Puluhan Warga Girimulyo Masih Mengungsi akibat Tanah Ambles


Penulis: Antara - 18 December 2017, 21:54 WIB
ANTARA
ANTARA

SEBANYAK 94 jiwa di Desa Purwosari, Girimulyo, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, masih mengungsi akibat terjadi 32 titik longsor dan tanah ambles dampak badai Siklon Cempaka beberapa waktu lalu.

Taruna Siaga Bencana (Tagana) Kulon Progo, Sudarmana, di Kulon Progo, Senin (18/12), mengatakan bahwa hujan deras dengan intensitas tinggi pada 28 November 2017 lalu menyebabkan terjadi 32 titik longsor dan tanah ambles yang tersebar di lima dusun, yakni Dusun Gedong, Ngaglik, Ngroto, Tegalsari, dan Ponces.

"Longsor dan tanah ambles diketahui telah menyebabkan delapan rumah mengalami rusak berat dan harus direlokasi, dan lainnya mengungsi," katanya.

Menurut dia, apabila rumah-rumah tersebut dihuni, sangat berisiko mengancam keselamatan penghuninya. Sudarmana mengungkapkan bahwa kontur tanah di Dusun Tegalsari termasuk labil, terdapat retakan yang membahayakan, dan berisiko longsor susulan bila turun hujan.

Dalam pantauan tim Tagana, retakan tanah yang terjadi itu masih memperlihatkan pergerakan yang signifikan bila turun hujan. Titik-titik longsor dan tanah ambles membentuk tapal kuda sepanjang 500 meter.

Akibat hujan Minggu (17/12) malam kemarin, telah terjadi penurunan 30 sentimeter. Di sepanjang pola tapal kuda itu, ada tiga rumah mengalami kerusakan berat, katanya.

Kepala Desa Purwosari, Purwito Nugroho Wijimulyanto, menyebutkan, delapan rumah yang mengalami kerusakan itu dihuni oleh 31 jiwa. Mereka mengungsi di rumah saudara dan kerabat terdekat.

"Selain rumah rusak, tanah longsor maupun ambles berdampak pada 11 titik jalan, empat titik putus dan harus direlokasi karena rawan longsor, harus dibersihkan dengan alat berat, tiga jalan sudah dibersihkan dengan kerja bakti," katanya.

Warga Purwosari, Suharti, mengatakan bahwa rumahnya ada di ujung lengkung retakan tapal kuda itu. Tanah penopang rumahnya retak dan ambles sedalam sekitar 50 cm sehingga bagian dapurnya terbelah dan lantai ruang tengahnya retak.

Retakan, katanya, dimulai dari bagian belakang rumah dan disertai suara keras serupa dentuman. Setelah itu, retakan tanah merambat ke ruang tengah hingga dapur.

Saat ini, dirinya dan keluarga harus mengungsi ke rumah tetangga. Ia mengaku tak berani tidur di rumah apabila hujan deras sedang mengguyur.

"Saya belum buru-buru ingin pindah (relokasi). Lihat keadaan nanti. Kalau hujan dan tanahnya gerak lagi mungkin saya segera pindah. Masih ada lahan lagi di pedukuhan lain," kata Suharti. (OL-2)

BERITA TERKAIT