Megapolitan

Suara Golput Lebih Menarik Ketimbang Agus-Sylvi

Jum'at, 17 February 2017 13:26 WIB Penulis: Golda Eksa

Koordinator Nasional Jaringan Pendidikan Pemilih untuk Rakyat (JPPR) Masykurudin Hafidz berbicara dalam konperensi pers terkait temuan pantauan dalam Pilkada DKI Jakarta di Jakarta, Rabu (15/2). -- MI/Susanto

KOORDINATOR Jaringan Pendidikan Pemilih untuk Rakyat (JPPR) Masykurudin Hafidz menyarankan kepada tim pemenangan paslon Basuki-Djarot dan Anies-Sandi yang dipastikan lolos ke putaran dua Pilkada DKI, untuk memerhatikan potensi suara golongan putih (golput) ketimbang berebut suara paslon Agus-Sylvi.

Menurutnya, partisipasi pilkada di Ibu Kota mencapai 78% atau meningkat sebanyak 8% dan cukup signifikan dibanding ajang serupa pada 2012. Bahkan, angka golput sebesar 23% juga dipandang lebih tinggi dari perolehan suara Agus-Sylvi, yakni 17%.

"Kepastian adanya putaran kedua, menimbulkan pertanyaan kemana suara Agus-Silvi berlabuh dan kemana partai politik pendukungnya mengalihkan dukungan. Hasil hitung cepat dan rekapitulasi C1 yang tidak jauh berbeda mempercepat perbincangan di tingkat elite perubahan peta koalisi dukungan selanjutnya," ujar Masykurudin, Jumat (17/2).

Dalam menentukan pilihan, lanjut dia, masyarakat Jakarta tidak hanya mendasarkan pada satu pertimbangan saja. Pasalnya koalisi partai politik pendukung hanya menjadi salah satu referensi dalam menentukan pilihan.

Tidak hanya itu, perolehan suara paslon juga tidak selalu berbanding lurus dengan perolehan partai politik koalisi. Sebagai contoh, perolehan suara Agus-Silvi dalam laman C1 KPU pada 17 Februari hingga pukul 11.30 WIB hanya mendapatkan 895.113 suara (95% data masuk).

Bahkan, tambah dia, apabila dibandingkan dengan gabungan antara parpol pengusung Agus-Sylvi, seperti Partai Demokrat, PKB, PPP dan PAN, maka perolehan suara di DPRD mencapai 1.246.069. Hal ini menunjukkan bahwa pertimbangan dalam memilih cenderung mendasarkan dari banyak faktor.

Selain itu, ada pula sekitar 23% pemilih yang tidak menggunakan hak pilihnya. Terdapat 1,5 juta suara pemilih yang tidak hadir di TPS dan sangat potensial untuk menentukan pilihan di putaran dua nanti. Maklum, mayoritas kelompok golongan putih belum cukup teryakinkan atas pilihannya untuk disuarakan di TPS.

Meyakinkan kelompok golongan putih untuk datang ke TPS dan menentukan pilihannya adalah cara terbaik bagi pasangan calon untuk meraih kemenangan. Oleh karena itu, dalam masa kampanye putaran kedua berikutnya, pasangan calon perlu lebih kuat menajamkan visi, misi, dan programnya untuk meyakinkan pemilih golongan putih.

"Meyakinkan masyarakat agar datang ke TPS untuk membuktikan pilihannya jauh lebih mudah daripada berusaha mengubah pilihan sebelumnya," pungkas dia. (OL-1)

Komentar