Barter Cerita



Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group - 12 February 2019, 05:10 WIB
img

ISU negara bubar yang ditiupkan di Jakarta beberapa waktu lalu rupanya masih berembus di kampung kami. Banyak yang tak percaya, tapi ada juga yang menganggap benar adanya.

Selain itu, juga isu basi tentang kebangkitan PKI, negara akan bangkrut karena utang, Indonesia yang akan dikucilkan dunia karena Jokowi tak cakap berbahasa asing. Aneka kabar dusta seperti Indonesia akan jadi milik asing juga masih berembus.

Tukang urut di kampung kami, Kitu, membuka pertanyaan. “Benarkah negara akan bubar jika Joko Widodo-Ma’ruf Amin terpilih menjadi presiden dan wakil presiden, Pak?”

Pernyataan negara bubar, katanya, kerap dilontarkan seorang calon anggota legislatif kabupaten dari sebuah partai yang kini gencar sosialisasi. Yang ahistoris moyang sang caleg juga tokoh PKI. Ia lupa atau tengah memanipulasi sejarah? Dulu sebagai penceramah ia membidahkan tahlilan, kini sebagai caleg sering minta tahlilan.

Saya malas menjawab pertanyaan itu sebab ini isu tak menarik buat saya. Namun, Kitu butuh jawaban.

“Kan, Pak Jokowi sudah menjadi presiden. Nyatanya negara baik-baik saja. Malah pembangunan makin gencar. Betul, enggak?”

“Betul, Pak,” seraya terus ‘menggarap’ badan saya yang ‘remuk redam’ karena meriang. Perempuan berusia 53 tahun itu terus bercerita tentang aneka iming-iming dari para caleg kabupaten yang tengah gencar sosialisasi. Sebagai tukang urut, ‘kilometer’ Kitu pasti jauh. Artinya, ia punya kemungkinan tahu tentang ‘macam-macam’ hal.

“Sekarang wakilnya Jusuf Kalla, pengusaha sukses. Kalau terpilih Pemilu 2019 nanti, Jokowi wakilnya KH Ma’ruf Amin, Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia. Berarti dia ‘bosnya’ ulama. Dia juga dulu Rais Aam PBNU.”

“Kalau itu saya juga tahu. Hubungannya apa, Pak?” jawab Kitu, ibu beranak dua, yang tahun lalu terpilih sebagai ketua RT.

Saya sesungguhnya lebih menikmati pijatan daripada menjawab pertanyaan Kitu. Saya melanjutkan, Jokowi itu nasionalis dan Ma’ruf Amin ulama. Pengusungnya juga partai nasionalis dan agama. Inilah kelompok yang dulu mendirikan Republik Indonesia.

“Jadi dengan kombinasi itu, Indonesia mestinya tambah kuat. NU pun  paling berani pasang badan untuk tegaknya Indonesia. Jadi, caleg yang ngomong Indonesia akan bubar mesti belajar sejarah,” kata saya.

Ibu dua anak itu mafhum. “Oh, begitu ya, Pak?” Ia terus membetot-betot jari kaki saya tanpa ampun. Saya menye­ringai.

“Ada langganan urut saya juga bilang, nanti kalau Jokowi menang komunis akan bangkit? Partai-partai pendukungnya juga ikut membangkitkan PKI.”

“Bangkitnya pakai apa? Soalnya di Rusia negara tempat komunis dilahirkan juga sudah bangkrut. Di banyak negara juga enggak laku.”

“Jadi itu hoaks, Pak?”

“Itu dusta menjurus fitnah. Yang menyebarkan isu komunis juga sudah masuk penjara.”
“Soal bahasa Inggris Jokowi? “Kan, Jokowi udah presiden dan udah biasa berbicara di forum internasional, dan bertemu para pemimpin dunia, bahkan banyak yang minta foto bersama atau selfie.”

Kitu meremas-remas kepala saya dengan sekuat tenaga tanda akhir ‘prosesi menggarap’ tubuh saya.

Ia meminta saya sering-sering pulang kampung dan bercerita ‘kabar’ Jakarta. Saya minta ia mencatat dan merekam ‘segala hal’ yang terjadi di desa.

BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA