Polkam dan HAM

Bareskrim Mulai Selidiki Laporan Antasari dan SBY

Jum'at, 17 February 2017 17:58 WIB Penulis: Nicky Aulia Widadio

ANTARA

DIREKTORAT Tindak Pidana Umum Polri telah menerima laporan dari mantan Ketua KPK Antasari Azhar dan Presiden ke-6 Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono. Bareskrim juga telah membentuk tim penyelidik untuk mengusut kedua laporan tersebut.

Kepala Bagian Penerangan Umum Divisi Humas Polri Komisaris Besar Martinus Sitompul mengatakan penyidik telah menerima pelimpahan laporan dari Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Bareskrim, kemarin (Jumat). Selanjutnya langkah penyelidikan akan dimulai.

"Hari ini telah diserahkan ke Dit Tipidum untuk penyelidikan laporan yang ada. Dalam prosesnya ingin diketahui apakah laporan itu sebuah tindak pidana atau tidak," kata Martinus di Mabes Polri Jakarta Selatan, Jumat (17/2).

Sebelumnya, Antasari menyampaikan laporan dengan dugaan persangkaan palsu ke Bareskrim Polri. Usai melaporkan, ia menyampaikan keterangan pers dan menyebut SBY sebagai inisiator dari kasusnya. Sebagai timbal balik, pihak SBY kemudian melaporkan Antasari atas dugaan fitnah dan pencemaran nama baik.

Hingga Jumat sore, polisi belum menjadwalkan pemanggilan terhadap pelapor maupun saksi-saksi terkait. Martinus mengatakan penyidik tentunya akan menggali keterkaitan laporan tersebut dengan materi yang telah disidangkan dan dinyatakan inkracht.

"Jika terkait dengan materi yang udah disidangkan ini akan jadi pertimbangan apakah pidana atau gak. Kalo gak terkait keterangan apa yang dukung dugaan ini dicari," jelasnya.

Sebelumnya, mantan ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Antasari Azhar mengklaim vonis bersalah terhadap dirinya atas kasus pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen pada 2009 silam merupakan bentuk rekayasan dan kriminalisasi.

Pada laporan yang disampaikan pada Selasa (14/2) tertulis bahwa Antasari melaporkan dugaan tindak pidana persangkaan palsu dan pejabat yang sengaja menggelapkan atau membuat tidak dapat dipakai barang-barang yang diperuntukkan guna meyakinkan dan atau membuktikan di muka penguasa yang berwenang.

Menurutnya, pengusutan tuntas terhadap kasus ini bergantung pada keberanian penyidik. "Apakah penyidik berani mintai keterangan petingginya dulu?," kata Antasari.(OL-4)

Komentar