Berangkat dari Passion


Penulis: Melati Salamatunnisa - 30 November 2017, 19:15 WIB
img
Ist

PASSION adalah minat yang harus dikejar dengan komitmen dan keteguhan hati. Kurang lebih sama dengan yang diilhami Ciputra. Bagi pendiri Ciputra Group ini, passion adalah semangat dan cita-cita hidup yang dapat terwujud melalui suatu perjuangan atau penderitaan. Baginya, passion berangkat dari ungkapan “Prisoner of Hope” yang diterjemahkan olehnya menjadi “The Power of Dream”, yaitu tenaga yang timbul untuk mencapai tujuan tersebut.

“Ayah saya meninggal ketika saya berumur 12 tahun. Beliau ditangkap oleh tentara Jepang karena dituduh sebagai mata-mata. Saya lihat ayah diseret dan dinaikkan ke perahu motor menuju Manado,” cerita Ciputra ketika ditemui di Ciputra Artpreneur dalam acara perayaan hari jadi korporasi dan jejak karyanya sepanjang 36 tahun dalam acara Founders Day 2017, Rabu (29/11).

Itulah kali terakhir Ciputra melihat sang ayah. Sembilan bulan kemudian, ketika para tahanan kembali ke kampung, ayahnya sudah tidak ada. Ia sudah meninggal di penjara. Bahkan, ada kabar yang mengatakan bahwa ayahnya sempat melompat ke lautan karena berpikir lebih baik mati daripada disiksa oleh Jepang. Meski setelah itu ia diangkat kembali ke kapal dalam kondisi hidup.

"Saya ingat, Papa melambaikan tangan kepada saya di kapal, sementara saya memeluk Mama saya erat-erat supaya tidak dibawa serta. Untuk anak umur 12 tahun, hal itu membuat saya merasa sangat menderita," imbuh Ciputra.

Tinggal di rumah gubuk dan harus berburu seminggu sekali demi mendapat asupan protein mengantar Ciputra untuk tetap semangat bersekolah bahkan hingga lulus kuliah arsitektur di Institut Teknologi Bandung (ITB).

Tamat kuliah, Ciputra pindah ke Jakarta. Ia ingin membangun pusat perbelanjaan di bilangan Senen. Ia berusaha dan berjuang lagi dalam beberapa bulan untuk dapat menemui R Soemarno, Gubernur DKI Jakarta pada saat itu. Dan, siapa yang sangka ternyata ditakdirkan untuk bertemu langsung Presiden Soekarno?

Cerita tersebut dituangkan dalam buku “The Passion of My Life” yang diluncurkan di hari yang sama. Buku biografi yang diangkat dari perjalanan hidup sosok Ciputra yang disusun oleh Alberthiene Endah tersebut adalah sebuah kisah yang menginspirasi dan memotivasi kita semua untuk memiliki hak untuk menciptakan impian terindah, berinovasi, dan berjerih payah mencarinya.

Setebal 600 halaman, buku “The Passion of My Life” merupakan refleksi mendalam bapak Ciputra di usia 86 tahun. Mengisahkan perjalanan seorang Ciputra yang lahir dari keluarga sederhana yang dengan semangat dan kerja keras berhasil menjadi salah satu pengusaha besar di Indonesia.

"Seumur hidup saya dulu, saya ingin menjadi arsitek. Tapi kemudian saya tidak mau jadi arsitek, saya mau menciptakan proyek saya sendiri," tukasnya.

Oleh karena itu, dalam buku “The Passion of My Life”, Ciputra juga menitikberatkan pentingnya menjadi entepreneurship. Baginya, soal kemiskinan dapat diatasi dengan membuka diri menjadi pengusaha.

Ciputra masih ingat dulu ia bergaul dengan anak-anak jalanan. Ia merasa mereka memiliki potensi yang tidak kurang dari dirinya. Ketika ia hendak pensiun, ia melihat teman-temannya masih tidak berhasil. Dari situ ia mengambil kesimpulan, mengapa orang tidak menjadi entepreneur saja?

“Inovasi yang berkelanjutan adalah kunci keberhasilan pembangunan dan generasi muda adalah penggeraknya, kewirausahaan dapat menjadi solusi persoalan sosial terkait korupsi dan pengangguran karena berpeluang menciptakan lapangan pekerjaan,” tukasnya.

Menurutnya, ada empat hal yang harus dimiliki untuk sukses menjadi seorang entepreneur, antara lain visi, kreativitas, inovasi, dan berani mengambil keputusan.

"Saya berharap buku ini dapat mengingatkan generasi muda untuk memiliki integritas, profesionalisme, dan semangat kewirausahaan. Nilai-nilai ini yang menjadi landasan Ciputra Grup seperti yang tertera pada topi saya," tutupnya sambil menunjuk lambang Ciputra pada topinya. (X-12)

BERITA TERKAIT