Ibu Batin yang Memberikan Kehidupan


Penulis: Abdillah M Marzuqi - 28 January 2018, 01:01 WIB
MI/Ebet
MI/Ebet

RUMAH yang tadinya sangat dempet mulai terlihat jarang. Rupanya rumah terakhir itulah yang menjadi pembatas yang memisahkan hutan dengan perkampungan. Jalanan yang tadinya terbuat dari beton mulai mendapati akhir, diganti dengan jalan setapak. Padahal sebelumnya, jalanan kecil yang lebih mirip gang menjadi lintasan yang harus dilalui. Sebelum jalan cor beton berakhir, terdapat gubuk besar mirip gazebo berdiri kukuh dengan topangan kayu balok.

"Jangan merubah ekosistem," begitu pesan salah satu warga adat Triyana Santika sebelum masuk hutan.

Di situlah batas memakai alas kaki. Segala alas kaki harus ditanggalkan. Tidak peduli sepatu sebagus apa pun ataupun sandal segaul apa pun sebab yang akan dikunjungi bukan hanya hutan, melainkan 'ibu batin'. Begitulah Masyarakat Adat Cireundeu memaknai hutan. Hutan bukan hanya tempat tumbuhan dan pepohonan tumbuh dengan bebas. Hutan ialah alam yang menjadi ibu.

"Kita punya istilah gini kita ke hutan tanpa alas kaki karena alam itu sebagai ibu batin. Jadi, ada ibu lahir dan ibu batin," terang Triyana Santika yang akrab dipanggil Kang Ntris.

Masyarakat Adat Cireundeu membagi ibu dalam dua istilah. Ibu lahir adalah ibu dalam artian sosok yang melahirkan, sedangkan ibu batin yang memberikan kehidupan yakni alam. Dengan demikian, masuk hutan bisa dimaknai dengan mengunjungi ibu. Tanpa alas kaki dianggap sebagai medium penyatuan manusia dengan alam atau anak yang sedang mengunjungi ibunya. "Jadi, kita itu istilahnya datang ke ibu tanpa alas kaki. Alam itu sudah mendeteksi. Makanya kami itu tidak boleh pakai alas kaki," lanjut Kang Ntris.

Masyarakat Adat Cireundeu mempercayai segala niat, perasaan, pemikiran, maksud, dan tujuan manusia dapat dijawab alam. Karena itu, mereka selalu mengingatkan para pengunjung yang bukan warga adat untuk mempunyai niat yang baik ketika memasuki hutan.

Mereka juga begitu menghormati alam. Mereka bahkan tidak mengizinkan adanya pemisah antara alam dan manusia. Alam ialah manusia. Manusia ialah alam. Tidak ada jarak ataupun pemisah.

"Jadi orangtua kami memberikan gini tilu sapamulu dua sakarupa nu hiji eta keneh eta keneh. Jadi artinya kita sama alam tidak ada pemisahnya. Istilah kita itu bersatu. Alam itu kita. Kita itu alam," tambahnya.

Masyarakat Adat Cireundeu juga berpegang pada ajaran tentang bagaimana seharusnya manusia bersikap terhadap alam. Sebagai contoh bahwa kalau seseorang salah mengasuh anak, anak tadi akan jadi durhaka. Begitu pula alam.

"Orangtua menyebutkan gini gusti nu ngasih, alam nu ngasah, urang nu ngasuh. Jadi kita itu sebagai yang mengasuh alam. Jadi kalau kita baik ke alam, alam juga akan baik," tegas Kang Ntris.

Hutan itu terletak tidak jauh dari perkampungan, sekitar 300 meter. Masyarakat adat membagi kawasan adat di lereng Gunung Gajah Langu menjadi tiga, yakni Leuweung Larangan, Leuweung Tutupan, dan Leuweung Baladahan. Hanya Leuweung Baladahan yang boleh ditanami bahan pangan. Bahan pangan pun bermacam-macam, seperti jagung, kacang tanah, singkong, dan umbi-umbian. "Hutan itu ditetapkan dibagi menjadi tiga bagian. Dibiarkan seperti alaminya, ada hutan tutupan, hutan larangan, hutan baladahan.

Kalau kita bisa menjaga itu. Dunia pun akan baik," tegasnya. Secara kepercayaan adat, Leuweung Larangan (hutan terlarang) tidak boleh ditebang, sedangkan Leuweung Tutupan (hutan reboisasi) ialah hutan transisi. Hutan tersebut dapat dipergunakan pepohonannya, tapi masyarakat harus menanam kembali dengan pohon yang baru. Leuweung Baladahan (hutan pertanian) ialah hutan yang dapat digunakan untuk berkebun masyarakat adat Cireundeu. Biasanya ditanami jagung, kacang tanah, singkong, atau ketela, dan umbi-umbian.

Kampung Adat Cireundeu

Kampung Adat Cireundeu merupakan salah satu kampung yang berada di Cimahi, Jawa Barat. Masyarakat Adat Cireundeu hampir tidak ada beda dengan masyarakat lain. Mereka juga hidup berbaur dengan masyarakat lain dengan harmonis. Yang membedakan Masyarakat Adat Cireundeu ialah mereka masih sangat teguh memegang kepercayaan dan keyakinan adat.

Masyarakat Adat Ciereundeu terkenal dengan kearifan lokal dalam bidang pangan. Mereka tidak mengkonsumsi beras seperti umumnya masyarakat Indonesia. Justru mereka memakan beras singkong atau rasi. Mereka membuat sendiri rasi dari singkong yang ditanam di Leuweung Baladahan. Para warga adat biasa memanen singkong pada sore hari untuk digiling pada keesokan harinya. Sampai saat ini, sekitar 1.000 orang masyarakat adat atau 60-70 kepala keluarga mengkonsumsi rasi. Mereka berpegang teguh pada adat leluhur untuk tidak makan beras padi.

Bagi masyarakat adat Cireundeu, pantang baginya untuk menjual rasi ketika harus mengorbankan kebutuhan rumah tangga ataupun ladang singkong mereka. Mereka tetap mempertahankan warisan nilai dari leluhur mereka untuk pangan dan menyatu dengan alam.

"Kami makan singkong karena memegang prinsip," tegas Kang Ntris. Sebab mereka sikap hidup mereka berlandaskan berprinsip bahwa teu boga sawah asal boga pare, teu boga pare asal boga beas, teu beas sawah asal bisa nyangu, teu nyangu asal dahar, teu dahar asal kuat. Artinya tidak punya sawah asal punya beras, tidak punya beras asal dapat menanak nasi, tidak punya nasi asal makan, tidak makan asal kuat.

Mereka tidak bergantung pada beras padi. Bagi mereka, ajaran leluhur mengungkapkan jaga mah tempat urang teh heurin ku tangtung. Urang hidup di tempat nu tanggul ku batu. Merenah pisan lamun midah-midah rasa. Artinya, ke depan orang akan semakin banyak dan alih fungsi lahan di mana-mana dan tempat kita banyak bebatuan. Bagusnya kita bisa pindah-pindah rasa.

Ajaran itu diterjemahkan tidak harus beras padi yang menjadi makanan pokok. Apa pun yang masuk ke perut, itulah makanan. Beras padi, rasi, jagung, ataupun ubi hanya berbeda dalam bentuk dan rasa. Selebihnya sama. "Apa yang masuk ke perut itu makan. Terlepas urusan rasa," tegas Kang Ntris. (M-2)

BERITA TERKAIT