Gamelan itu Keren


Penulis: GALIH AGUS SAPUTRA Jurusan Jurnalistik Universitas Kristen Satya Wacana - 06 January 2018, 23:31 WIB
Dok. Pribadi
Dok. Pribadi

Riki Putra, jebolan California College of Music, Pasadena, California,

Amerika Serikat, ini terobsesi pada gamelan. Ia tengah merintis proyek musik yang memadukan rock, orkestra, dan gamelan. Simak ya obrolan Muda dengan Riki Putra!

Cerita dong awal mula ketertarikan kamu dengan dunia musik?

Pertama kali tertarik waktu kelas dua SMP. Jadi dulu itu, waktu malam tahun baru, saya iseng-iseng main gitar bareng teman-teman sekolah. Dari situ saya kemudian minta dibelikan gitar sama orang tua. Pertama kali tampil, di kelas dua SMA. Awalnya, saya sekolah di swasta kemudian pindah di negeri, nah waktu di SMA negeri, saya lebih banyak bermain musik. Sekolah negeri itu awalnya lebih banyak menonjolkan kegiatan olahraga, belakangan saya dengar kabar dari guru, sekolah mau buat ekstra kurikuler musik, tapi belum ada pengurusnya. Saya lalu mengajukan diri sebagai ketua. Dari situ, saya mengusulkan berbagai macam keperluan, mulai pengajar hingga jadwal latihan. Kegiatan itu berlangsung hingga saya lulus.

Lalu, ada korelasi antara kuliah kamu dengan musik?

Saya punya pikiran, bermain musik itu bisa kapan saja, bisa buat sambilan di sela-sela waktu kuliah. Mendaftar lah saya SNMPTN di

Universitas Indonesia (UI), tapi ditolak tiga kali hingga akhirnya pada 2010 diterima di Jurusan Periklanan UI. Saya mengambil double degree program International, dua tahun di UI, dua tahun lagi di

Jurusan Media dan Seni, Universitas Deakin, Melbourne, Australia.

Di sana, saya juga sempat mengikuti program pertukaran pelajar dengan Degli Studi, di Torino, Italia. Di sana belajar komunikasi arsitektur dan antarbudaya. Setelah lulus pada 2014, saya mendapat beasiswa belajar bisnis di HULT International Business School, San Francisco, California, Ame rika Serikat. Pada masa itu saya juga punya keinginan

berkontribusi konkret pada Indonesia dengan memperkuat perekonomian Indonesia. Saya lalu jual mobil untuk buat bisnis kecilkecilan,

hingga kemudian berkembang usaha penatu yang dipegang orang kepercayaan di Yogyakarta. Namun, saya kadang merasa telah setengah

hati berbisnis. Saya bertanya pada diri sendiri. Setelah itu, saat kuliah di HULT belum selesai, saya keluar dan mendaftar di California College of Music, Pasadena, diterima pada 2014-2015.

Perkenalan kamu dengan gamelan?

Di California College of Music, saya mengambil Jurusan Pertunjukan Musik untuk belajar gitar, selama satu triwulan dan vokal. Namun, di samping itu saya juga mengikuti program belajar menulis lagu di Los Angeles Songwriting School. Pada 2015-2016, saya mengikuti program di Musician Institute, Los Angeles, untuk belajar gitar dan vokal, sekaligus bisnis industri musik. Menariknya, sejak di Amerika itu, saya jadi tertarik pada gamelan. Jadi, di suatu waktu, saya kan sedang mengikuti kelas teori, nah teman-teman bilang ke dosen kalau saya orang Indonesia. Dosen saya sendiri orang Amerika tapi keturunan Belanda, tiba-tiba dia main gamelan tapi pakai piano. Saya sampai

bengong lihatnya, ada bule pirang bisa main gamelan ha ha ha...

Dia cerita, kalau kuliah S-1-nya itu minornya gamelan dan gurunya orang Bali. Sepulang dari sana, saya berkunjung ke Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Saya baru tahu kalau banyak orang luar negeri belajar gamelan. Banyak yang sudah jago dan bertahun-tahun

belajar di sana hingga manggung ke daerahdaerah, seperti di Banyumas dan daerah lain. Dari pengalaman itulah muncul keinginan saya untuk membuat musik dengan gamelan hingga memadukannya dengan alunan rock

dan orkestra.

Seberapa populer sih gamelan di Amerika?

Tiap universitas itu biasanya ada. Jadi, misalnya di brosur, nanti ada gambarnya, di pendidikan minor, kebanyakan menyediakan gamelan. Bahkan, 7 dari 10 universitas pasti punya gamelan. Apalagi,universitas favorit di Los Angeles. Banyak juga orang di sana, yang pernah ke Indonesia, terus suka gamelan dan ingin belajar tapi belum sempat, mereka rela balik lagi untuk sekolah. Mereka jago-jago kalau main gamelan.

Sekarang, seberapa dalam ketertarikan kamu dengan gamelan?

Saking dalamnya, sampai susah menjelaskan. Menurut saya, kalau orkestra, masih bisa dijelaskan. Misalnya, senar digesek nanti

bunyinya seperti ini atau seperti itu, lalu kalau dihitung pakai frekuensi suara dan dikategorikan, masuknya jadi C4. Dari C4 kalau digabungin sama E4 dan G4 nanti jadinya C Mayor, seperti itu masih bisa dijelaskan. Sementara itu, aura gamelan berbeda. Kalau

misalnya mau dijelaskan, nanti nadanya bisa jatuh di A, B Flat, atau C Flat, tapi kembali lagi, pasti ada aura tersendiri. Tidak seperti piano yang pattern nada dan proses pembuatannya jelas, kalau gamelan kan pembuatannya selalu mengikuti bilah yang diproduksi sebelumnya.

Gamelan yang dicontoh untuk pembuatan itu juga mengikuti bilah yang dibuat sebelumnya, begitu terus, merujuk ke generasi pertama

gamelan itu dibuat. Mungkin karena itu juga gamelan sering diasosiasikan mistis secara budaya, sebab suaranya juga susah untuk dijelaskan. Namun, itu kerennya gamelan, dibuatnya seperti takdir.

Niat memadukan rock, orkestra, dan gamelan, sudahkah diimplementasikan?

Dulu saya sempat kepikiran, gamelan itu identik dengan orang tua, padahal tidak. Melalui musik, saya ingin gamelan terlihat semakin

gagah saat disandingkan dengan rock. Sudah gagah, jadi semakin gagah!

Kemudian, kenapa saya juga memadukannya dengan orkestra? Ya, karena ingin mengemasnya dengan high class. Jadi, intinya ingin menghadirkan impresi baru tentang gamelan yang gagah dan berkelas saat diasosiasikan bersama rock dan orkestra. Sebenarnya sudah banyak lagu yang saya hasilkan, tapi setelah konser saya di Yogyakarta awal tahun kemarin, baru tiga lagu yang sudah direkam live, yaitu Kelak Kau kan Ditanya, Java Dance dan Gamelan Rules. Ceritanya tentang berbagai macam hal, misalnya Java Dance, bercerita tentang orang di wilayah perkotaan yang sedang jenuh dengan kehidupan urban lalu ingin mencari hiburan mendalam. Dia ingin membaur dengan alam, kemudian saya buat perpaduan musik yang didalamnya ada gamelan sebagai representasi

alam itu sendiri. Kalau dari Gamelan Rules,saya ingin memberi tahu, setuju atau tidak gamelan itu keren!

Agenda kamu ke depan?

Ada banyak, tapi sekarang ini fokus ke publikasi rekaman, ke depannya, ingin membawa gamelan keliling Indonesia dan dunia. Terdekat, akan menggelar konser di Taman Ismail Marzuki dan Institut Francais Indonesia di Thamrin. Saya juga ingin bekerja sama dengan Ikatan Pelajar Indonesia (IPI) yang tersebar di berbagai negara agar dapat menggelar konser di sana.

Punya pesan untuk kalangan Muda Indonesia soal gamelan?

Mulai sekarang, lihatlah segalanya lebih dekat. Kembali lagi, tidak mau menyalahkan yang tidak suka gamelan. Namun, kalau misalnya

gamelan itu mereka anggap tidak keren, kita bisa kok membuatnya jadi keren. Toh, bangsa yang besar itu kan bangsa yang bangga pada dirinya sendiri. Saya sudah membuktikan itu saat menempuh studi di beberapa negara. Ketika kita banyak bertukar cerita dengan pelajar di sana,

selalu saja ujungnya mereka bangga dengan jati dirinya, budayanya.

Ini bukan untuk sombong juga, melainkan dalam hati kecil harus selalu percaya kalau kamu itu keren. Gamelan itu keren! (M-1)

RIKI PUTRA

Tempat, tanggal lahir

Balikpapan, 19 April 1992

Pendidikan

S-1 Program Internasional

Ilmu Komunikasi,

Universitas Indonesia dan

Universitas Deakin, Australia

Pertunjukan Musik

Gitar (Satu Triwulan) dan

Vokal, California College of

Music, Pasadena, California,

Amerika Serikat

Bisnis Industri Musik, Vokal,

dan Gitar Musician Institute,

Los Angeles, California,

Amerika Serikat

Menulis Lagu

Los Angeles Song Writing

School, Los Angeles,

California, Amerika Serikat

Konser

Gamelan Rules, Unplugged

(2017) Concert Hall Taman

Budaya Yogyakarta

BERITA TERKAIT