Jelajah Literasi dan Bisnis Rintisan


Penulis: Galih Agus Saputra - 07 January 2018, 01:16 WIB
MI/Duta
MI/Duta

SUARA itu menggema di penjuru ruangan Balairung Universitas Indonesia (UI), Depok, Jawa Barat. Ratusan penonton bersorak riang gembira sambil bertepuk tangan, menyambut salah satu grup akapela yang sedang bersiap di atas panggung.

Sementara itu, seorang bapak yang duduk di kursi barisan belakang tersenyum sambil mengajak putrinya yang masih balita untuk menyanyikan lagu yang dibawakan grup tersebut.

'Jagalah hati, jangan kau kotori. Jagalah hati, lentera hidup ini. Jagalah hati, jangan kau nodai. Jagalah hati, cahaya Illahi. Bila hati kian bersih, pikiran pun akan jernih. Semangat hidup nan gigih. Prestasi mudah diraih', begitulah penggalan lirik lagu yang dibawakan grup akapela itu.

Kegirangan itu terlihat pada penyelenggaraan 3rd Universitas Indonesia Islamic Book Fair. Festival buku dengan tajuk Persatuan umat dalam sampul keberagaman Indonesia tersebut diadakan untuk mengisi masa liburan akhir tahun lalu.

Lebih dari 40 penerbit turut bergabung dalam festival yang berlangsung 27-30 Desember 2017 itu. Tak terkecuali, ribuan buku bernuansa Islam untuk siswa TK, SD, SMP, SMA, mahasiswa, maupun umum turut diserbu pengunjung. Mereka juga mendapat suguhan berbagai macam kegiatan seperti seminar, bedah buku, lomba mewarnai kaligrafi, tutur cerita, dan baca puisi.

Serangkaian pertunjukan lain juga sengaja ditampilkan untuk para pengujung seperti ansambel perkusi dari Komunitas BKST (Bengkel Kreasi Seni Teknik) Fakultas Teknik UI, Ikatan Mahasiswa Minang (Imami) UI & Band Cilik SDN 2 Mampang, serta konser amal yang dimeriahkan The Jenggot dan Izzatul Islam.

Pionir start-up

Hari kedua festival dengan tagline Semarak Ukhuwah Kita itu juga diperkaya dengan seminar bertajuk Leadership Rasulullah SAW & Sahabat. Head of Crowdfunding Kitabisa.com Iqbal Hariadi Putra, pendiri Selasar.com Miftah Sabri, serta CEO of Igrow Andreas Sanjaya turut diundang untuk memberikan refleksi tentang kepribadian Nabi Muhammad SAW dalam konteks masa kini.

Menurut Iqbal, Rasulullah merupakan pelaku start-up pada zamannya. Bisnisnya sukses besar meski zamannya belum serbadigital.

Iqbal kemudian merefleksikan Rasulullah secara personal. Ia yang pernah memiliki nama depan Muhammad itu mengaku terlalu berat menyanding nama pemberian orangtua tersebut karena nuansanya sangat agung.

"Akun Instagram saya sekarang sudah tidak memakai nama itu. Mungkin waktu SD, saya tidak terlalu memikirkan nama Muhammad. Tapi, setelah beranjak dewasa dan meneladani sejarah Rasulullah, saya mulai kepikiran kalau nama itu terlalu berat. Jarak antara doa dan keinginan orangtua dalam sebuah nama itu terlalu jauh bagi saya. Tapi, memang Allah punya kebesaran. Pernah suatu saat, saya diberi kesempatan oleh-Nya untuk pergi ke Arab Saudi. Intinya, meskipun nama yang diberikan orangtua itu jauh dari kenyataan, kita harus selalu berusaha untuk meneladaninya," tutur Iqbal, Jumat, (29/12).

Meneladani amanah

Salah satu sifat yang membuat Nabi Muhammad SAW menjadi begitu luar biasa, kata Sanjaya, ialah amanah. Itu merupakan salah satu hal terpenting yang dapat diteladani darinya.

"Ini menjadi inspirasi besar kita bersama-sama ketika kita menjalani aktivitas sehari-hari, baik sebagai akademisi, pebisnis, pemegang kekuasaan, birokrasi, dan sebagai profesional lainnya," kata Sanjaya, atau akrab disapa Jay.

Jay menambahkan, amanah menjadi modal sosial yang sangat penting bagi Nabi Muhammad SAW sejak masih muda. "Ia menjadi orang yang paling dipercaya masyarakat karena akhlaknya yang begitu mulia, yang begitu jujur," tutur Jay.

Menurut Miftah, amanah juga menjadi salah satu aspek yang sangat penting di dunia start-up karena pribadi yang mengemban amanah secara sungguh-sungguh akan lebih dipercaya orang-orang di sekitarnya.

"Sekarang sumber informasi sudah terbuka sangat lebar. Kita bisa membaca apa saja, apakah teori kepemimpinan, teori bisnis, dan segala macam, tapi kalau kita bukan orang yang dapat mengemban amanah, bagaimana pasar bisa percaya dengan kita? Jadi, sampaikanlah segala sesuatu apa adanya," seru Miftah.

Harus cerdas

Di samping amanah, lanjut Miftah, aspek lain yang tidak kalah penting ialah kecerdasan. Dewasa ini, tantangan yang dihadapi generasi muda tidak lagi berhubungan dengan upaya menjawab persoalan, tapi bagaimana merumuskan pertanyaan itu sendiri.

"Dulu saya sering merasa senang saat mengetahui banyak hal. Tapi tantangan saat ini sudah berganti, bukan lagi menjawab pertanyaan, melainkan bagaimana kita seharusnya memformulasikan persoalan untuk kehidupan. Apalagi sekarang ini segalanya sudah ada di kehidupan, saya rasa inilah kemampuan berpikir (fathonah) yang perlu diperhatikan, ditambah dengan kejujuran (shiddiq)," serunya.

Penulis harus pantang menyerah

Penulis buku Harmoni Semesta (2017) Meyda Safira & Lutfiah Hayati turut diundang untuk membedah bukunya dalam festival yang diinisiasi Universitas Indonesia bersama Lembaga Dakwah Nuansa Islam Mahasiswa Universitas Indonesia (Salam) itu. Pada kesempatannya menjadi pembicara, mereka berbagi kiat menulis dan menerbitkan buku.

Menurut Meyda, dewasa ini penulis muda dapat memanfaatkan media yang sudah serbamultiplatform untuk meningkatkan kemampuan menulisnya. "Kita punya media sosial. Kan, kita tidak hanya membagikan tulisan orang lain, tetapi juga menulis sendiri. Maka dari itu, teruslah menulis dan tetap percaya diri," terangnya.

Di samping itu, aspek penting yang perlu diketahui penulis muda, imbuh Meyda, ialah pengawasan orangtua. Ayah dan ibu menjadi sosok penting bagi penulis karena di satu sisi ada yang mengawasi perkembangan akademis, dan di sisi lain ada yang mengamati akhlaknya.

Penulis juga tidak boleh takut jika tidak ada penerbit yang bersedia menerima tulisannya karena sebagai penulis, mereka bisa mengawalinya secara mandiri (indie). Kata Hayati, selalu ada jalan bagi mereka yang mau berusaha. Penerbit tidak akan menerima tulisan kalau tidak sejalan dengan haluan mereka.

"Itu sisi baik dan buruknya. Semua pasti memiliki tantangan masing-masing, apalagi inti dari menulis bukan soal terbit atau tidak, melainkan apakah tulisan yang kita buat itu bermanfaat bagi masyarakat," imbuhnya. (M-1)

BERITA TERKAIT