Megapolitan

Pulogebang Akhirnya Menggeliat

Jum'at, 17 February 2017 04:45 WIB Penulis: Akmal Fauzi

MI/RAMDANI

PERLAHAN tapi pasti, Terminal Pulogebang yang berlokasi di Cakung, Jakarta Timur, kini semakin ramai.

Peningkatan jumlah penumpang diimbangi dengan jumlah perusahaan otobus (PO) yang beroperasi di terminal terbesar se-Asia Tenggara itu.

Memasuki 2017, terjadi peningkatan drastis di terminal dengan luas area 12,5 hektare tersebut.

Penanggung Jawab Area Keberangkatan Terminal Pulogebang Anwar Manshur membenarkan itu berdasarkan angka yang dia miliki.

Pada Januari 2017 tercatat 151.794 penumpang tiba dan berangkat dari Pulogebang dengan perincian 63.374 berangkat serta 88.420 datang.

Pada Desember 2016 masih di kisaran 100 ribu.

"Jumlah busnya juga naik dari 6.658 pada November 2016 menjadi 9.638 pada Januari 2017," cetusnya, pekan lalu.

Kenaikan demikian cepat lantaran pemindahan bus antarkota antarprovinsi (AKAP) di sejumlah wilayah terminal bayangan.

Apalagi, ultimatum Kementerian Perhubungan akan mencabut izin PO yang tidak pindah ke Terminal Pulogebang.

"Ini tidak lepas dari upaya penertiban terminal bayangan di sejumlah lokasi di Jakarta serta tentunya perbaikan sejumlah fasilitas di terminal," ujar Anwar.

Terminal Pulogebang bukan hanya diperuntukkan tempat pemberangkatan dan pemberhentian bus, melainkan juga untuk mengurai kemacetan.

Pembenahan terminal menjadi demikian modern merupakan cara pemerintah agar masyarakat mendapatkan transportasi publik yang terintegrasi, aman, dan nyaman.

Bangunan megah dengan konsep modern dan multilevel membuat Pulogebang hampir menyamai kemegahan bandara.

Terminal bertingkat empat itu dilengkapi lift, eskalator, pintu otomatis, dan kamera pengawas.

Lantai keramik dan fasilitas pendingin (AC) di ruang tunggu penumpang menambah rasa nyaman.

Terminal Pulogebang yang dibangun pada 2010 memiliki empat blok di gedung paling atas.

Blok A tempat istirahat awak bus AKAP. Luasnya mencapai 996,1 meter persegi.

Selanjutnya Blok B untuk ruang tunggu penumpang merupakan area keberangkatan bus AKAP.

Blok itu memiliki 9 pintu dengan jumlah jalur 28 unit bus dan luas area 1.824 meter persegi.

Blok C merupakan area kedatangan bus AKAP dan bus dalam kota.

Luasnya 2.880 meter persegi, memiliki 14 pintu, dan 16 jalur bus dalam kota. Di sini dapat menampung 58 bus dalam kota.

Terakhir, Blok D merupakan area bus Trans-Jakarta koridor 11 yang melayani rute Kampung Melayu-Pulogebang. Luasnya 409,15 meter persegi.

Transaksi meningkat

Berdenyutnya Terminal Pulogebang terlihat juga dari transaksi di kios-kios yang penuh pedagang mulai kuliner hingga aksesori.

Wardani, seorang pedagang makanan, mengaku, sejak Januari 2017 terminal mulai ramai sehingga membuat omzetnya semakin meningkat.

"Saya menempati kios ini sejak Desember 2016. Awalnya omzet cuma Rp200 ribu- Rp300 ribu per hari, sekarang naik jadi Rp700 ribu," katanya berseri-seri.

Wakil Kepala Dishub DKI Jakarta Sigit Wijatmoko menyatakan Terminal Pulogebang melayani bus AKAP tujuan Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatra, Merak, Bali, serta Nusa Tenggara Barat.

"Kartu pengawasan bus PO dari Terminal Pulo Gadung yang pindah ke Pulogebang sudah dicetak. Jadi sudah tidak ada lagi terminal bayangan bus AKAP," ujar Sigit.

Sementara itu, Kepala Unit Pengelola Terminal Pulo Gadung Joni Budhi mengatakan pihaknya juga ikut menertibkan bus AKAP yang masuk Terminal Pulo Gadung.

"Praktis di terminal ini tidak beroperasi lagi bus AKAP. Semua bus sudah pindah ke Terminal Pulogebang. Tadi terakhir 16 PO sudah dipindahkan," ujar Joni.

Dari pantauan Media Indonesia, lajur yang sebelumnya diperuntukkan bus AKAP di Terminal Pulo Gadung dialihkan ke armada mikrolet.

Loket-loket penjualan tiket bus AKAP pun sudah dibongkar. Di teminal tersebut kini hanya melayani rute angkutan dalam kota. (J-2)

Komentar