Berita Baik BUMN



Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group - 26 October 2018, 05:30 WIB
img

INI good news yang mestinya kita sambut baik. Enam perusahaan nasional Indonesia, empat di antaranya perusahaan pelat merah, masuk daftar terbaik di dunia. Mereka masuk daftar 500 perusahaan terbaik versi majalah bisnis Amerika Serikat, Forbes, bulan ini.

Setidaknya berita baik itu bisa menjadi oasis di tengah bertubi-tubinya para kepala daerah, anggota dewan, dan pengusaha dicokok aparat komisi antirasywah. Korupsi itulah pangkalnya. Berita baik ini juga penting di negeri yang tengah dilanda darurat hoaks.

Yang juga perlu diapresiasi, satu dari empat perusahaan negara itu, yakni PT Bank Mandiri, berada di peringkat ke-11 menyaingi beberapa perusahaan kelas dunia. Bank ini, yang mempunyai karyawan 36.307 orang, memiliki nilai penjualan US$8,1 miliar dan kapitalisasi pasar US$24,1 miliar. Mandiri mengalahkan Japan Exchange Group (Jepang), MGM Resort (AS), China Petrolium Engneering (Tiongkok), Siemens (Jerman), dan Volkswagen Group (Jerman).

Urutan berikutnya ialah PT Telkom Indonesia (persero) yang berada di peringkat ke-112 dunia, yang memiliki pegawai 24.065 orang, dengan nilai penjualan US$9,6 miliar dan kapitalisasi pasar US$25,8 miliar. Lalu PT Bank Negara Indonesia (persero) Tbk di peringkat 157 yang memiliki pegawai 27.083 orang dengan nilai penjualan US$4,9 miliar dan kapitalisasi pasar sebesar US$11,1 miliar.

PT Bank Rakyat Indonesia (persero) Tbk berada di peringkat 186. Mereka mempunyai karyawan sebanyak 60.683 orang, dengan nilai penjualan US$9,3 miliar dan kapitalisasi pasar US$27,7 miliar. Inilah bank yang paling populer hingga ke pelosok-pelosok Tanah Air.

Selain itu, ada dua perusahaan swasta nasional, yakni PT Bank Central Asia Tbk yang berada di posisi ke-32. Bank itu memiliki 26.962 karyawan, dengan nilai penjualan US$5,2 miliar dan kapitalisasi pasar US$40,2 miliar. Adapun PT Gudang Garam Tbk berada di peringkat 109 dengan 35.272 karyawan serta nilai penjualan US$6,3 miliar dan kapitalisasi pasar US$9,7 miliar.

Sebenarnya bukan kali ini saja korporasi Indonesia masuk daftar bergengsi di Forbes. Pada 2016 BRI dan Bank Mandiri juga menjadi dua bank pelat merah yang mendapat apresiasi di majalah tersebut. Hanya peringkatnya masih jauh, di posisi 429 dan 462. BNI bahkan di posisi ke-1.063.

Hasil survei yang dirilis Forbes ini didasarkan pada penilaian 430 ribu pegawai dari seluruh dunia. Para pegawai diminta untuk memberikan nilai pada perusahaan tempat mereka bekerja; seberapa besar mereka mau merekomendasikan tempat kerja mereka ke sahabat atau keluarga.

Kita sepakat pengakuan sekaligus apresiasi dunia perusahaan BUMN kita bisa bersaing dan bersanding dengan perusahaan global. Ini menjadi bukti perusahaan pelat merah bukan berkelas medioker. Mitos bahwa perusahaan negara tak bisa dipercaya karena kompetensinya rendah, terjawab sudah. Mitos perusahaan negara tak kreatif dan inovatif tentu akan menjadi sebuah cerita lama. Cerita barunya ialah mereka memenangi persaingan.

Menurut Direktur Utama Bank Mandiri Kartika Wirjoatmodjo, pencapaian  dalam peringkat World's Best Employers versi Forbes ini karena perseroan terus berupaya meningkatkan pengembangan karyawan, baik dari aspek kebahagiaan, kapabilitas, maupun produktivitas.

"Kebahagiaan karyawan itu penting dan menjadi bagian dari fokus strategis manajemen. Kami percaya pegawai yang happy, kapabel, engage, dan produktif adalah kunci keberhasilan manajemen dalam jangka panjang," katanya seraya menambahkan di Mandiri ada sekitar 60%-70% pegawai yang masuk kategori milenial.

Dua tahun lalu Menteri Keuangan Sri Mulyani mengingatkan bahwa Indonesia memiliki ukuran ekonomi atau produk domestik bruto (PDB) senilai US$862 miliar. Ia memperkirakan ekonomi Indonesia akan menduduki rangking tujuh besar dunia, sejajar dengan AS dan Tiongkok pada 2030. Artinya, harus semakin banyak perusahaan Indonesia berkelas dunia.

Menurut Sri pula, BUMN mencerminkan aset yang bisa dibanggakan sebuah negara dan menjadi pemain kelas dunia. Ia mengingatkan, misi BUMN bukan sekadar berorientasi pada keuntungan, melainkan juga sebagai agen pembangunan; harus profesional, kompetitif, dan muaranya menciptakan kesejahteraan rakyat. Bukan semata kesejahteraan para eksekutifnya.

 

BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA