Ratna, Amien, Hanum



Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group - 12 October 2018, 05:30 WIB
img

SUDAH satu pekan drama dusta Ratna Sarumpaet mengemuka. Ada banyak tanya, akan seperti apa dan kapan kasus Ratna berakhir? Ada yang berdebar, bagaimana jika itu memang sebuah konspirasi pihak Prabowo dan kemudian kelindan yang menyangkut tokoh-tokoh penting itu terurai.

Mungkinkah pula ia penyusup dari kubu Jokowi untuk menjadi 'kuda troya' seperti sebuah tuduhan kubu Prabowo?

Jika menjawab seperti apa, tentu berkaitan dengan hasil sidang di mahkamah. Ia bersalah atau tidak bersalah; dan siapa saja yang terlibat dalam pusaran drama dusta itu. Jika menjawab kapan berakhir, tentu seberapa tergantung proses persidangan, kondisi kesehatan Ratna, berapa banyak saksi, dan penggalian bukti-bukti, yang menurut Mahkamah Agung maksimal lima bulan.

Dalam sebuah acara di sebuah televisi, Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah yang selama ini keras mengkritik Jokowi meminta kasus Ratna dihentikan. Alasannya, Ratna sudah meminta maaf dan ia sudah berusia tua. Namun, permintaan itu dinilai naif dan tidak ada penghormatan pada konsistensi.

Menurut politikus kubu Jokowi, Budiman Sudjatmiko, ketika merugikan kelompoknya, Fahri minta proses hukum dihentikan. Padahal, dusta Ratna nyaris membakar rumah Indonesia. Ratna semula sosok di kubu Prabowo. Ia perempuan, pegiat seni, demokrasi, dan hak asasi manusia. Ini jadi amat penting di kubu Prabowo yang kerap dikaitkan dengan pelangggaran HAM di masa silam.

Namun, ia telah membuat mala. Bisa jadi ia akan dibiarkan sendirian menghadapi kelancungannya. Ia minta aparat penegak hukum fokus pada dirinya, bukan pada yang lain. Namun, hukum bukan ditentukan oleh permintaan tersangka, melainkan pada bukti-bukti di persidangan.

Sosok yang semula amat dipuji, kini mulai dinegasi. Luka wajahnya yang mengundang simpati, kini menjadi antipati. Lalu, bagaimana mereka yang berkumpul membawa gambar wajah Ratna yang penuh gurat luka dan berikrar untuk menuntut negara bertanggung jawab?

Jika kubu Prabowo merasa menjadi korban dusta Ratna, sesungguhnya kecerobohan itu bukan kali ini saja. Ratna setidaknya dua kali menyebar hoaks, yakni soal PT Digantara Indonesia telah dijual kepada Tiongkok dan dana nasabah Rp23,9 triliun untuk Papua yang disalurkan Bank Dunia diblokir pemerintah Indonesia.

Kedua institusi itu membantahnya, Ratna minta maaf. Agaknya Ratna tengah menikmati post truth, laku yang menomorsatukan bicara, tak peduli fakta-fakta.

Yang juga merisaukan saya terkait dengan kasus Ratna; pertama, yang berkaitan dengan Amien Rais. Yang kedua, yang berkaitan dengan Hanun Salsabiela Rais, putri tokoh reformasi itu, sebab bawah sadar saya kerap mengatakan reformasi ini identik dengan Amien Rais.

Kepadanya masih berharap reformasi diteguhkan kembali, direvitalisasi. Saya menyesalkan Amien, yang membiarkan massa aksi para pendukungnya menggeruduk Polda Metro Jaya, tempat Amien diperiksa.

Betapa pun hukum kerap dinilai masih pandang bulu, sekelas Amien Rais mestinya memberi keteladanan. Karena diperiksa, Amien mengancam akan membuka skandal korupsi di KPK. Ia meminta Presiden Jokowi memecat Kapolri Tito Karnavian yang ramai diberitakan ada indikasi terima uang Dirut CV Sumber Laut Perkasa Basuki Hariman ketika ia menjadi Kapolda Metro Jaya.

Polri membantahnya. Sayangnya, Amien mengancam itu ketika dipanggil polisi, hanya sebagai saksi. Tahun lalu nama Amien juga muncul di pengadilan tipikor dengan terdakwa kasus korupsi alat kesehatan mantan Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari.

Dalam surat tuntutan jaksa KPK, sejumlah uang yang diterima sebagai keuntungan pihak swasta disebut mengalir ke rekening Amien sebanyak Rp600 juta pada 2007. Amien mengakui menerima uang itu dari Ketua Umum PAN Soetrisno Bachir, dan membantah uang hasil korupsi.

Dalam kasus Ratna, sesungguhnya Hanum Rais sudah diingatkan bahwa itu dusta. Namun, di Twitter 3 Oktober ia berkicau, "Saya juga seorang dokter. Saya melihat, meraba, dan memeriksa luka Bu Ratna kemarin. Saya bisa membedakan mana gurat pascaoperasi dan pasca-dihujani tendangan, pukulan. Hinalah mereka yang menganggap sebagai berita bohong. Karena mereka takut kebohongan yang mereka harapkan sirna oleh kebenaran."

Kini, ia merasa sebagai korban kebohongan Ratna. Ia memang meminta maaf atas keteledorannya. Ia mengaku sebagai korban.

Padahal, ia sudah diingatkan, tetapi membalas pihak yang mengingatkan sebagai hina. Juga, bukankah Ratna berada di kubu Prabowo yang Hanum sendiri ada di dalamnya?

Saya tak berharap banyak kepada yang lain. Akan tetapi, kepada Amien Rais dan keluarganya, saya memang menuntut lebih. Kini empat dari lima anak Amien Rais, termasuk Hanum, menjadi caleg yang akan berkompetisi di Pemilu 2019. Ada jejak nepotisme yang lekat di sini, yang dulu ia teriakkan. Ada ketidakikhlasan juga Amien Rais kini berada satu kubu dengan Partai Berkarya milik keluarga Candana yang dulu menjadi musuh utama reformasi yang dimotorinya.***

BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA