Arogansi Pembuat Soal Matematika



Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group - 16 April 2018, 05:30 WIB
img

Melalui media sosial, siswa SMA yang baru menyelesaikan ujian nasional berbasis komputer (UNBK) mengolok-olok Menteri Pendidikan dan Kebudayaan gara-gara soal matematika yang antara lain mereka nilai mengada-ada.

Olok-olok itu bergaya generasi now. Berikut contoh ekspresi mereka, dengan ejaan yang diperbaiki.  "Waduh Pak, dadu dikocok 600 kali. Itu tangan atau blender?" Yang lain menyahut, "Pak, ngocok dadu 600 kali, bukan dadu yang keluar, tapi malah tulang yang keluar." Ada yang menggugat manfaat soal dadu itu.

"Pak, itu dadu dikocok 600 kali faedahnya apa, Pak? Kalau main monopoli, sudah keburu wafat." Relevansi soal ujian dengan iklim Indonesia pun dipertanyakan. "Pak, tolonglah, ngapain saya ngitung jumlah gram NaCl yang ada dalam 1 ton bola salju, Pak. Indonesia kan tropis, Pak. Hadeuhhh lieur."

Ujaran yang berikut ini sangat jelas ditujukan kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. "Pak, Bapak kan menteri, katanya merasakan penderitaan rakyat, ikut UNBK-lah, Pak."

Soal matematika itu seperti bikin siswa SMA sakit jiwa. "Pak, penyelenggaraan UNBK menyediakan asuransi kejiwaan enggak, Pak?" Satu dari ujaran, saya pandang sebagai kesimpulan. Bunyinya, "Pak, tadi saya ke sekolah niatnya ngerjain soal matematika, kok malah jadi soal matematika yang ngerjain saya?"

Cukuplah ujaran siswa SMA itu dikutip sampai di situ. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy meminta maaf kalau ada beberapa kalangan yang menilai soal matematika sulit. Katanya, pemerintah memang menaikkan tingkat kesulitan soal UNBK tahun ini, menerapkan high order thinking skills.

"Dari perspektif kami, soal-soal yang diujikan sudah sesuai dengan kisi-kisi yang sudah ditetapkan," kata Kepala Pusat Penilaian Pendidikan Kemendikbud Muhamad Abduh.

Pertanyaan sebaliknya, bagaimana dengan persepsi siswa? Kutipan ujaran dari media sosial di atas antara lain menunjukkan bahwa soal matematika yang dicemooh siswa bukan tingkat kesulitannya, melainkan dinilai tidak membumi (di negeri tropis menghitung jumlah gram NaCl dalam 1 ton bola salju), serta soal yang mengada-ada (dadu dikocok 600 kali).

Semua itu menunjukkan betapa siswa SMA itu punya daya nalar kritis dan skeptis. Sesungguhnya dan senyatanya terjadi perbedaan persepsi siswa dengan persepsi birokrat, pembuat soal.

Pengambil kebijakan di Kemendikbud tentu tahu benar posisi melek matematika anak Indonesia menurut PISA (The Programme for International Student Assessment). Menurut PISA 2015, skor matematika Indonesia 386, jauh di bawah skor rata-rata 490 dari 72 negara yang disurvei. Kita cuma lebih baik daripada Brasil, Tunisia, Masedonia, Kosovo, Aljazair, dan Republik Dominika.

Hemat saya, kita terutama perlu mencermati hasil survei PISA 2012 yang fokus mengukur matematika. Responden survei meliputi 510 ribu siswa berumur antara 15 tahun 3 bulan dan 16 tahun 2 bulan dari 34 negara anggota OECD dan 31 negara partner. Jumlah itu mewakili 80% ekonomi dunia, mewakili sekitar 28 juta pelajar sejagat dalam usia 15 tahunan.

Hasilnya, melek matematika anak Indonesia berada pada peringkat 64 dari 65 negara. Kita berada nonor dua paling bawah, termasuk 10 terbesar terbawah bersama Kosta Rika, Albania, Brasil, Argentina, Tunisia, Yordania, Kolombia, Qatar, dan Peru.

Skor matematika Indonesia pada PISA 2012 mencapai 375, di bawah skor rata-rata 494. Sejujurnya terjadi kenaikan skor menjadi 386 pada PISA 2015 sekalipun masih di bawah skor rata-rata 490. Kendati demikian, baikkah kita mengoreksi diri agar kelak bila PISA khusus matematika kembali dilakukan, hasilnya rangking Indonesia jauh lebih baik.

Karena itu, perlulah mempersoalkan, sebetulnya apakah yang sedang diukur dari semua soal matematika yang diujikan dalam UNBK 2018? PISA 2012 mengukur melek matematika, bukan hanya kemampuan siswa mereproduksi pengetahuan matematika, melainkan juga kemampuan siswa mengekstrapolasi pengetahuan matematika dan menerapkannya dalam menghadapi situasi baru atau sistuasi yang tidak dikenal.

Hal itu merefleksikan kebutuhan masyarakat modern atau lingkungan kerja, yang menurut mereka, nilai kesuksesan tidak ditentukan apa yang orang tahu, tetapi apa yang orang dapat lakukan dengan apa yang diketahuinya.

Soal mengocok dadu 600 kali dan soal menghitung NaCl dalam 1 ton salju, jelas soal yang tidak berurusan dengan refleksi masyarakat modern. Soal-soal itu hanya mau menunjukkan arogansi matematika pembuat soal. Pak Menteri telah minta maaf, kita maafkan. Akan tetapi, sikap defensif dan arogansi jajaran di bawahnya perlu ditegur keras.

 

BERITA TERKAIT