| Home | 20-05-2012 |
JAKARTA--MICOM: Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, Bhineka Tunggal Ika, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) menjadi harga mati tanpa tawar-menawar bagi bangsa ini. Setidaknya itulah yang menjadi dasar lahirnya sebuah buku karya Taufiq Kiemas Empat Pilar untuk Satu Indonesia yang diluncurkan di Komplek Parlemen DPR RI, Senayan, Jakarta, Rabu (22/2).
"Mudah-mudahan apa yang selalu dikomunikasikan dan disosialisasikan mengenai empat pilar ini bisa membawa kebaikan," kata Taufiq Keimas di depan para tokoh nasional yang hadir seperti Akbar Tandjung, Surya Paloh, Adnan Buyung Nasution, Theo L Sambuaga, Buya Safii Maarif, dan sang istri Megawati Soekarnoputri.
Dalam buku ini mengingatkan bangsa Indonesia dalam bagaimana mengemas kehidupan bernegara ketika timbul beragam konflik sosial ditengah masyarakat. Buku ini seakan menyapa dan menegur kehilafan sebagai seorang individu yang berada dalam negara kesatuan yang berdasarkan Pancasila dan UUD '45.
Keragaman yang ada ditampilkan lewat gambaran kebhinekaan yang disodorkan seorang Taufik sebagai figur nasional dengan memberikan ciri identitas bangsa terutama dalam kepekaannya menghadapi era globalisasi yang serba cepat.
Akbar Tandjung melihat buku ini akan diterima masyarakat luas karena memperlihatkan bagaimana setiap individu hidup di bumi pertiwi. "Yang diberikan Pak Taufiq menadi sumbangan berharga selain menjadikan lembaga ini (MPR) berwibawa. Taufiq adalah seorang tokoh yang diterima semua elemen masyarakat tanpa kecuali," ujar Akbar saat memberikan testimoninya.
Tokoh nasional Surya Paloh memandang Taufiq sebagai seorang sosok yang extra ordinary. Dengan pemikirannya yang segar, bangsa ini butuh regenerasi tokoh layaknya Taufiq.
"Perjalanan bangsa ini butuh pemikiran segar yang harus selau dikomunikasikan, dan kita tetap sepakat agar parlemen mampi menjada amanah masyarakat. Empati masyarakat masih jauh dari yang diharapkan, dan buku ini mampu mengingatkan kita untuk berpegang teguh pada Pancasila," tegas Surya.
Praktisi hukum senior yang juga memberikan testimoni Adnan Buyung Nasution, menilai wacana Empat Pilar ini tidak hanya menarik tapi juga sangat penting dan strategis untuk dibahas. "Hanya perlu ditambahkan satu pilar lagi, yaitu negara hukum yang demokratis karena kita negara monarki bukan negara agama tapi secara konstitusional adalah negara hukum yang demokratis. Ini harus dipertahankan," pungkasnya. (HZ/OL-2)
+ Back to Top