Garong



Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group - 06 November 2018, 05:10 WIB
img

“TERNYATA dia garong juga ya, pak? Padahal tampangnya alim, tapi kelakuannya zalim. Kalau KPK yang menersangkakan sulit untuk berkelit. Untuk pejabat yang melakukan korupsi sebaik­nya dimiskinkan saja. Biar jera! Hartanya langsung buat kaum duafa.” Ia memberondongnya tiba-tiba.

“Kan baru tersangka. Belum tentu korupsi. Artinya, belum tentu garong juga. Kita tunggu saja proses hukumnya. Siapa tahu dia bebas.” Saya menjawab normatif saja.

Kutipan pertama ialah komentar seorang penumpang kereta api tujuan Gambir-Solo, yang duduk persis di sebelah saya. Ia mengomentari foto utama Wakil Ketua DPR Taufik Kurniawan di halaman depan Media Indonesia edisi Sabtu (3/3) yang ditahan KPK, yang tengah saya baca.

Taufik mengenakan rompi warna jingga, uniform tahanan KPK dan kopiah hitam. Senyumnya selalu mengembang, langkahnya pasti, dan tak menjauh dari kerubutan wartawan. Politikus Partai Amanat Nasional itu tak sedikit pun memperlihatkan rasa jeri. Banyak tahanan KPK serupa itu; kerap pula mereka melambaikan tangan kepada khalayak.

Pantas pula laki-laki berbadan langsing itu, yang saat berkenalan menyebutkan namanya Sriyanto, berkomentar dengan nada tinggi. Tanpa basa-basi. Penumpang lain di depan dan belakang tempat duduk kami, tentulah mendengar dengan jelas. Ia tak peduli.

Ia sudah setahun ini tak mau lagi menyebut pejabat korupsi sebagai koruptor. Ia menyebutnya garong atau begal. “Koruptor itu seperti punya konotasi biasa saja. Tak punya efek apa pun. Lebih pas sebut aja garong atau begal,” katanya berapi-api.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2011), garong berarti perampok; kawanan pencuri (penyamun, dst).’ Dalam Tesamoko Tesaurus Bahasa Indonesia (2016), garong ialah penjarah, penyamun, perampok.

Ternyata kosakata garong ialah singkatan gerombolan romusha ngamuk. Syahdan, jalur Tagogapu-Padalarang, Jawa Barat, 1945-1947, jadi jalur yang amat ditakuti, khususnya di sore hari. Pasalnya, waktu-waktu serupa itu, hingga malam hari, hampir seluruh gerombolan bersenjata mulai beroperasi.

Para garong itu kelompok-kelompok liar, yakni bekas romusha, para pekerja paksa di era pendudukan Jepang yang kembali pulang dari kerja di berbagai negara. Termasuk salah satunya pulang dari Thailand. Para garong itu terdiri atas kelompok-kelompok bersenjata yang tidak bergabung dengan tentara dan laskar (Republik) atau Belanda.

Yang membuat masyarakat tak pernah mengerti, kenapa mereka melakukan aksi kriminal dan tak segan-segan melukai korbannya. Mereka memang bersenjata api laras pendek.

Garong juga tak peduli korbannya dari pihak Republik atau Hindia Belanda. Wajar pula mereka dicari pihak keamanan Republik dan terus diburu Belanda.

Selain di Sumedang, praktik garong di masa Revolusi juga terjadi di Karesidenan Banyumas, Jawa Tengah. Seperti ditulis M Alie Humaide, peneliti LIPI, Gaboengan Romusha Ngamoek: Pertarungan Kekerasan di Kaki Pegunungan Dieng Banjarnegara (1942-1957).

Dalam penelitiannya, Humaedi menemukan adanya kelompok-kelompok penjahat di wilayah-wilayah, seperti Kalibening, Karangkobar, Batur, Paweden, Pekalongan, Wonosobo, dan Wanayasa. Mereka ialah anak-anak muda yang pernah dipekerjakan oleh bala tentara Jepang di wilayah keresidenan masing-masing.

Di wilayah Banyumas, ternyata  garong ialah nama kelompok yang hampir semuanya penjahat. Mereka melakukan perampokan kepada siapa pun. Tak peduli dengan para korban, tanpa pandang bulu. Ini berkebalikan dengan mereka yang disebut maling suci. Kelompok ini hanya menyasar orang-orang kaya yang pro-Belanda. Mereka pun kerap membagikan hasil aksinya kepada mereka yang tak berpunya.

Namun, tak ada korupsi dengan tujuan suci. Ia sebenar-benarnya kejahatan yang menyengsarakan. Yang praktiknya telah pada tahap amat gawat darurat. Contoh yang amat benderang, ya korupsi tugu antikorupsi di Riau itu.

BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA