Majapahit.

Sementara itu, cerita wayang thenggul seputar berkisah seputar proses Islamisasi di Telatah Jawa. Di antaranya, soal kiprah perjuangan Wali Songo hingga pendirian serta eksistensi Kerajaan Demak Bintoro di Jateng, termasuk cerita proses Islamisasi Jawa yang dilakukan pedagang Gujarat dan Persia. Kalau dihitung, jumlah cerita dua wayang itu ada ratusan.

Seiring dengan zaman, dalam kurun puluhan tahun terakhir, permintaan dan pementasan mendalang tak seramai sebelumnya. Saat itu banyak pertunjukan kesenian alternatif yang mulai digemari masyarakat. Di antaranya, pementasan ketoprak dan ludruk. Seiring dengan zaman, hampir semua kesenian tradisional semakin tergerus oleh budaya modern.

Masyarakat lebih minat mendatangkan musik elektronik daripada nonton wayang, ludruk, maupun ketoprak. Meski demikian, sesekali masih ada warga yang memintanya mendalang dalam berbagai acara hajatan. Mulai acara hajatan hingga pergelaran sedekah bumi banyak dilakukan masyarakat.

Namun, durasi waktunya terbilang makin lama jika dibandingkan dengan periode masa mudanya. Meski demikian, diharapkannya pada masa mendatang pemerintah bisa membangun gedung kesenian di Padangan.

Ini dilakukan dengan harapan agar tumbuh minat generasi muda untuk tetap melestarikan seni dan budaya. “Saya juga ingin dalam sisa umur ini tetap bisa nguri-nguri (lestarikan) seni dan budaya. Ya agar tidak punah di masa mendatang,” harapnya.

Sesepuh dalang
Kiprah Santoso dalam jagat pedalangan yang lebih dari setengah abad tak diragukan lagi oleh berbagai kalangan. Warga menilai, Santoso telah menjadi penghayat seni sejak masih belia hingga kini umurnya mendekati angka delapan puluh tahun.

“Mbah San itu termasuk dalang tiban (memiliki bakat alamiah). Sebab, beliau itu bisa mendalang dengan sendirinya tanpa ada yang mengajari. Apalagi, orangtuanya bukan dalang atau seniman,” ungkap Mbah Hoery, sastrawan yang juga rekan Santoso ini.

Senada disampaikan Gatot Sujarwo, salah satu murid Santoso. Pengajar di SMP Negeri I Sambong, Kecamatan Kasiman, Bojonegoro, ini bisa mendalang dan membuat wayang setelah belajar dari Santoso. Warga Dukuh Karanganyar, Desa/Kecamatan Kasiman, ini semangat untuk bisa memiliki wayang buatan sendiri.

Ketertarikannya menggeluti seni wayang disebabkan ia termotivasi mantan Lurah Krodonan, Kecamatan Purwosari, yang konsisten melestarikan wayang. Terlebih, saat itu sekitar 1978-an, dalang wayang krucil teramat susah ditemukan. Bahkan, keberadaan dalang krucil saat itu tergolong langka di Bojonegoro.

Tinggal seorang dalang asal Kecamatan Padangan, Bojonegoro, Santoso. Sebenarnya, dalang Santoso juga bukan spesialis wayang krucil, tapi spesifikasi wayang thenggul. Gatot belajar memahat wayang kepada gurunya, Ki Dalang Santoso di Padangan.

Sekitar lima tahun kemudian, dia bisa mahir membuat wayang. Sejak 2008, dia mulai membuat wayang untuk melengkapi koleksinya. Untuk sebuah wayang, dirinya memerlukan waktu sekitar lima hari. Jumlah waktu itu diperlukan mulai merancang gambar hingga tahap finishing dengan dilakukan pengecatan wayang.

Untuk referensi jenis atau model wayang, dirinya mengambil referensi di sejumlah museum di Jatim dan Jateng. Yakni, Museum Empu Tantular (saat itu masih ada) di Surabaya, Jatim. Selain itu, referensi diperolehnya dari Sono Budoyo, Daerah Istimewa (DI) Yogyakarta.(M-2)

echo $details;
BERITA TERKAIT