Mengenal Ajaran Toleransi Tertua Nusantara


Penulis: Abdillah M Marzuqi - 03 December 2017, 05:20 WIB
Ebet
Ebet

SEMUA pasti sudah akrab dengan Candi Borobudur. Candi itu disebut-sebut sebagai salah satu keajaiban dunia. Keberadaannya menjadi ikon bangsa Indonesia. Tak mengherankan jika banyak wisatawan mengunjungi candi itu ketika sepanjang waktu. Tak hanya pada musim libur. Wisatawan yang berkunjung tidak hanya dari daerah sekitar ataupun lingkup Indonesia. Sebaliknya, kunjungan wisatawan mancanegara juga tak kalah jumlahnya. Ketika mengunjungi Candi Borobudur jangan lupa memperhatikan relief atau gambar pahat di dinding-dinding candi. Relief itu bukan hanya sebagai aksesoris penghias dan pemercantik, melainkan sumber pengetahuan yang luas dan kaya. Isinya bisa bermacam-macam dari mulai gambaran kehidupan sehari-hari masyarakat pada masa itu sampai media penyampai ajaran religi.

Salah satunya adalah Gandawyuha yang muncul dalam relief sebanyak 460 panel di lorong 2, 3, dan 4 pada Candi Borobudur. Dalam Gandawyuha terdapat kisah Sudhana yang menjalani laku menggapai pencerahan tertinggi dalam kebuddhaan. Sudhana berguru kepada banyak guru, baik dari kalangan biksu maupun orang-orang biasa. Sudah banyak kisah Nusantara yang bercerita tentang murid yang berjalan dan menemui banyak guru untuk menimba ilmu. Hampir semua tentang tokoh Nusantara pasti melakonkan. Entah itu untuk ilmu kesaktian, kanuragan, kearifan, maupun kebijaksanaan.

Budayawan Mudji Sutrisno dalam tulisan berjudul Gandawyuha, Toleransi dan Pluralisme menjelaskan bahwa mengembara untuk menemui satu guru ke guru lain dengan tujuan mencari kebenaran sejati adalah sesuatu yang ada dalam semua agama dan tradisi-tradisi dunia kerohanian mana pun. Dalam dunia kesantrian, sudah sangat umum seorang santri berkelana dari satu pesantren ke pesantren lain belajar ilmu yang berbeda-beda. Demikian juga peziarahan-peziarahan Katolik ataupun lelana spiritual pelaku kebatinan dan penghayat Nusantara.

Gandawyuha merupakan kisah esoteris agama Buddha Mahayana mengenai anak muda bernama Sudhana yang berkelana tanpa mengenal lelah dalam usahanya mencari pengetahuan dan kebijaksanaan tertinggi. Sudhana melakukan perjalanan religi keliling India menemui satu guru dan guru lain atau para sahabat spiritual (mitreka satata). Kisah suci ini diperkirakan muncul pada awal abad 1 Masehi di India Selatan dan kemudian menyebar ke seluruh Asia. Gandawyuha dikenal sebagai bagian terakhir dari sutra besar agama Buddha Mahayana yakni Sutra Avatasamka. Agama Buddha Mahayana memiliki berbagai sutra seperti Sutra Prajna Paramita, Sutra Lankavatara, Sutra Surangama, Sutra Vimalakirti, Sadharma Pundarika Sutra atau Lotus Sutra, dan Maha Parinirvana Sutra.

Gandawyuha merupakan Bab 34 dari Sutra Avatasamka. Sebagai bab penutup Avatasamka Sutra tetapi Gandawyuha kemudian sering diedarkan terpisah dan menjadi sutra tersendiri. Tokoh Sudhana dalam seni lukis religius di Tiongkok, Tibet, atau Jepang sering digambarkan di gulungan kain-kain atau gambar-gambar di kertas. Dari lorong kedua Borobudur, pada awalnya Sudhana mengunjungi bodhisatwa Manjusri. Manjusri memberikan arah bagi perjalanan Sudhana. Sudhana menemui berbagai rahib, biarawati, tabib, dewi-dewi dan beberapa orang suci. Ia memperoleh petuah, nasihat, dan wejangan.

Sudhana mulai mendapatkan kebijakan yang dicari setelah bertemu dengan bodhisatwa welas asih Avalokitesvara. Pada lorong ketiga, relief menggambarkan Sudhana berjumpa bodhisatwa Maitreya yang dalam khazanah Mahayana dianggap sebagai Buddha masa depan. Guru terakhir inilah yang menghantarkan pangeran Sudhana mencapai kearifan tertinggi dan kebenaran yang hakiki. Sudhana diajak Maiteya memasuki menaranya, lalu diajak mengalami berbagai dimensi semesta atau dharmadhatu. Pada lorong keempat Borobudur, relief Gandawyuha dilanjutkan dengan relief Bhadracari yang menjadi kisah penutup Gandawyuha. Relief itu menampilkan Sudhana bertemu dengan bodhisatwa Samanthabadra.

Sumpah Samanthabadra
Samantabhadara dalam khasanah Budhis Mahayana bersama Manjusn dan Avalokikitesvara dianggap tiga bodhisatwa penting yang sifat-sifatnya membentuk saripati sifat Buddha. Kepada Sudhana, Samantabhadra mengajarkan bahwa kebijaksanaan hanya ada untuk dilakukan. Kebijakan bukanlah sesuatu untuk disimpan sendiri, tetapi hanya baik apabila menguntungkan semua makhluk hidup. Sudhana betul-betul baru mendapatkan pencerahan. Pada lorong keempat relief Borobudur itu badan Sudhana dipahatkan melayang sembari bibirnya tersenyum.

Pada saat bertemu Saman tabhadra. Sudhana juga bertekad untuk mengikuti sumpah Samanthabadra. Samantabhdra terkenal akan 10 sumpahnya yang menjadi rujukan atau ikatan bagi semua bodhisatwa. Sumpah ini meliputi sumpah mengakui kesalahan-kesalahan silam dan berubah menjadi baik serta sumpah mempersembahkan segala jasa dan kebaikan kepada makhluk lain. Gandawyuha sedemikian dalam maknanya. Itulah yang membuat Borobudur Writer and Cultural Festival 2017 (BMWCF) mengangkatnya menjadi tema sentral. Acara itu diselenggarakan pada 23-25 November 2017 di Yogyakarta dan Magelang.

Relief Gandawyuha di Borobudur sangat relevan dibicarakan di tengah kecenderungan fanatisme dan intoleransi agama saat ini. Borobudur Writer and Cultural Festival menganggap bahwa pencarian ketuhanan dalam kisah Gandawyuha ini sangat universal dan mencerminkan tingkat toleransi agama yang tinggi. Lebih dari itu Gandawyuha merupakan sebuah pencarian ketuhanan yang berkebudayaan. "Borobudur Writer and Cultural Festival maka dan itu menganggap sesungguhnya relief Gandawyuha merupakan salah satu rujukan tertua di nusantara bagi toleransi dan pluralisme di Indonesia," terang Mudji Sutrisno yang juga menjadi salah satu tim kerja dan kuratorial BWCF 2017. (M-2)

BERITA TERKAIT