Pasar Chatuchak dari Pakaian hingga Hewan


Penulis: Akmal Fauzi - 04 February 2018, 08:40 WIB
img
Turis berbelanja di Pasar Chatuchak---MIAkmal Fauzi

SANAM Luang, sebuah wilayah terletak di Distrik Phra Nakhon, menjadi pasar tradisional pertama di Kota Bangkok. Saat itu, 1942, Perdana Menteri Marsekal Plaek Phibunsongkhram mempunyai kebijakan setiap kota harus memiliki pasar tradisional untuk meningkatkan perekonomian.

Namun, karena lokasinya merupakan taman umum dan tak jauh dari istana raja (Grand Palace), pasar yang sudah menjadi pusat ekonomi di sana itu dipindah ke beberapa tempat, seperti Saran Rom Palace dan Sanam Cai. Baru pada 1982, pasar itu dipindahkan dan dipatenkan di kawasan Phaholyothin atau yang saat ini dikenal Pasar Chatuchak.

Chatuchak saat ini menjadi primadona pasar tradisional di Thailand. Pasar akhir pekan yang dibuka mulai pukul 08.00 hingga 18.00 waktu setempat ini mempunyai lahan luas, yaitu sekitar 11 hektare yang dibagi menjadi 27 area.

Pasar itu setiap akhir pekan bisa dikunjungi lebih dari 400 ribu wisatawan mancanegara, termasuk Indonesia. Pasar ini memiliki lebih dari 15 ribu kios sehingga menjadikannya pasar akhir pekan terbesar di dunia.

Ramai pelanggan Indonesia
“Turis dari Indonesia termasuk salah satu yang banyak mengunjungi pasar ini,” kata Syafrudin, warga Indonesia yang sudah 5 tahun bekerja di Bangkok, Thailand, yang saya temui di kediamannya seusai berkunjung ke Chatuchak akhir pekan lalu.

Banyaknya turis dari Indonesia membuat pedagang di sana begitu akrab. Mereka bahkan bisa menyebutkan beberapa kosa kata bahasa Indonesia saat menawarkan barang dagangannya.

“Murah bapak ayo beli,” ujar pedagang dengan bahasa Indonesia yang menawarkan aksesori Thailand yang dibanderol 50 baht untuk 8 item.

Untuk berkunjung ke pasar ini, disarankan jangan sungkan untuk menawar harga. Jika beruntung, setengah harga dari yang ditawarkan bisa didapatkan.

Berkomunikasi dengan kalkulator
Untuk mempermudah proses tawar menawar, pedagang di sana biasanya menyiapkan kalkulator sebagai media menunjukkan yang ditawarkan lantaran keterbatasan bahasa. Pedagang akan menyodorkan kalkulator dengan mengetik angka tertentu.

Agar tidak tersasar saat belanja, ada peta yang bisa dijadikan panduan buat para wisatawan yang ingin berburu barang favorit.

Di dalam peta akan dijelaskan kategori barang yang tersedia dan di area mana bisa menemukannya. Jenis barang yang dijual di sini juga variatif, mulai pakaian, aksesori, kerajinan tangan, furnitur, pakaian bekas, keramik, hingga binatang! (Mal/M-1)

BERITA TERKAIT