Besutan Cikal Bakal Ludruk


Penulis: Abdillah M Marzuqi - 19 November 2017, 01:31 WIB
MI/Ebet
MI/Ebet

WAJAH pria itu dilaburi bedak putih. Bedak itu cukup dominan hingga menutup seluruh muka tanpa meninggalkan warna asli kulit. Kupluk berbentuk bulat setengah lingkaran bola menutup bagian atas rambut. Kupluk merah itu tidak hanya polosan tanpa aksesori. Hiasan tali kuncir menyembul dari pucuk kupluk. Kunciran itu terurai bebas tetapi panjangnya tidak sampai melewati tepian bawah kupluk.

Semakin mempertegas nuansa merah putih. Tidak hanya riasan wajah putih dan kupluk merah di kepala, nuansa merah-putih juga sangat kuat dari kostum yang dipakai pria itu. Lilitan kain putih itu melilit tubuhnya. Tidak menutup tubuh sepenuhnya. Seperti kemben yang menyisakan bagian atas tubuh sekitar pangkal tangan dan sebagian bagian dada terbuka.

Kain itu juga tidak serta-merta menjadi satu-satunya kain penutup tubuh. Masih terlihat celana hitam komprang yang menyembul dari penghabisan kain putih. Celana itu meneruskan tugas kain putih untuk menutup tubuh. Hitam kompang membelit kaki masing-masing di bagian bawah. Masih ada tali lawe yang diikat melilit di perut.

Itulah karakter besut yang muncul dalam pertunjukan kesenian rakyat yakni besutan. Tidak banyak yang tahu tentang kesenian besutan asal Jombang, Jawa Timur. Jika ditanya tentang adu kepopuleran ludruk dan besutan, jawabannya dapat dipastikan ludruk lebih banyak mengakrabi telinga bila dibandingkan dengan besutan.

Besutan merupakan salah satu kesenian asli Jombang yang sudah ada sejak zaman penjajahan. Besutan berasal dari nama tokoh utama kesenian ini, yakni Besut, yang dalam bahasa Jawa memiliki arti mbeto maksud atau membawa pesan dalam bahasa Indonesia. Kata pesan merujuk pada isi pertunjukan yang tersirat dalam dalam kidungan, busana, dialog, parikan maupun alur cerita.

Pada setiap pementasan besutan, ada adegan semacam ritual pembuka pentas. Adegan itu juga sebagai lambang perjuangan rakyat Indonesia. Karakter besut berjalan memasuki panggung dengan mata terpejam yang memiliki arti bangsa Indonesia tak boleh terlalu banyak tahu. Mulutnya tersumbat susur atau daun sirih yang melambangkan bahwa rakyat Indonesia dilarang untuk berpendapat.

Ia berjalan dengan merayap mengikuti ke mana obor yang dibawa pemain lain bergerak. Hingga pada satu kesempatan, besut akan melompat dan menyemburkan susur di dalam mulutnya menuju obor hingga obor padam. Setelah obor padam, besut langsung membuka matanya dan mulutnya terbebas dari susur. Ia pun langsung menari dengan sangat bersemangat. Setelah besut selesai menari, ia akan melantunkan kidungan. Setelah itu, baru pementasan besut masuk ke lakon yang diangkat.

Tokoh besut menggunakan kostum yang sangat sederhana, yaitu kain putih yang dililitkan di tubuhnya yang melambangkan kebersihan jiwa dan raga, dan sebuah tali lawe yang melilit perutnya yang melambangkan kesatuan, dan tutup kepala berwarna merah yang melambangkan keberanian.

"Jadi bebet e bebet putih, kupluk e kupluk abang. Jadi merah-putih. Bawa obor, mulutnya susuran, pakai susur. Artinya pada waktu itu mulutnya terbungkam oleh penjajah, tidak boleh bersuara politik," terang seniman Jawa Timur Cak Bathin.

Selain karakter besut, kesenian besutan punya karakter lain yakni Rusmini, Man Gondo, dan Sumo Gambar. Rusmini mengenakan busana khas yakni kain jarik, kebaya, dan kerudung lepas. Man Gondo menggunakan busana khas Jawa Timuran. Sumo Gambar menggunakan kostum khas masyarakat Madura. "Empat orang itu pakem. Temanya berkembang, tapi ada ciri khasnya. Dialognya dibuat parikan," ujar seniman pengagas Komunitas Ludruk Jakarta itu.

Bermula dari gatal ulat bulu

Tak berlebihan jika dikata besutan lahir dari pola masyarakat agraris. Kondisi Jawa Timur dahulu ditopang dengan kegiatan pertanian, hampir seluruh wilayah pelosok Jawa Timur penduduknya berpenghasilan dengan bercocok tanam atau bertani. Daerah Jombang rata-rata masyarakat yang ada di pelosok desa berpenghasilan dari bertani, hasil dari bertani terkadang kurang untuk mencukupi hidup sehari-hari.

Sekitar 1907, ada seorang penduduk yang setiap harinya bekerja sebagai petani dari Diwek Jombang yang bernama Pak Santik. Ia adalah seorang buruh tani yang tentunya banyak menghabiskan waktu di sawah untuk bekerja. Suatu ketika, ia terkena ulat bulu. Terang saja kegatalan melanda tubuhnya. Pada zaman itu, masyarakat sekitar mempunyai obat tradisional untuk gatal akibat ulat bulu, yakni dengan tumbukan beras. Tepung beras itu lalu dibedakkan ke bagian tubuh yang gatal.

"Ludruk itu aslinya dari Jombang. Ada namanya Pak Santik. Dia itu buruh tani. Kemudian dia ke sawah dirubung sama ulat bulu. Terus gatelen. Zaman dulu supaya sembuh itu pakai bedak beras ditumbuk untuk menyembuhkan gatelnya itu," terang Cak Bathin.

"Ia lewat. Orang dari pasar ketawa. Anaknya ketawa. Dia percaya diri bahwa dia lucu. Akhirnya dia pakai bedak itu untuk ngamen ke pasar. Itu 1905 sampai 1907, dia ngamen ke pasar. Ketemu sama panjak gendang namanya Pak Pono. Terus ngamen berdua sampai 1915," tambahnya. Dari ngamen itulah lambat laun seiring dengan perkembangan muncul bentuk besutan, lerok, hingga ludruk yang banyak dikenal kini. (M-2)

BERITA TERKAIT