Balon pun Mengempis



Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group - 20 June 2018, 05:30 WIB
img

KOMITE Pasar Terbuka Federal Reserve (FOMC) pekan lalu memutuskan untuk menaikkan Federal Funds Rate sebesar 25 basis poin menjadi 2%. Perkembangan ekonomi Amerika yang ditandai dengan bertambahnya lapangan pekerjaan dan turunnya angka pengangguran serta tingkat inflasi yang berada pada kisaran 2% membuat bank sentral merasa perlu untuk terus mendorong terbukanya lapangan pekerjaan secara maksimum dan menjaga stabilitas harga.
           
Keputusan FOMC untuk menaikkan tingkat suku bunga ibarat balon yang sudah lama ditunggu untuk pecah. Seperti sudah diduga, Federal Reserve tidak berani berspekulasi untuk membuat balon itu meledak besar. Mereka memilih untuk mengempiskan secara perlahan-lahan sehingga tidak terlalu mengejutkan pasar.
           
Karena itulah, rapat FOMC pada 14 Juni lalu tidak membuat pasar uang dunia bergejolak. Bahkan, beberapa mata uang seperti euro dan yen mengalami penguatan karena selama ini sudah terlalu jauh mengalami pelemahan. Merebaknya spekulasi terhadap kebijakan suku bunga yang akan diambil Bank Sentral AS membuat pasar uang bergejolak tanpa ada dasar yang jelas.
          
Memang rapat FOMC juga menetapkan bahwa kenaikan tingkat suku bunga bukan mustahil akan diambil lagi dalam tahun ini. Namun, semua itu akan dilakukan sesuai dengan agenda besar untuk terus mendorong pertumbuhan ekonomi Amerika sekaligus mengendalikan tingkat inflasi.
           
Itulah sebenarnya tugas yang dipikul semua bank sentral di seluruh dunia. Kebijakan moneter merupakan bagian dari kebijakan untuk membuat perekonomian negara bertumbuh lebih baik. Bank sentral bertanggung jawab untuk menjaga stabilitas mata uang dan sekaligus tingkat inflasi.
          
Atas dasar itulah kita menghargai kebijakan yang ditempuh Dewan Gubernur Bank Indonesia untuk tidak menunggu bola. Bank Indonesia akan bertindak lebih aktif untuk membuat kondisi moneter lebih stabil, khususnya dalam menjaga fluktuasi nilai tukar rupiah. Salah satu yang sudah dilakukan ialah menerapkan kebijakan ‘mendahului kurva’ kenaikan tingkat suku bunga di AS.
          
Sekitar satu bulan sebelum FOMC memutuskan menaikkan tingkat suku bunga acuan, BI sudah lebih dulu menaikkan seven-days reverse repo rate. Kenaikan 25 basis poin kedua itu memberi dua keuntungan sekaligus, yakni mengantisipasi kenaikan tingkat suku bunga di AS dan menenangkan nilai tukar rupiah yang sedang bergejolak liar.
           
Gubernur BI Perry Warjiyo dalam program Economic Challenges menjelaskan upaya untuk mengendalikan nilai tukar lebih diutamakan bank sentral karena dampaknya langsung dirasakan masyarakat. Itu berbeda dengan kebijakan penaikan BI Rate yang masih satu tahun kemudian dirasakan masyarakat melalui meningkatnya suku bunga kredit.
           
Perry merasa yakin bila perbankan tidak akan segera menaikkan tingkat suku bunga kredit karena likuiditas yang ada di perbankan masih berlebih. Kalaupun kelak terjadi peningkatan permintaan kredit dari masyarakat, BI masih memiliki kebijakan yang bisa melonggarkan perbankan untuk tidak sampai kekurangan likuiditas.
          
BI akan lebih aktif berkomunikasi dengan pemerintah dalam upaya menggerakkan perekonomian nasional. Melalui komunikasi itu diharapkan kebijakan moneter dan kebijakan fiskal bisa lebih efektif mencapai sasaran. Kredit yang disalurkan perbankan bisa sesuai dengan arah pembangunan industri yang diharapkan pemerintah sehingga bisa meningkatkan ekspor dan menghasilkan devisa yang optimal bagi negara.
          
Selama ini atas nama independensi, BI seperti memiliki dinding pemisah dengan pemerintah. Kebijakan yang ditempuh sering kali tidak sejalan. Padahal, independensi BI itu lebih pada proses mengambil keputusannya, sedangkan tujuan akhirnya sama dengan pemerintah, yakni harus tertuju pada upaya penciptaan kesejahteraan umum seperti digariskan Pembukaan UUD 1945.
          
Kita mendorong keinginan BI untuk lebih aktif membangun komunikasi dengan pemerintah. Apalagi jika kita sadari tantangan besar yang harus kita hadapi dengan perekonomian global. Kemacetan perundingan dagang antara AS dan Tiongkok akan membuat ketidakpastian semakin tinggi. Dana Moneter Internasional pun menyebutkan, awan hitam yang menaungi perekonomian dunia sangatlah menakutkan.
          
Semua tantangan itu tidak mungkin dijawab sendiri-sendiri. Pengusaha Chairul Tanjung sering menyebutkan pentingnya kita untuk bersatu padu dan bergotong royong sebab dengan bersatu pun kita belum tentu bisa menjawab tantangan berat yang ada di depan.
          
Satu hal lagi yang tidak bosan-bosan kita sampaikan ialah perlunya bangsa ini bekerja keras. Thomas Alva Edison selalu mengingatkan, kesuksesan itu hanya 1% ditentukan inspirasi, sisanya yang 99% ditentukan keringat. Keringat itu hanya akan terjadi kalau kita bekerja keras.
          
Setelah hampir dua pekan kita berlibur, saatnya bagi kita untuk bekerja kembali. Kerja itu tentunya bukanlah dengan mencari-cari kesalahan orang lain. Kita harus mengubah sikap dan perilaku bahwa bekerja itu ialah berkarya. Marilah kita berlomba-lomba memberikan yang terbaik bagi negeri ini, bukan terus menerus saling menyalahkan.

 

BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA