Selamat Tinggal 2018



Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group - 29 December 2018, 05:30 WIB
img

TINGGAL dua hari 2018 akan kita lalui. Seperti karakternya waktu, ia akan terus berjalan dan tidak pernah akan mundur ke belakang. Kita tidak pernah bisa menyesali waktu yang sudah berlalu. Kita hanya bisa menyongsong waktu yang akan datang dengan penuh harapan dan optimisme.

Kita harus menerima kenyataan, dari sisi ekonomi kita tidak bisa lepas dari kecenderungan perekonomian global. Pertumbuhan ekonomi kita masih mengalami plateau pada tingkat 5%. Perekonomian dunia pun mengalami pertumbuhan mendatar pada tingkat 3,7% dalam tiga tahun ini.

Di samping persoalan yang ada di dunia, ada juga faktor di dalam negeri yang membuat pertumbuhan ekonomi tertahan. Yang paling utama ialah keterbatasan infrastruktur, mulai jalan, pelabuhan, bandara, hingga listrik. Sekarang persoalan infrastruktur sudah mulai

terselesaikan dengan pembangunan masif baik itu jalan desa, jalan nasional, maupun tol. Pelabuhan juga banyak yang diperluas dan dibangun baru, seperti Tanjung Priok dan Kuala Tanjung. Bahkan isu keterbatasan pasokan listrik sudah tidak lagi terdengar dengan mulai diselesaikannya proyek pembangunan pembangkit listrik 10 ribu Mw.

Ketersediaan infrastruktur tentunya perlu diikuti peningkatan investasi agar manfaatnya bisa terasakan oleh lebih banyak anggota masyarakat. Selain masalah perizinan yang sering masih kendala, persoalan yang masih menghadang ialah ketersediaan tenaga kerja terampil.

Kita masih ingat pengalaman, mengapa Sony memilih Tiongkok sebagai basis produksinya. Karena ketika mereka membutuhkan 3.000 tenaga pemasaran perempuan yang punya keterampilan dan tinggi rata-rata 172 cm, jumlah yang datang melamar mencapai 30 ribu orang. Maka dari itu, dengan mudah Sony mendapatkan 3.000 tenaga kerja terampil terbaik seperti mereka butuhkan.

Persoalan ini yang belum bisa kita bisa lakukan di Indonesia. Meski kita memiliki 260 juta penduduk, jumlah tenaga terampil masih terbatas. Tepatlah jika Presiden Joko Widodo akan memfokuskan kepada pembangunan manusia. Bukan hanya anak-anak terbaik Indonesia akan dikirimkan keluar negeri, melainkan juga tenaga pengajar yang baik dari luar akan didatangkan untuk melatih anak-anak Indonesia di sini.

Tentu kita ingin mengingatkan agar bidang pendidikan dan keterampilan disesuaikan dengan kebutuhan pembangunan yang akan kita lakukan. Kita harus koreksi sistem pengiriman anak didik keluar negeri sekarang ini, yang lebih banyak memfokuskan kepada ilmu-ilmu agama dan hukum. Kita membutuhkan juga ahli-ahli untuk ilmu-ilmu dasar dan teknologi agar negeri ini bisa naik kelas menjadi negara industri maju.

Pelajaran terpenting lain yang kita bisa petik dari pengalaman 2018 ialah bagaimana membangun sinergi dan kolaborasi. Kita harus bersama-sama tumbuh dan menikmati kemajuan. Janganlah kita hanya memikirkan kepentingan sendiri dan tidak peduli dengan yang lain.

Tidak bosan kita sampaikan perlunya kolaborasi antara badan usaha milik negara dan swasta. Untuk pembangunan tol di Sumatra, pemerintah merencanakan melakukan sekuritisasi terhadap tol yang sudah ada di Jawa. Kita jangan lalu menjadi fobia ketika nanti ada swasta yang membeli saham dari jalan tol di Jawa karena hasil penjualan itulah yang akan dipakai BUMN untuk membangun tol di Sumatra.

Pemerintah pun jangan hanya memikirkan keberhasilan dari aspek penerimaan negara. Sekarang ini kita bangga penerimaan pajak bisa meningkat sampai 14%. Akan tetapi, ketika pertumbuhan ekonomi hanya 5% dan inflasi di kisaran 3,5%, berarti pemerintah tidak sedang mendorong pertumbuhan ekonomi, tetapi justru sedang melakukan kontraksi ekonomi.

Tidak usah heran apabila sektor riil tidak cukup memberikan dorongan kepada pertumbuhan. Beruntung konsumsi masih bisa menyumbangkan sampai 55% sehingga angka pertumbuhan kita masih bisa bertahan di kisaran 5%.

Tahun depan semua itu perlu kita perbaiki agar investasi mahal yang sudah kita tanamkan untuk pembangunan infrastruktur tidak menjadi sia-sia. Terbentangnya tol dari Jakarta hingga Surabaya serta jalan mulus yang masuk sampai ke desa harus benar-benar kita optimalkan untuk memutar roda perekonomian nasional.

Sepanjang perekonomian pada tingkat masyarakat tidak bergerak cukup cepat, maka pemerintah akan terus menghadapi kecaman dari pembangunan infrastruktur yang dilakukan. Seakan semua itu dianggap sebagai kemubaziran karena tidak semua orang ikut memanfaatkannya. Padahal, infrastruktur itu dibangun untuk menurunkan biaya logistik dan meningkatkan efisiensi.

Kita pun ingin mengingatkan janji Menteri Keuangan saat bertemu para pemimpin redaksi di awal tahun ini. Bahwa target penerimaan pajak merupakan akibat dari bergeraknya kegiatan ekonomi bukan tujuan yang harus dicapai dengan cara apa pun.

Tentu kita menyadari, tantangan yang harus kita hadapi tahun depan tidaklah lebih ringan. Akan tetapi, peluang untuk bisa tumbuh bukan tidak ada. Kita melihat masih banyak perusahaan memiliki peluang meningkatkan ekspor. Hanya, mereka membutuhkan sinergi dengan pemerintah. Lagi-lagi Indonesia Incorporated itulah yang harus benar-benar kita bangun.

 

BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA