Megapolitan

Anggota DPRD DKI Dipukul di TPS 18 Petojo Utara, Begini Kronologisnya

Kamis, 16 February 2017 21:56 WIB Penulis: Intan Fauzi

thinkstock

ANGGOTA DPRD DKI Jakarta Pandapotan Sinaga mengaku mendapatkan tindakan kekerasan saat memantau pelaksanaan pemungutan suara di TPS 18 Kelurahan Petojo Utara, Gambir, Jakarta Pusat, Rabu (15/2). Awalnya, Pandapotan diusir karena mengenakan baju kotak-kotak.

Pandapatan menceritakan, pada hari pencoblosan 15 Februari 2017 selaku Ketua DPC PDI Perjuangan Jakarta Pusat dan Koordinator daerah pemenangan paslon nomor urut dua Basuki-Djarot, ia memantau TPS yang berada di Jakarta Pusat. Tiba di TPS 18 Petojo Utara, Pandapotan tak mendapati saksi paslon Basuki-Djarot mengenakan baju kotak-kotak.

"Kemudian sekitar pukul 10.30 WIB tiba di TPS dan melihat saksi paslon dua tak memakai baju kotak. Sesuai Surat Edaran KPU DKI Jakarta nomor 162 poin 12 tanggal 13 Februari 2017, saya bertanya pada saksi paslon dua kenapa tidak memakai baju kotak-kotak," kata Pandapotan di Rumah Borobudur, Jakarta Pusat, Kamis (16/2).

Untuk diketahui, Surat Edaran dari KPU DKI Jakarta Nomor 162 poin 12 menyebutkan bahwa saksi diperbolehkan mengenakan pakaian yang mencirikan paslon sepanjang tidak memuat nomor, nama, dan gambar paslon atau partai politik.

Kemudian Pandapotan diusir oleh tim panitia pengawas pemilu (panwaslu) dengan alasan mengenakan baju kotak-kotak. Seorang panwaslu menghampirinya dan mengatakan akan membuat berita acara.

"Lalu saya turun dari lokasi TPS, karena TPS itu di sebuah ruko, saya turun ke bawah diintrogasi oleh orang yang membuat suasana seakan-akan saya buat keributan di TPS," ujar Pandapotan.

Pandapotan pun menjelaskan perannya di sana. Tak percaya, panwaslu memintanya menunjukkan kartu identitas. Tertulis dalam KTP bahwa Pandapotan merupakan anggota DPRD DKI.

Panwaslu pun meminta Pandapotan mengeluarkan Kartu Tanda Anggota (KTA). Karena tak biasa mengantongi KTA, Pandapotan tak bisa menunjukkannya.

"Setelah itu tiba-tiba datang segerombolan orang kurang lebih 50 meter dari TPS mendorong dan menyatakan saya anggota DPRD gadungan," jelasnya.

Meski dikatai demikian, Pandapotan tak tersulut. Dalam video yang ditunjukan tim Advokasi BaDja, Pandapotan nampak hanya diam mendengar cacian orang-orang di sekelilingnya.

Kemudian, tak lama ada seorang pria yang mendaratkan kepalanya di kening Pandapotan. "Yang menurut info setelah melaporkan ke ramah hukum, dia ketua RW 07," ungkapnya.

Selanjutnya ada lagi yang menarik leher Pandapotan. Kemudian tak lama barulah pohak kepolisian datang. Namun kekerasan verbal terhadap Pandapotan tak berhenti di situ.

"Tak puas caci maki saya, setengah jam datang polisi jemput saya, saat saya mau ke polsek, mereka belum puas, bilang 'jangan dibawa, habisin dulu di sini'," ungkap dia.

Tim Advokasi BaDja telah melaporkan tindakan kekerasan fisik maupun verbal terhadap Pandapotan ke Polsek Gambir dan Polda Metro Jaya segera setelah tindakan itu terjadi. Tim melampirkan bukti berupa video dan keterangan dari kepolisian yang menyaksikan kejadian itu dari awal sampe akhir.

Anggota DPR dari fraksi PDI Perjuangan, Masinton Pasaribu menyesalkan kejadian itu. Apalagi kekerasan fisik diduga dilakukan oleh seorang Ketua RW.

"Pelakunnga ketua RW yang seharusnya menjadi pamong masyarakat di wilayah menjaga situasi kondusif, malah menjadi pelaku provokasi melakukan tindakan kekerasan fisik maupun verbal," tegas Masinton.MTVN/OL-2

Komentar